Amerika dan Iran Sepakat Lanjutkan Perundingan, Minyak Berjangka Tertekan
Monday, February 09, 2026       09:13 WIB
  • Harga minyak melemah setelah AS dan Iran sepakat melanjutkan perundingan nuklir, meredakan kekhawatiran gangguan pasokan.
  • Brent turun ke USD67,56/barel dan WTI ke USD63,13/barel.
  • Pasar tetap mencermati risiko geopolitik, sanksi minyak Rusia, dan peningkatan produksi energi AS.

Ipotnews - Harga minyak melemah, Senin, setelah Amerika dan Iran sepakat melanjutkan perundingan terkait program nuklir Teheran, yang meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik di Timur Tengah yang dapat mengganggu pasokan energi global.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, turun 49 sen atau 0,72% menjadi USD67,56 per barel pada pukul 08.34 WIB, setelah ditutup naik 50 sen pada perdagangan Jumat, demikian laporan  Reuters,  di Singapura, Senin (9/2).
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), berkurang 42 sen atau 0,66% ke posisi USD63,13 per barel, setelah sebelumnya menguat 26 sen.
Analis IG Tony Sycamore mengatakan harga minyak melemah pada awal pekan karena pasar merespons positif perkembangan pembicaraan nuklir antara AS dan Iran di Oman. Menurutnya, dengan adanya rencana kelanjutan dialog, kekhawatiran langsung terhadap gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah kini berkurang signifikan.
Amerika Serikat dan Iran sebelumnya menyatakan akan melanjutkan pembicaraan nuklir secara tidak langsung setelah kedua pihak menilai diskusi pada Jumat berjalan positif meskipun masih terdapat perbedaan pandangan. Perkembangan tersebut meredakan kekhawatiran bahwa kegagalan mencapai kesepakatan dapat mendorong kawasan Timur Tengah menuju konflik terbuka, terlebih di tengah peningkatan kehadiran militer AS di kawasan.
Pasar sebelumnya khawatir terhadap potensi gangguan pasokan dari Iran dan produsen regional lainnya, mengingat sekitar seperlima konsumsi minyak dunia melewati Selat Hormuz yang berada di antara Oman dan Iran.
Seiring meredanya ketegangan, kedua acuan harga minyak tersebut tercatat anjlok lebih dari 2% sepanjang pekan lalu, menandai penurunan pertama dalam tujuh pekan terakhir.
Meski demikian, risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang. Menteri Luar Negeri Iran, Sabtu, menyatakan Teheran akan menyerang pangkalan militer AS di Timur Tengah apabila mendapat serangan dari pasukan Amerika, menunjukkan potensi konflik masih membayangi pasar.
Selain faktor geopolitik, investor juga mencermati upaya Barat untuk menekan pendapatan Rusia dari ekspor minyak terkait perang di Ukraina. Komisi Eropa, Jumat, mengusulkan larangan luas terhadap layanan yang mendukung ekspor minyak mentah Rusia melalui jalur laut.
Di sisi lain, kilang minyak di India--yang sebelumnya menjadi pembeli terbesar minyak mentah Rusia melalui jalur laut--dilaporkan mulai menghindari pembelian untuk pengiriman April dan diperkirakan menahan transaksi serupa dalam jangka lebih panjang. Langkah ini dinilai dapat membantu India mempercepat kesepakatan perdagangan dengan Amerika Serikat.
Sementara itu, laporan Baker Hughes menunjukkan perusahaan energi AS menambah jumlah rig minyak dan gas selama tiga pekan berturut-turut untuk pertama kalinya sejak November, mengindikasikan kenaikan harga energi mulai mendorong peningkatan produksi. (Reuters/AI)

Sumber : Admin