Bersiaplah Menghadapi Pelemahan Rupiah Lebih Lanjut : Julius Baer
Thursday, October 11, 2018       15:05 WIB

Ipotnews - Para analis Julius Baer Group Ltd., yang disebut-sebut paling akurat dalam memprediksi pergerakan rupiah, memperkirakan pelemahan rupiah akan berlanjut, berpotensi menembus Rp15.500 per dolar jelang akhir tahun nanti. Rupiah menjadi korban meningkatnya perang dagang AS-China dan melonjaknya harga minyak.
"Meskipun bank sentral melakukan tindakan proaktif, rupiah terus berada di bawah tekanan karena kondisi likuiditas yang diperketat akibat kenaikan suku bunga AS, dan perang perdagangan yang semakin intensif," kata Magdalene Teo, kepala riset Asia untuk aset berpendapatan tetap lembaga keuangan asal Swiss itu, di Singapura.
Menurutnya, sebagai importir minyak, Indonesia akan merasakan licinnya kenaikan harga minyak mentah yang akan semakinmempersulit untuk menutup defisit neraca transaksi berjalan yang menekan rupiah. Rupiah telah terlah merosot 11 persen terhadap dolar sepanjang tahun ini, ke level terendah sejak krisis keuangan Asia 1998, mencapai Rp15.220 per dolar pada Kamis siang (11/10).
Pelemahan rupiah berdampak pada aksi jual obligasi Indonesia oleh para investor asing sehingga mendorong tingkat imbal hasil. Imbal hasil obligasi rupiah bertenor 10-tahun melonjak menjadi 8,62 persen pada September lalu, dari 6,3 persen pada awal tahun. Teo berpendapat, tekanan jual obligasi juga berpeluang berlanjut.
"Jika rupiah bergerak ke arah 15.500 dalam tiga bulan, seperti yang diperkirakan ekonom kami, [imbal hasil] 9 persen sangat memungkinkan," katanya, seperti dikutip Bloomberg, Kamis (11/10).
Meskipun Bank Indonesia dan pemerintah Indonesia telah berupaya meredam tekanan terhadap rupiah - antara lain dengan menaikkan suku bunga acuan, dan membatasi impor - nasib rupiah masih mungkin terpengaruh oleh tindakan Federal Reserve AS, yang berkomitmen untuk terus menaikkan suku bunga.
"Itulah mengapa kami mengekspektasikan tren penurunan rupiah lebih lanjut, dengan periode yang relatif tenang dan stabil karena kembalinya minat membeli aset berisiko, sebagai alternatif tekanan pelemahan karena data atau sikap AS yang hawkish," kata Susan Joho, ekonom Julius Baer Group Ltd., di Zurich.
"Langkah-langkah stabilisasi akhir-akhir ini dapat membantu memperlambat perkembangan itu, tetapi tidak akan menghentikannya," Joho menambahkan. (Bloomberg/kk)

Sumber : Admin