Cadangan Devisa RI Ditaksir Stabil di USD140-150 Miliar Hingga Akhir 2026
Monday, August 10, 2026       11:06 WIB
  • memproyeksikan cadangan devisa Indonesia stabil di kisaran USD140-150 miliar hingga akhir 2026, ditopang potensi arus modal asing dan insentif kebijakan BI.
  • Cadangan devisa Juli 2026 turun USD0,3 miliar menjadi USD145,3 miliar, namun masih setara 5,5 bulan impor dan 5,3 bulan impor serta pembayaran utang pemerintah.
  • Risiko utama berasal dari tekanan rupiah, defisit perdagangan, harga minyak, ketidakpastian geopolitik, serta suku bunga AS yang tinggi yang dapat membatasi arus modal ke negara berkembang.

Ipotnews - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk () memperkirakan cadangan devisa Indonesia akan bergerak relatif stabil dalam kisaran USD140-150 miliar hingga akhir 2026, meski tekanan terhadap rupiah dan kebutuhan valuta asing masih berpotensi meningkat.
Proyeksi tersebut disampaikan Office of Chief Economist Bank Mandiri dalam Daily Economic and Market Review yang diterbitkan Senin (10/8).
Bank Mandiri menilai normalisasi kebutuhan dolar AS untuk pembayaran dividen pada kuartal III 2026 berpotensi mengurangi tekanan terhadap rupiah. Namun, defisit perdagangan yang berlanjut dapat membuat kebutuhan valuta asing tetap tinggi dan membatasi ruang penguatan rupiah.
"Cadangan devisa akan bergerak relatif stabil dalam kisaran USD140-150 miliar hingga akhir 2026," tulis Office of Chief Economist Bank Mandiri.
Bank Mandiri juga memperkirakan perluasan insentif kebijakan oleh Bank Indonesia untuk menarik arus modal asing dapat menopang rupiah sekaligus cadangan devisa.
Sebelumnya, posisi cadangan devisa Indonesia pada Juli 2026 tercatat USD145,3 miliar, turun USD0,3 miliar dibandingkan USD145,6 miliar pada Juni 2026. Penurunan tersebut sejalan dengan kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah dan stabilisasi nilai tukar rupiah.
Secara kumulatif, posisi cadangan devisa pada Juli 2026 telah turun USD11,2 miliar dibandingkan USD156,5 miliar pada April 2025.
Bank Mandiri mencatat, posisi cadangan devisa Juli 2026 setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor, tidak berubah dibandingkan Juni. Sementara cakupan terhadap kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah turun menjadi 5,3 bulan dari 5,4 bulan.
Meski menurun, level tersebut masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor sehingga dinilai tetap memadai untuk mendukung ketahanan sektor eksternal, stabilitas makroekonomi, dan sistem keuangan.
Menurut Bank Mandiri, tekanan terhadap cadangan devisa juga mencerminkan kondisi pasar keuangan global. Rupiah melemah 0,66% secara month-to-date menjadi Rp18.000 per dolar AS pada akhir Juli 2026.
Pada saat yang sama, investor asing mencatatkan arus masuk bersih sebesar USD1,6 triliun ke pasar saham dan USD6,4 triliun ke pasar SBN.
Tekanan kebutuhan valuta asing juga berasal dari harga minyak Brent yang bertahan di sekitar USD80 per barel. Kondisi tersebut meningkatkan kebutuhan valas untuk impor bahan bakar.
Impor migas bahkan melonjak 105,2% secara tahunan pada Juni 2026 dan turut menyebabkan neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit USD0,45 miliar, setelah sebelumnya defisit USD1,61 miliar pada Mei.
Ke depan, Bank Mandiri menilai ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan moneter AS masih menjadi risiko utama bagi pergerakan rupiah dan pasar keuangan global.
Meski terdapat perkembangan menuju kesepakatan interim antara AS dan Iran, proses negosiasi masih berlangsung sehingga risiko eskalasi tetap dapat memicu volatilitas harga minyak dan pasar keuangan global.
Sementara itu, Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50%-3,75% pada Juli 2026. Tiga anggota FOMC bahkan mendukung kenaikan suku bunga.
Tekanan inflasi AS yang masih tinggi juga berpotensi mempertahankan suku bunga AS pada level tinggi. Inflasi PCE tercatat 3,7% yoy, sedangkan inflasi inti PCE sebesar 3,3% yoy.
"Kondisi tersebut berpotensi menahan suku bunga AS tetap tinggi dan membatasi arus modal ke negara berkembang," ungkap Tim Ekonom Bank Mandiri.
(Adhitya/AI)

Sumber : admin