AAJI: Inflasi Medis RI Termasuk Tertinggi di Asia, Industri Kesehatan dan Asuransi Hadapi Tekanan Berat
Tuesday, August 04, 2026       14:49 WIB
  • Inflasi medis di Indonesia mencapai 17,8%, tertinggi di Asia, menekan biaya rumah sakit dan klaim asuransi.
  • Risiko global seperti pelemahan rupiah dan biaya impor obat memperburuk tekanan sektor kesehatan.
  • Kenaikan biaya kesehatan akibat inflasi medis adalah realita yang dihadapi oleh seluruh ekosistem layanan kesehatan.

Ipotnews - Laporan Health Trends 2026 dari Mercer Marsh Benefits menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan inflasi medis tertinggi di Asia. Biaya berobat di Indonesia terus meroket seiring inflasi medis 2026 berada di kisaran 17,8 persen atau jauh di atas inflasi umum 2,5 persen.
Artinya biaya layanan kesehatan di Indonesia meningkat jauh lebih cepat dibandingkan kenaikan biaya hidup secara umum. Kondisi ini menekan keuangan masyarakat sekaligus memicu Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia ( AAJI ) mencatat total klaim kesehatan sepanjang 2025 mencapai Rp26,8 triliun, tumbuh 9,2 persen dibanding tahun sebelumnya.
Kenaikan biaya kesehatan merupakan tantangan bersama yang membutuhkan sinergi lintas sektor, mulai dari pemerintah, rumah sakit, industri asuransi, hingga peran aktif masyarakat dalam memanfaatkan layanan kesehatan secara bijak," kata Direktur Eksekutif AAJI , Emira E. Oepangat dalam keterangannya, Selasa (4/8).
Selain faktor domestik, ketidakpastian geopolitik global turut memperburuk keadaan. Pelemahan rupiah meningkatkan biaya impor obat-obatan dan operasional medis, sehingga tarif layanan rumah sakit ikut terdongkrak. Hal ini menambah risiko finansial bagi keluarga Indonesia yang tidak memiliki perlindungan memadai.
Menghadapi tantangan tersebut, Chief Health Officer Prudential Indonesia, Yosie William Iroth, menekankan pentingnya tata kelola klaim yang transparan. Ia menyadari bahwa kenaikan biaya kesehatan akibat inflasi medis adalah realita yang dihadapi oleh seluruh ekosistem layanan kesehatan.
Terlebih saat ini modernisasi layanan medis memang meningkatkan akurasi diagnosis serta kualitas perawatan pasien. Namun di sisi lain hal itu membutuhkan investasi dan biaya operasional yang tidak sedikit.
"Maka, kami memperkuat tata kelola klaim, memanfaatkan teknologi analitik data, dan berkolaborasi dengan rumah sakit untuk menjaga efisiensi serta transparansi biaya," kata Yosie.(Marjudin/AI)

Sumber : Admin