Wall Street Tergelincir, Dolar Bangkit dari Posisi Terendah Dua Setengah Tahun
Tuesday, December 01, 2020       04:26 WIB

Ipotnews - Dolar bangkit dari level terendah dalam dua setengah tahun, Senin, karena sentimen risiko yang luas memburuk lagi dan saham Wall Street jatuh, di mana investor kecewa dengan melemahnya data ekonomi Amerika dan tidak adanya daya tarik pada paket stimulus lain.
Namun,  greenback  mencatat penurunan 2,3% pada November, persentase kerugian bulanan terbesar sejak Juli, demikian laporan  Reuters,  di New York, Senin (30/11) atau Selasa (1/11) pagi WIB.
"Kita melihat data ekonomi Amerika Serikat melemah lebih lanjut," kata Edward Moya, analis OANDA di New York. "Dan belum ada tanda-tanda bahwa kita akan melihat Kongres memberikan paket stimulus dalam waktu dekat."
Data makro Amerika yang dirilis Senin menunjukkan kontrak untuk membeli rumah yang sebelumnya dimiliki merosot untuk bulan kedua berturut-turut pada Oktober, dengan Pending Home Sales Index, berdasarkan kontrak yang ditandatangani bulan lalu, anjlok 1,1% menjadi 128,9.
Data lain menunjukkan aktivitas pabrik di kawasan Midwest dan Texas melambat, dengan PMI Chicago turun menjadi 58,2 pada November dari 61,1 di Oktober, karena lonjakan infeksi Covid-19 secara nasional mengekang pesanan baru dan mengganggu produksi.
Pada hari terakhir November, Indeks Dolar (Indeks DXY), ukuran  greenback  terhadap sekeranjang enam mata uang utama, naik 0,2% menjadi 91,89. Indeks tersebut jatuh dalam lima dari tujuh bulan terakhir.
"Ini hanya dorongan sementara untuk dolar," kata Moya. "Tren jangka panjang jelas akan menjadi pelemahan dolar."
Pelaku pasar tetap optimistis bahwa pemerintahan Presiden terpilih Amerika, Joe Biden, hanya akan menimbulkan sedikit hambatan bagi pertumbuhan global, termasuk kemungkinan dukungan kebijakan moneter tambahan dari Federal Reserve. Keduanya bakal mengurangi daya tarik  safe-haven  dolar.
Senin, Biden mengumumkan pilihannya untuk beberapa posisi puncak di sektor ekonomi, termasuk mantan Kepala The Fed Janet Yellen sebagai calon untuk Menteri Keuangan.
"Dunia sedang berada di titik puncak perubahan besar - peluncuran vaksin dan normalisasi ekonomi berikutnya - yang kami perkirakan terbukti positif bagi mata uang eksportir,  emerging market  tertentu, dan produsen komoditas siklikal, seperti minyak dan logam dasar," kata UBS Global Wealth Management.
Euro tergelincir 0,2% terhadap dolar menjadi USD1,1942, setelah sebelumnya mencapai level tertinggi tiga bulan di USD1,20. Bank Sentral Eropa memberi isyarat awal tahun ini bahwa pihaknya memantau dengan hati-hati nilai tukar euro-dolar.
Mata uang tunggal Eropa itu membukukan kinerja bulanan terbaiknya sejak Juli, melambung 2,6% pada November.
Dolar naik 0,2% terhadap yen menjadi 104,33 yen. Dolar sedikit lebih tinggi terhadap yuan China di  offshore , menjadi 6,579.
Data yang dirilis Senin menunjukkan manufaktur China tumbuh pada laju tercepat dalam lebih dari tiga tahun di November, sementara pertumbuhan sektor jasa mencapai level tertinggi dalam tiga tahun.
Yuan di pasar  offshore  mencatat kenaikan bulanan terpanjang dalam enam tahun, didorong pemulihan ekonomi China dari virus korona dan arus masuk modal yang stabil.
Pada akhir perdagangan di New York, poundsterling naik menjadi USD1,3343 dari USD1,3304 di sesi sebelumnya. Dolar Australia turun ke posisi USD0,7352 dari USD0,7388. Sementara,  greenback  menguat jadi 0,9065 franc Swiss dari 0,9045 franc Swiss, dan menyusut ke level 1,2962 dolar Kanada dari 1,2984 dolar Kanada. (ef)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM