AI News - Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengungkap bahwa laporan World Economic Forum memperkirakan hingga 2030 sekitar 92 juta pekerjaan dapat hilang sementara 170 juta pekerjaan baru akan muncul, menandai transformasi besar pasar kerja global termasuk Indonesia.
Poin Penting
- World Economic Forum memperkirakan 92 juta pekerjaan berpotensi hilang pada 2030.
- Laporan yang sama memperkirakan penciptaan 170 juta pekerjaan baru dalam dekade yang sama.
- Di India, rekrutmen talenta digital dan AI naik 11 % sementara rekrutmen white-collar turun 9 %.
- Permintaan skill digital dan AI di Asia Tenggara meningkat 2,4 kali lipat (2021-2023) dan kini diperkirakan 5 kali lipat dibandingkan sebelumnya.
- Sekitar 50 % pekerjaan saat ini diprediksi akan mengalami perubahan signifikan dalam 10 tahun ke depan.
Bagaimana Dampak AI Terhadap Total Pekerjaan Global Hingga 2030?
AI diproyeksikan menimbulkan pergeseran struktural pada pasar kerja dunia, dengan sekitar 92 juta pekerjaan diperkirakan hilang dan sekitar 170 juta pekerjaan baru tercipta pada 2030. Menurut Warta Ekonomi yang mengutip laporan World Economic Forum, angka-angka tersebut mencerminkan kombinasi faktor teknologi, transisi hijau, serta perubahan demografi dan ekonomi. Perbandingan menunjukkan bahwa penciptaan pekerjaan baru hampir dua kali lipat lebih besar daripada yang hilang, menandakan adanya peluang sekaligus tantangan besar bagi tenaga kerja. Dampak ini berarti banyak sektor tradisional perlu beradaptasi, sementara industri berbasis teknologi akan menyerap mayoritas tenaga kerja baru.
Apa Indikasi Perubahan Kebutuhan Tenaga Kerja di Asia, Khususnya Indonesia?
Di wilayah Asia, tanda pergeseran kebutuhan tenaga kerja sudah tampak nyata, terutama pada tingkat digital dan AI. Detik melaporkan bahwa kunjungan Menteri Yassierli ke India mengungkapkan peningkatan rekrutmen talenta digital dan AI sebesar 11 % serta penurunan perekrutan white-collar sebesar 9 %. Data LinkedIn yang dicantumkan menunjukkan permintaan keahlian digital dan AI di Asia Tenggara tumbuh 2,4 kali lipat antara 2021-2023, dan menurut Yassierli, pertumbuhan kini diperkirakan mencapai lima kali lipat. Selain itu, laporan lain menyebutkan bahwa sekitar setengah pekerjaan saat ini akan mengalami perubahan dalam satu dekade, menegaskan pentingnya upskilling. Semua indikator ini menandakan bahwa Indonesia harus mempercepat pelatihan skill teknologi sekaligus memperkuat kompetensi non-teknis.
Bagaimana Kementerian Ketenagakerjaan Menyiapkan Regulasi dan Kolaborasi untuk Menghadapi Transformasi AI?
Kementerian Ketenagakerjaan sedang menyusun tata kelola AI yang terintegrasi dengan kebijakan ketenagakerjaan, sebagaimana disampaikan Yassierli dalam Warta Ekonomi. Pemerintah berupaya membangun kolaborasi lintas sektor, termasuk akademisi, industri, dan organisasi profesi, untuk memastikan ekosistem kerja dapat menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi. Menteri menekankan bahwa penguasaan AI harus disertai dengan kemampuan non-teknis seperti komunikasi, kerja tim, berpikir kritis, pemecahan masalah, serta empati, agar tenaga kerja Indonesia tetap kompetitif. Inisiatif ini mencakup pelatihan berkelanjutan, pengembangan kurikulum berbasis digital, serta insentif bagi perusahaan yang mengadopsi teknologi AI secara bertanggung jawab.
Sumber : AI News