BI Akan Sulit Menurunkan Suku Bunga Acuan: Chatib Basri
Thursday, March 14, 2019       16:40 WIB

Ipotnews - Meskipun Federal Reserve AStidak menaikkan Fed Fund Rate pada tahun ini, namun tak ada ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk menurunkan BI 7day Reverse Repo Rate. Penurunan suku bunga acuan BI masih terganjal oleh besaran defisit neraca transaksi berjalan yang mencapai 2,98 persen pada akhir 2018 lalu.
"Saya menduga, dengan current account deficit yang masih menganga, maka ruang BI untuk menurunkan suku bunga akan sulit," kata mantan Menteri Keuangan, Muhammad Chatib Basri dalam diskusi "Ekonomi dan Politik 2019" di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Kamis (14/3).
Chatib menyebutkan, sepanjang 2019 ini memungkinkan bagi The Fed untuk menahan suku bunga acuan atau paling banyak hanya satu kali menaikkan Fed Fund Rate. "Jadi, dalam konteks ini akan membuat pasar keuangan Indonesia bergairah," ujarnya.
Jika The Fed memutuskan untuk menahan tingkat suku bunga, kata Chatib, maka arus modal akan kembali ke emerging market, termasuk Indonesia. "Arus modal tersebut akan masuk ke instrumen saham dan bond," ujarnya.
Ia menjelaskan, apabilai Fed Fund Rate berada di kisaran 2,21-2,5 persen, maka kemungkinan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun akan sebesar 2,6 persen. "Sehingga, selisih atau spread dengan [obligasi] Indonesia sekitar 4 persen," ungkapnya.
Langkah The Fed yang akan menghentikan nomalisasi kebijakan, menurutnya, akan menguat rupiah ke kisaran Rp14.000-Rp13.900 per dolar AS. "Implikasinya, portofolio investasi akan kembali ke Indonesia," kata Chatib.
Kondisi tersebut tentu akan berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia dan mengurangi defisit neraca transaksi berjalan.Situasinya akan berbeda jika BI juga ikut menurunkan suku bunga.
"Apakah BI berani menurunkan pertumbuhan ekonomi? Saya tidak tahu," kata Chatib. (Budi)

Sumber : Admin