Akhir Tahun Semakin Dekat, Bursa Asia Sudah Tergerus USD6,2 Triliun
Thursday, December 06, 2018       20:06 WIB

Ipotnews - Memerahnya bursa saham Asia dalam beberapa hari terakhir sudah cukup untuk menyuramkan harapan para pedagang yang paling optimis sekalipun.
Hari ini, Kamis (6/12), indeks regional turun 1,8 persen, menuju penurunan harian terbesar dalam enam pekan. Bursa saham Tokyo, Hong Kong hingga Mumbai tenggelam di laut merah.
Hanya dalam tiga hari, reli yang terlihat jelang pekan lalu - mengantisipasi negosiasi perdagangan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping - lenyap tak berbekas. Nilai ekuitas Asia membukukan penurunan sebesar USD6,2 triliun, dari nilai tertinggi Januari lalu.
Memerahnya indeks saham acuan Asia, adalah riak dari penangkapan pejabat kepala keuangan Huawei Technologies Co. Wanzhou Meng - yang juga wakil pemimpin, dan putri pendiri perusahaan - ditangkap di Kanada dengan tuduhan berpotensi melanggar ketentuan tentang sanksi AS terhadap Iran, yang memprovokasi kemarahan di China dan menakuti trader Asia.
"Kita sudah memiliki masalah perdagangan, dan sekarang ada kekacauan di tempat lain," kata Steven Leung, direktur eksekutif UOB Kay Hian (Hong Kong) Ltd. "Sebelumnya pasar masih memiliki beberapa pemikiran optimis, bahwa akan ada periode pendinginan singkat dari perang dagang, tapi sekarang menghilang," imbuhnya seperti dikutip Bloomberg, Kamis (6/12).
Indeks Hang Seng, Hong Kong sempat rontok hingga 3 persen, dan ditutp terpuruk 2,47 persen, tertinggi di Asia. Selain pukulan keras pada Huawei, kelompok bisnis di Hongkong mulai mengkhawatirkan bahwa pemerintahan Trump akan mengakhiri status istimewa Hongkong sebagai hub keuangan perdagangan. Mereka cemasm jika Washington menjadikan Hongkong sebagai "hanya kota lain di China" karena pemerintahnya semakin dekat ke Beijing.
Sepanjang hari ini, investor mulai mengalihkan dananya ke aset safe haven. Yen menguat, namun indeks Topix Jepang terjungkal 2,5 persen, di level terendah dalam lima pekan.
Seruan agar investor lebih berhati-hati bermain di bursa saham, kembali bermunculan;
  • Goldman Sachs Group Inc. merekomendasikan kepemilikan dana tunai yang lebih besar, melebihi patokan yang disarankan, meskipun tetap merekomendasikan saham-saham yang layak dikumpulkan.
  • JPMorgan Asset Management mengatakan bahwa uang tunai bukan satu-satunya tempat aman, dan menawarkan sejumlah investasi yang menawarkan hasil lebih baik setelah disesuaikan dengan risikonya, dibanding ekuitas.
  • Investec Asset Management, dengan melihat panggilan optimis di luar sana, mengatakan "terlalu banyak angan-angan" di pasar, dan lebih baik menjual ketika reli bagi mereka yang tidak sanggup menghadapi volatilitas.

Untuk bursa saham Asia, waktunya sudah hampir habis untuk memulihkan penurunan 13 persen Indeks MSCI Asia Pacific yang telah tergerus sepanjang 2018, menuju tahun terburuk sejak 2011. Dan sekali lagi, indeks acuan regional itu gagal bertahan di atas, rata-rata pergerakan selama 50 hari.
Dalam ketidakpastian perundingan perdagangan AS-China dan meningkatnya kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi global, harapan untuk pemulihan yang gemilang semakin meredup.(Bloomberg/kk)
  • Indeks Topix, Jepang turun 1,8%; Nikkei 225 merosot 1,9%
  • Indeks Hang Seng, Hong Kong anjlok 2,5%; Hang Seng China Enterprises terperosok 2,6%; Shanghai Composite, China melorot 1,7%
  • Indeks Taiex, Taiwan terpangkas 2,3%
  • Indeks Kospi, Korea Selatan dan Kospi 200 menyusut 1,6%
  • S&P/ASX 200, Australia melelah 0,2%; S&P/NZX 50, Selandia Baru berkurang 0,3%
  • Indeks S&P BSE Sensex, India tergerus 1,2%; NSE Nifty 50 kehilangan 1,3%.
  • Indeks Straits Times, Singapura -1,3%; KLCI Malaysia - 0,3%; Bursa Efek Filipina -1,3%; SET Thailand -1,1%; Indeks VN Vietnam -0,2%.
  • IHSG melemah 0,29% menjadi 6.115,49.


Sumber : Admin