- Bank Indonesia diperkirakan kembali memangkas suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 4,50% pada Rabu (22/10) .
- Meski rupiah masih lemah, inflasi yang terjaga dan melambatnya permintaan domestik memperkuat alasan pelonggaran.
- Ekonom mengingatkan risiko terhadap independensi BI dan potensi tekanan inflasi jika pelonggaran dilakukan terlalu agresif.
Ipotnews - Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan menurunkan suku bunga acuan dalam rapat keempat berturut-turut pada Rapat Dewan Gubernur, Rabu (22/10), menjadi 4,50%.
Survei ekonom Reuters memperkirakan, pembuat kebijakan akan lebih memprioritaskan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi meski nilai rupiah masih lemah.
Reuters mencatat, bulan lalu, bank sentral mengejutkan pasar dengan pemangkasan suku bunga, dan Gubernur Perry Warjiyo mengatakan pihaknya akan "habis-habisan" mendorong pertumbuhan sambil tetap menjaga stabilitas pasar keuangan.
Rupiah sempat menguat dalam beberapa pekan terakhir berkat intervensi di pasar valuta asing, namun sepanjang tahun ini masih melemah sekitar 3%. Bank sentral memiliki mandat untuk menjaga kestabilan nilai tukar.
Laman Reuters, Senin (20/10) melaporkan, meskipun pertumbuhan ekonomi kuartal kedua melampaui ekspektasi, sejumlah ekonom memperingatkan bahwa permintaan domestik mulai kehilangan momentum. "Jika dikombinasikan dengan inflasi yang berada di level 2,65% - masih dalam target BI sebesar 1,5% hingga 3,5% - hal ini memperkuat ekspektasi adanya pemangkasan suku bunga lagi pekan ini," tulis Reuters mengutip pernyatan beberapa ekonom.
Mayoritas ekonom, yakni 21 dari 28 responden survei Reuters, memperkirakan BI akan menurunkan suku bunga acuan seven-day reverse repurchase rate sebesar 25 basis poin menjadi 4,50% pada 22 Oktober. Sisanya memperkirakan suku bunga tetap di 4,75%.
Survei yang dilakukan pada 13-20 Oktober itu juga menunjukkan ekspektasi bahwa suku bunga fasilitas simpanan dan pinjaman semalam akan dipangkas masing-masing sebesar 25 basis poin menjadi 3,50% dan 5,25%, berdasarkan sampel yang lebih kecil.
"Pejabat bank sentral kini lebih menitikberatkan pada kekhawatiran terhadap pertumbuhan," kata Jason Tuvey, wakil kepala ekonom pasar negara berkembang di Capital Economics.
"Data sekunder menunjukkan perekonomian mulai kehilangan momentum. Penjualan kendaraan turun dalam beberapa bulan terakhir, kepercayaan konsumen melemah, dan pertumbuhan ekspor melambat. Kekhawatiran terhadap pertumbuhan, ditambah penguatan rupiah baru-baru ini, membuat kami memperkirakan BI akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin," imbuhnya seperti dikutip Reuters.
Median perkiraan menunjukkan suku bunga kebijakan utama akan turun 50 basis poin menjadi 4,25% pada akhir tahun, dan bertahan di level tersebut hingga 2026.
"Kami memperkirakan toleransi terhadap pelemahan rupiah akan sedikit lebih tinggi demi ruang pelonggaran moneter lanjutan. Meskipun suku bunga antarbank riil sudah menurun, kemungkinan masih ada ruang untuk turun lebih jauh," ujar Adam Ahmad Samdin, ekonom dari Oxford Economics.
Walau langkah pelonggaran lebih lanjut tampak mungkin, sejumlah ekonom menyoroti kekhawatiran atas independensi bank sentral setelah adanya kesepakatan burden sharing dan rancangan undang-undang yang akan memperluas peran parlemen dalam menilai kinerja BI.
"Jika pelonggaran kebijakan berlanjut dan ternyata lebih agresif dari perkiraan analis, hal itu tak terhindarkan akan memunculkan kekhawatiran bahwa pejabat bank sentral tunduk pada tekanan politik," kata Tuvey dari Capital Economics.
"Dalam jangka panjang, hal ini berisiko membuat ekonomi terlalu panas, memicu inflasi, meningkatkan premi risiko pada aset Indonesia, dan menekan pertumbuhan jangka panjang," Tuvey menambahkan.
Survei tersebut menunjukkan ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh sekitar 5% pada 2025 dan dua tahun berikutnya - jauh di bawah target ambisius Presiden Prabowo Subianto sebesar 8%, namun masih sejalan dengan tren belakangan ini.
Inflasi diproyeksikan rata-rata 1,8% tahun ini dan meningkat menjadi sekitar 2,5% pada 2026 dan 2027. (Reuters)
Sumber : admin