- BEI menargetkan kapitalisasi mencapai Rp30.000 triliun, 35 juta investor, dan 1.100 emiten pada 2030.
- Optimisme Hans Kwee : Potensi demografi, pertumbuhan ekonomi, dan peran media sosial membuat target realistis.
- Dukungan pemerintah dan IPO perusahaan besar menjadi faktor penting untuk memperkuat pasar modal Indonesia.
Ipotnews - Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan pasar modal Indonesia masuk jajaran 10 besar terbesar di dunia pada 2030. Target ambisius ini mencakup kapitalisasi pasar Rp30.000 triliun, 35 juta investor, lebih dari 1.100 emiten, serta peningkatan likuiditas dan pendalaman pasar.
Dari berbagai sumber, saat ini jumlah investor di pasar modal Indonesia mencapai 30.274.265 Single Investor Identification (SID) per 7 Agustus 2026. Angka ini bertambah sebanyak 9,92 juta SID atau tumbuh sebesar 48,78% sejak akhir tahun 2025.
Menanggapi hal itu, Praktisi Pasar Modal sekaligus Direktur PT Anugerah Mega Investama, Hans Kwee menilai target tersebut masuk akal dengan mempertimbangkan potensi dari bonus demografi dan juga tingkat ekonomi Indonesia yang menjadi salah satu negara dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi dan konsisten.
"Kita pikir target BEI masuk akal karena pertama penduduk kita 5 besar di dunia, kedua kita negara berkembang dan potensinya besar untuk bertumbuh, dan pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah salah satu yang paling tinggi 5 persenan," ujar Hans dalam sebuah talkshow media di Jakarta, Senin (10/8).
Hans menambahkan, faktor demografi menjadi pendorong utama. Ia juga menyoroti peran media sosial yang begitu tinggi dan masif berperan besar dalam mendorong partisipasi generasi muda untuk terjun langsung menjadi investor di pasar modal Indonesia. Tren peningkatan jumlah investor dari kalangan anak muda, gen Z, milenial dan gen Alpha terus meningkat pesat terutama paska Covid-19.
"Kalau kita lihat sebelum Covid nasabah kita tidak banyak di pasar modal, kemudian beberapa tahun meningkat, media sosial sangat berperan saat ini, Gen Z, milenial, dan Alpha sangat connect dengan informasi, sehingga jumlah investor meningkat berkali lipat," kata Hans.
Meski demikian, Hans mengingatkan bahwa pasar modal Indonesia masih menghadapi tantangan. Tahun 2025 sempat ditinggalkan investor karena booming sektor teknologi global, sementara Indonesia dan India jumlah perusahan berteknologi besar dan berbasis AI relatif sedikit jumlahnya.
Kemudian adanya tekanan dari MSCI terkait dengan data transparansi market yang sempat muncul juga sempat membuat market domistik turun. Namun reformasi pasar modal yang dilakukan OJK dan BEI berhasil memperkecil ancaman penurunan ke frontier market.
Menurut Hans, salah satu kunci pencapaian target adalah mendorong lebih banyak perusahaan besar untuk melakukan IPO. Saat ini, banyak perusahaan dengan fundamental kuat namun belum masuk ke bursa. Dukungan pemerintah melalui insentif akan sangat menentukan agar perusahaan besar mau melantai, sehingga pasar semakin dalam dan menarik bagi investor asing.
"Target bursa ini perlu didukung pemerintah bersama - sama otoritas lainnya untuk memberikan insentif agar perusahaan besar yang fundamental bagus bisa melantai di Bursa," katanya.
Hans menilai, masuknya perusahaan besar dengan fundamental kuat ke bursa akan membawa manfaat ganda. Selain meningkatkan transparansi dan memperluas kepemilikan saham oleh masyarakat, langkah tersebut juga akan mendukung ekspansi bisnis perusahaan dan pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan demikian, target BEI tidak hanya realistis, tetapi juga strategis bagi pembangunan ekonomi Indonesia.
"Transformasi yang dilakukan Bursa saat ini sudah sangat bagus tapi kalau didukung pemerintah terkait dengan insentif itu akan semakin baik," katanya.
(Marjudin/AI)
Sumber : admin