Bisnis e-Commerce Indonesia Melesat, Persaingan Semakin Ketat
Tuesday, February 13, 2018       16:05 WIB

Ipotnews - Bisnis perdagangan elektronik (e-commerce) di Indonesia melaju pesat. Financial Times Confidential Research ( FTCR ) mengestimasikan pertumbuhan konsumen dalam jaringan (daring) internet (online) pada 2017 mencapai 11 juta orang, menjadi 35 juta.
Survei FTCR terhadap 1.000 konsumen perkotaan, menunjukkan bahwa popularitas pasar daring Tokopedia, telah menggeser Lazada Indonesia pada tahun lalu. Kendati demikian, sebagian besar pengunjung pasar daring, berdasarkan data SimilarWeb, masih menjadi pengunjung situs Lazada, yang berkantor pusat di Singapura.
"Tokopedia memiliki kinerja bagus tahun lalu, dengan mengamankan investasi senilai USD1,1 miliar yang dipimpin oleh Grup Alibaba China, yang sekarang memegang saham minoritas di perusahaan itu. Investasi tersebut mengikuti keputusan Alibaba sebelumnya, untuk meningkatkan saham pengendali di Lazada Group menjadi 83 persen," tulis Andi Haswidi, Periset Indonesia di FTCR , seperti dikutip Financial Times, (12/2).
Ia mencatat, kehadiran dua pendatang baru, Shopee dan JD.id yang berbasis di Singapura - afiliasi lokal dari raksasa pasar daring JD.com, China -untuk pertama kalinya masuk dalam daftar 10 besar pasar daring di Indonesia pada 2017. Shopee, yang meluncurkan pasar daring pada bulan Desember 2015 dan beroperasi pada bulan November 2017, berada di peringkat ketiga, menyalip Bukalapak, yang sudah lebih dulu beroperasi, sejak 2010.
Shopee mendapatkan dorongan besar tahun lalu, dengan menawarkan layanan ongkos kirim gratis, dan diskon besar melalui promosi Shoppingee Big Mobile Shopping Day. Mengutip laporan perusahaan monitor iklan TV Adstensity, FTCR menyebutkan Shopee menghabiskan Rp205,9 miliar (USD14,4 juta) untuk iklan televisi sepanjang 2017.
Sementara itu JD.id menghabiskan Rp215,6 miliar untuk beriklan di televisi, demi mempromosikan bahwa produk yang mereka jual adalah produk bermerk asli. Perusahaan ini menargetkan konsumen yang mempunyai perhatian besar pada risiko penipuan, yang sering dikaitkan dengan bisnis pasar daring. "Survei kami menunjukkan bahwa kualitas produk menjadi perhatian utama para pembeli online," papar Andi.
Meskipun periklanan TV tetap menjadi cara yang paling efektif untuk menarik pengguna baru, namun menurut Andi, perusahaan yang lebih mapan tak lagi bergantung pada iklan televisi. Total pengeluaran untuk iklan TV oleh perusahaan e-dagang turun hampir 14 persen tahun lalu. Tokopedia menghabiskan kurang dari 30,8 persen, dan OLX - bagian dari pasar online global - menghabiskan 55,3 persen lebih sedikit. "Tidak ada data publik yang tersedia tentang jumlah belanja iklan online perusahaan e-commerce,"ungkap Andi.
Menurut FTCR , sepanjang tahun lalu jumlah pembeli daring di Indonesia tidak hanya bertambah jutaan, namun juga berbelanja lebih sering. Proporsi konsumen yang mengaku bahwa mereka berbelanja di toko daring setidaknya sebulan sekali, meningkat menjadi 60 persen, dari kurang 30 persen pada 2016.
Kendati begitu, nilai transaksi tetap rendah. "Kelompok urban Indonesia yang kami survei, memiliki rata-rata pengeluaran bulanan sebesar Rp7,7 juta (USD565), namun 60 persen dari mereka menghabiskan tidak lebih dari Rp1 juta untuk belanja online sepanjang tahun 2017," tulis Andi dalam laporannya.
Pakaian adalah barang paling populer yang dibeli secara online tahun lalu, diikuti oleh ponsel dan asesoris, produk kecantikan, peralatan rumah dan dapur, kemudian perhiasan dan jam tangan. Transfer ATM tetap menjadi metode pembayaran belanja daring yang paling populer, diikuti oleh mobile banking dan cash-on-delivery - sama seperti tahun 2016.
"Yang berbeda pada tahun 2017 adalah meningkatnya popularitas kartu kredit dan pembayaran online," ungkap Andi. Ia menilai, secara tidak langsung, kondisi tersebut dapat diartikan sebagai peningkatan kepercayaan para pengguna kartu kredit pada keamanan pembayaran barang secara online. Kenaikan jumlah pembayaran secara online juga mencerminkan kecenderungan konsumen untuk memanfaatkan diskon.
Untuk memperlancar transaksi, tiga pasar daring telah meluncurkan sistem pembayaran BukaDompet, ShopeePay dan TokoCash. Pelanggan mendapatkan keuntungan dari diskon dan kemudahan saat mereka menggunakan sistem pembayaran tersebut. Namun tidak seperti kartu kredit, mereka tidak mengizinkan transaksi di luar jaringan bisnis mereka.
Berkaitan dengan meningkatnya belanja daring, pemerintah Indonesia tengah mempertimbangkan pengenaan pajak sebesar 0,5 persen untuk semua transaksi online, lebih rendah dari biaya 1 persen yang dikenakan pada pengecer tradisional. Mengutip sumber di Badan Koordinasi Penanaman Modal, Andi menyebutkan, penerapan pajak yang diharapkan mulai diberlakukan pada bulan ini, kemungkinan akan mengalami penundaan karena beberapa pihak masih enggan untuk "mengganggu" bisnis yang telah menerima USD4,8 miliar investasi asingpada tahun lalu.
Pengecer online umumnya sepakat dengan tarif pajak yang diusulkan, namun mereka menghendaki agar transaksi yang terjadi di media sosial - yang saat ini dikecualikan dari rencana penerapan pajak online - harus membayar pajak yang sama. Mereka khawatir penerapan pajak akan mendorong pembeli dan penjual memilih bertransaksi melalui platform media sosial, seperti Facebook dan Instagram.
Namun FTCR berpendapat, pasar media sosial akan akan berdampak besar pada pengecer online. "Pangsa responden yang memilih media sosial untuk berbelanja secara online, turun menjadi 7,7 persen tahun lalu dari 12 persen pada 2016. Toko online yang baik, menawarkan keamanan yang lebih terjamin, kontrol kualitas produk dan keuntungan seperti bunga nol persen untuk pinjaman, gratis pengiriman barang, dan lebih penting lagi, format antar muka yang lebih ramah e-dagang," papar Andi.
FTCR juga berpendapat, penerapan pajak tidak akan terlalu merugikan penjualan atau investasi. Justu potensi risiko terbesar sektor e-dagang adalah fluktuasi rupiah. "Produk impor mendominasi kategori produk utama secara online, terutama kecantikan, fesien, ponsel dan elektronik," kata Andi.
Krisis rupiah seperti tahun 2013 akan membuat produk-produk online cenderung lebih mahal. Namun, menurutnya, kekhawatiran itu tidak perlu dibesar-besarkan, dalam kondisi neraca eksternal Indonesia yang sangat baik pada tahun ini. "Defisit neraca berjalan menyusut dari 4,4 persen dari PDB pada puncak krisis 2013, menjadi 2,2 persen pada kuartal keempat 2017." (Financial Times/kk).

Sumber : Admin