Dampak Positif Pengangkatan Suahasil Lebih Terasa di Pasar Obligasi Ketimbang Saham
Wednesday, September 16, 2026       09:06 WIB
  • Pengangkatan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan dinilai menurunkan ketidakpastian kebijakan dan berpotensi memberikan dampak relatif positif terhadap pasar keuangan, dengan SBN berpeluang mendapat manfaat lebih besar dibandingkan saham;
  • Kredibilitas fiskal menjadi kunci, terutama melalui penegasan defisit di bawah 3%, transparansi APBN 2026-2027, strategi pembiayaan, serta kejelasan pendanaan program prioritas dan Danantara;
  • Rupiah diperkirakan cenderung stabil hingga menguat terbatas, namun sentimen tetap dipengaruhi faktor global sehingga perbaikan kepercayaan pasar sangat bergantung pada konsistensi kebijakan fiskal Suahasil.

Ipotnews - Pengangkatan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan yang baru cenderung menurunkan ketidakpastian kebijakan sehingga memberikan dampak bersih yang relatif positif terhadap pasar keuangan dalam jangka pendek.
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk (), Josua Pardede, menilai dampak pengangkatan Suahasil justru berpotensi lebih positif kepada pasar obligasi dibandingkan pasar saham.
"Untuk pasar obligasi, dampak Suahasil menurut saya justru berpotensi lebih positif daripada pasar saham, karena harga SBN sangat sensitif terhadap persepsi atas disiplin fiskal," kata Josua saat dihubungi Ipotnews melalui pesan WhatsApp, Selasa sore (15/9).
Sebelum pergantian Menteri Keuangan, imbal hasil SBN tenor 10 tahun telah mencapai sekitar 7,16% pada 14 September, naik sekitar 109 basis poin sejak awal tahun. Padahal pada 1 September, imbal hasil tenor 10 tahun masih sekitar 7,04%.
"Karena itu, penegasan Suahasil bahwa defisit tetap di bawah 3% dan APBN harus kredibel dapat mengurangi premi risiko fiskal. Bila pesan tersebut diikuti langkah konkret, harga SBN berpeluang menguat dan imbal hasil dapat turun secara bertahap," kata Josua.
Menurut dia, terdapat pula bantalan yang cukup baik dari sisi basis investor. Per 10 September, investor nonresiden memegang sekitar Rp919 triliun SBN rupiah dan kepemilikannya meningkat sekitar Rp41 triliun sejak awal tahun.
Pada Agustus, investor asing juga masih mencatat pembelian bersih SBN sebesar Rp15,35 triliun.
"Artinya, investor global belum meninggalkan pasar SBN Indonesia. Justru pergantian kepada figur yang dianggap lebih konsisten dapat menjadi pemicu tambahan aliran modal masuk apabila kredibilitas fiskal cepat ditegaskan," jelas Josua.
Meski demikian, efek positif tersebut tidak otomatis dan bisa cepat hilang.
"RAPBN 2027 tetap sangat ambisius: belanja Rp4.097,2 triliun, pendapatan Rp3.426 triliun, pembiayaan Rp671,2 triliun, dan defisit ditargetkan 2,40% PDB dengan pertumbuhan ekonomi 5,9%," ujarnya.
Pasar, lanjut Josua, akan mempertanyakan apakah target pendapatan, pertumbuhan, dan defisit tersebut realistis.
"Karena itu, tugas Suahasil dalam beberapa minggu pertama adalah menjelaskan posisi APBN 2026 secara transparan, strategi penerbitan SBN sampai akhir tahun dan 2027, penggunaan saldo anggaran lebih, serta bagaimana seluruh program prioritas akan dibiayai tanpa menciptakan risiko fiskal tersembunyi melalui BUMN atau Danantara," kata dia.
"Kepastian angka akan jauh lebih efektif menurunkan imbal hasil SBN dibanding sekadar pernyataan yang menenangkan," imbuhnya.
Sementara itu, untuk rupiah, Josua melihat pergantian kepada Suahasil memberikan kecenderungan penguatan terbatas atau setidaknya mengurangi tekanan pelemahan. Namun, efeknya kemungkinan tidak sebesar pada pasar obligasi.
"Untuk rupiah, saya melihat pergantian kepada Suahasil memberikan kecenderungan penguatan terbatas atau setidaknya mengurangi tekanan pelemahan, tetapi efeknya kemungkinan tidak sebesar pada obligasi," ujar Josua.
Menjelang reshuffle, rupiah berada sekitar Rp17.600 per dolar AS pada 11 September dan telah melemah sekitar 5,2% sejak awal tahun.
"Dalam kondisi seperti itu, berkurangnya ketidakpastian fiskal dapat membantu rupiah melalui dua jalur: memperbaiki persepsi risiko Indonesia dan mendorong kembali aliran dana asing ke SBN maupun saham," katanya.
Bantalan eksternal Indonesia juga dinilai masih cukup memadai. Cadangan devisa pada akhir Agustus mencapai US$146,5 miliar, meningkat dari US$145,3 miliar pada Juli dan setara sekitar 5,3 bulan impor serta pembayaran utang luar negeri pemerintah.
"Bank Indonesia juga secara eksplisit menyatakan cadangan tersebut cukup untuk mendukung ketahanan eksternal dan stabilisasi rupiah. Jadi, jika pergantian Menkeu meningkatkan kepercayaan investor, BI memiliki ruang yang lebih baik untuk menjaga agar proses penguatan rupiah berlangsung teratur," jelas Josua.
Namun, Josua tidak memperkirakan rupiah langsung menguat tajam hanya karena pergantian Menteri Keuangan.
"Namun saya tidak memperkirakan rupiah langsung menguat tajam hanya karena pergantian Menkeu. Faktor global tetap sangat dominan," katanya.
KSSK sebelumnya mencatat tingginya ketidakpastian geopolitik, penguatan dolar AS dan imbal hasil obligasi Amerika Serikat, serta tekanan terhadap arus modal negara berkembang.
"Di dalam negeri, defisit transaksi berjalan meningkat menjadi sekitar 3,3% PDB pada triwulan II 2026. Dengan demikian, perbaikan sentimen akibat Suahasil dapat membantu rupiah, tetapi tidak dapat sepenuhnya melawan kenaikan harga minyak, penguatan dolar, atau perubahan ekspektasi suku bunga global," ujar Josua.
Karena itu, Josua melihat skenario dasar dalam jangka pendek adalah pasar saham membaik tetapi tetap bergejolak, pasar SBN berpotensi memperoleh manfaat paling besar melalui penurunan premi risiko, dan rupiah cenderung stabil hingga menguat terbatas.
"Risiko utama justru muncul apabila dalam beberapa minggu ke depan terdapat ketidakjelasan mengenai defisit, pembiayaan, hubungan APBN dengan Danantara, atau kebijakan perpajakan. Dalam kondisi tersebut, pemulihan pasar yang sekarang terlihat dapat cepat berbalik," tutur Josua.
Pemerintah melakukan pergantian Menteri Keuangan dengan mencopot Purbaya Yudhi Sadewa dan menunjuk Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan yang baru pada Senin, 14 September 2026.
Suahasil sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan. Ia dilantik di Istana Negara pada 14 September 2026, menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa yang menjabat sebagai Menteri Keuangan sejak 8 September 2025.(Adhitya/AI)

Sumber : Admin