Wall Street Terbebani Pesimisme Stimulus, S&P 500 Akhiri Keperkasaan Tujuh Sesi Beruntun
Wednesday, August 12, 2020       04:36 WIB

Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street berbalik arah, Selasa, untuk mengakhiri sesi di zona merah, dengan ketiga indeks utama jatuh dan S&P 500 ditutup lebih rendah untuk pertama kalinya dalam delapan hari, karena pelemahan saham raksasa teknologi.
Indeks berbasis luas S&P 500 ditutup 0,8% lebih rendah atau 26,78 poin menjadi 3.333,69 untuk hari terburuknya sejak 23 Juli, demikian laporan   CNBC   dan  AFP,  di New York, Selasa (11/8) atau Rabu (12/8) pagi WIB. Di awal sesi, S&P 500 menguat sebanyaknya 0,6% dan diperdagangkan hanya setengah persen dari rekor  intraday  3.393,52 pada 19 Februari.
Nasdaq Composite Index "melempem", anjlok 1,69% atau 185,53 poin menjadi 10.782,82. Dow Jones Industrial Average mengembalikan reli lebih dari 300 poin menjadi ditutup turun 104,53 poin, atau 0,38%, di 27.686,91.
Saham Facebook dan Amazon masing-masing menyusut lebih dari 2% bersama dengan Microsoft. Apple dan Netflix masing-masing melorot 3,4% dan 3%. Alphabet turun 1,1%. Pelemahan tersebut mengimbangi keuntungan dari saham yang diuntungkan dari pembukaan kembali ekonomi.
Saham Gap melesat lebih dari 2% dan Norwegian Cruise Line melejit 3,4%. Wynn Resorts dan Simon Property juga ditutup menguat.
S&P 500 dan Dow diperdagangkan lebih tinggi di awal sesi setelah kantor berita lokal melaporkan Presiden Rusia Vladimir Putin mengklaim negaranya memberikan persetujuan regulasi bagi vaksin Covid-19 pertama di dunia.
Meski ada keraguan tentang apakah Rusia telah mengembangkan vaksin yang aman begitu cepat, berita tersebut memicu optimisme dari investor tentang perlombaan untuk inokulasi dan mungkin pasar tidak memperhitungkan seberapa cepat vaksin yang valid bisa siap digunakan.
Eksekutif Johnson & Johnson juga mengatakan kepada  Reuters  bahwa perusahaannya dapat menghasilkan 1 miliar dosis dari kandidat vaksinnya jika terbukti berhasil.
"Pasar menantikan hari-hari yang lebih baik ke depan," kata Jeff Buchbinder, analis LPL Financial. "Meski waktunya tidak pasti, pasar saham menyatakan keyakinan bahwa pandemi pada akhirnya akan berakhir dengan vaksin -- atau beberapa vaksin -- dan dengan bantuan dari perawatan yang lebih baik untuk sementara."
Goldman Sachs selama akhir pekan menaikkan prospek pertumbuhan ekonominya, memprediksi setidaknya satu vaksin disetujui pada akhir tahun ini dan distribusi obat yang meluas pada kuartal kedua 2021.
Dennis DeBusschere, analis Evercore ISI, juga menunjukkan bahwa tingkat rawat inap terkait virus korona mengalami penurunan tajam baru-baru ini.
Meski begitu, investor masih bergulat dengan nasib yang tidak pasti dari stimulus virus korona lebih lanjut yang bertujuan untuk mendukung warga Amerika yang mengalami tekanan selama pandemi tersebut.
Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin, Senin, mengatakan Gedung Putih terbuka untuk melanjutkan pembicaraan bantuan virus korona dengan Demokrat dan meletakkan lebih banyak anggaran untuk mencapai kompromi.
Namun, Pemimpin Mayoritas Senat dari Partai Republik, Mitch McConnell, mengatakan negosiasi dengan Demokrat menemui jalan buntu, Selasa.
"Hari kembali berlalu dengan kebuntuan dan mereka harus bertemu," kata McConnell.
Analis mengatakan pedagang beroperasi dengan asumsi kesepakatan paket anggaran darurat hanyalah masalah waktu.
Quincy Krosby, analis Prudential, mengatakan koreksi tersebut dipicu pesimisme McConnell, tetapi mencatat bahwa "Ini adalah volume pasar yang lebih rendah mengingat jeda musim panas, dan reaksi pasar dapat bergerak lebih tinggi dan lebih rendah dengan lebih cepat."
Selama akhir pekan lalu, Presiden Donald Trump menandatangani empat perintah eksekutif untuk memperpanjang beberapa bantuan virus korona, termasuk tunjangan pengangguran, pembebasan pajak gaji, menunda pembayaran pinjaman siswa hingga 2020 dan memperpanjang perlindungan penggusuran federal. (ef)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM