AI News - Menurut laporan non-partisan Congressional Budget Office yang dirilis 16 September 2026, konflik militer Amerika Serikat di Iran menelan biaya total sekitar US$38 miliar dan mengurangi persediaan interceptor pertahanan misil hingga dua pertiga, memaksa pemerintah menyiapkan upaya pengisian kembali yang diperkirakan memakan waktu minimal lima tahun.
Poin Penting
- Biaya total perang Iran diperkirakan US$38 miliar.
- Persediaan interceptor pertahanan misil menurun hingga dua pertiga sejak Juni 2025.
- Rekonstruksi stok interceptor diperkirakan memakan waktu minimal lima tahun, bahkan dengan peningkatan produksi.
- Jika konflik berlanjut, biaya tambahan diproyeksikan US$2-3 miliar per bulan tergantung intensitas.
- Perang berkontribusi pada kenaikan inflasi 0,5 ppt dan suku bunga 0,2 ppt lebih tinggi daripada estimasi sebelumnya.
Mengapa Biaya Perang Iran Mencapai US$38 Miliar?
Menurut laporan The Guardian, total biaya US$38 miliar sebagian besar berasal dari penggantian senjata dan interceptor pertahanan misil yang mencapai US$13,1 miliar, serta pengeluaran US$10,4 miliar untuk peningkatan jam terbang dan US$2,7 miliar untuk kenaikan harga bahan bakar. Pemerintah Pentagon sebelumnya melaporkan total pengeluaran sebesar US$33,4 miliar hingga 30 Juni 2026, namun CBO menambahkan estimasi biaya tambahan US$3 miliar per bulan bila konflik berlanjut. Selain itu, kerusakan struktural di pangkalan militer di delapan negara Timur Tengah serta kerugian peralatan militer turut menambah beban fiskal. Kombinasi pengeluaran material, operasional, dan kerusakan infrastruktur menjelaskan mengapa konflik tersebut menelan biaya yang begitu besar bagi anggaran pertahanan AS.
Bagaimana Kekurangan Interceptor Memengaruhi Kesiapan Militer AS?
CNBC International melaporkan bahwa sejak Juni 2025, penggunaan interceptor pertahanan telah menghabiskan hampir dua pertiga dari persediaan nasional, terutama model Patriot, THAAD, dan interceptor Angkatan Laut. CBO memperkirakan bahwa mengisi kembali persediaan tersebut akan memerlukan setidaknya lima tahun, meskipun produksi ditingkatkan, karena keterbatasan kapasitas industri dan keterlambatan rantai pasokan. Kekurangan ini menimbulkan risiko signifikan dalam skenario konflik melawan negara dengan kemampuan misil balistik dan jelajah besar, khususnya jika terjadi konfrontasi di wilayah Taiwan. Oleh karena itu, penurunan stok interceptor tidak hanya mengurangi kemampuan respons cepat AS, tetapi juga meningkatkan kerentanan strategis terhadap potensi serangan massal di masa depan.
Apa Implikasi Makroekonomi dari Konflik Ini?
The Guardian mencatat bahwa perang Iran telah menambah tekanan inflasi global melalui lonjakan harga minyak mentah, yang naik dari US$64 per barel menjadi puncaknya US$103 per barel selama fase intensif konflik. CBO memperkirakan dampak tersebut akan mengangkat tingkat inflasi domestik AS sebesar 0,5 ppt lebih tinggi daripada proyeksi sebelumnya, yang pada gilirannya mendorong suku bunga jangka pendek naik sekitar 0,2 ppt. Perubahan ini memperberat beban biaya hidup bagi konsumen Amerika dan meningkatkan biaya pembiayaan pemerintah, mengingat sebagian besar tambahan pengeluaran militer dibiayai melalui permintaan tambahan anggaran sebesar US$87,6 miliar yang diajukan pada Juni. Secara keseluruhan, konflik tersebut tidak hanya menambah beban fiskal pertahanan, tetapi juga berkontribusi pada ketidakstabilan ekonomi makro yang dirasakan oleh pasar global.
Sumber : AI News