Wall Street Variatif: Dow dan S&P 500 Menguat, Nasdaq Terbebani Saham Teknologi
Tuesday, August 11, 2020       05:08 WIB

Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street berakhir variatif, Senin, dengan Nasdaq tergelincir ke zona merah lagi setelah investor mencermati kesepakatan yang sulit dipahami terkait anggaran bantuan pandemi virus korona di Amerika Serikat.
Dow Jones Industrial Average menguat bahkan di tengah ketidakpastian seputar paket stimulus tersebut.
Indeks 30 saham unggulan itu melonjak 357,96 poin, atau 1,3% menjadi 27.791,44, demikian laporan   CNBC   dan  AFP,  di New York, Senin (10/8) atau Selasa (11/8) pagi WIB.
Boeing dan Nike adalah saham dengan kinerja terbaik di Dow, masing-masing melejit 4,6% dan 4,2%. Saham perbankan seperti JPMorgan Chase dan Goldman Sachs juga berkontribusi pada kenaikan Dow. JPMorgan Chase melesat 2,1% dan Goldman naik 0,9%.
Namun, S&P 500 dan Nasdaq Composite harus berjuang keras karena pelaku pasar memangkas posisi di saham Big Tech. Indeks berbasis luas S&P 500 naik tipis 0,27% atau 9,19 poin menjadi 3.360,47, sementara Nasdaq Composite Index turun 0,39% atau 42,63 poin menjadi 10.968,36. Saham Facebook dan Netflix masing-masing merosot setidaknya 2% bersama dengan Microsoft. Amazon menyusut 1,5% dan Alphabet turun 0,9%.
Presiden Donald Trump menandatangani sejumlah perintah eksekutif selama akhir pekan lalu yang bertujuan untuk memperpanjang bantuan virus korona.
Perintah eksekutif tersebut melanjutkan distribusi tunjangan pengangguran yang diperluas, menunda pembayaran pinjaman siswa hingga 2020 dan memberikan pembebasan pajak gaji. Namun, tunjangan pengangguran akan dilanjutkan dengan pengurangan sebesar USD400 per minggu. Awalnya, tunjangan yang diberikan kepada pekerja yang terdampak pandemi sebesar USD600 per minggu.
"Meski langkah Trump ini dapat menyebabkan  legal challenge,  secara politis hal itu memberikan tekanan pada Kongres untuk mencapai kesepakatan," kata Bill Stone, CIO Stone Investment Partners.
Langkah Trump dilakukan setelah pemimpin Kongres gagal membuat kemajuan pada paket stimulus virus korona, pekan lalu. Beberapa manfaat dari paket yang ditandatangani pada awal tahun berakhir Juli lalu, meningkatkan ketidakpastian tentang penguatan ekonomi AS.
Namun, langkah Trump itu menghadapi tantangan hukum karena melanjutkan untuk program tersebut akan membutuhkan dana federal, yang dikontrol Kongres. Partai Demokrat bersikeras tidak akan mendukung RUU yang tidak memperpanjang tunjangan USD600 per minggu.
Senator Chuck Schumer, pemimpin Demokrat di Kongres, menyebut upaya Trump itu "menggelikan," sementara Menteri Keuangan Steven Mnuchin menilai proposal Demokrat untuk bantuan kepada pemerintah negara bagian dan lokal "tidak masuk akal."
Tetapi Peter Cardillo, analis Spartan Capital Securities mengatakan: "Pasar mengabaikan faktor negatif itu. Pasar terus bergerak lebih tinggi di tengah harapan pemulihan mendapatkan traksi."
Investor juga mencermati hubungan yang memburuk antara AS dan China. Senin, China mengatakan akan menerapkan sanksi terhadap 11 warga AS termasuk senator Ted Cruz dan Marco Rubio. Langkah itu merupakan pembalasan terhadap sanksi Washington atas 11 pejabat Hong Kong dan China karena membatasi kebebasan politik di kota tersebut. (ef)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM