Danantara Indonesia Mulai Enam Proyek Hilirisasi, Investasi USD7 Miliar
Monday, February 09, 2026       08:25 WIB
  • Danantara Indonesia memulai enam proyek hilirisasi di 13 lokasi dengan investasi US$7 miliar sebagai bagian dari fase I transformasi industri nasional.
  • Salah satu proyek utama adalah smelter bauksit-alumina-aluminium di Mempawah yang meningkatkan nilai tambah mineral hingga puluhan kali lipat.
  • Proyek ini ditargetkan menekan impor, memperkuat cadangan devisa, dan menjamin pasokan bahan baku industri dalam negeri.

Ipotnews- BPI Danantara Indonesia (Danantara Indonesia) resmi memulai pembangunan enam proyek hilirisasi secara serentak di 13 lokasi di Indonesia dengan total nilai investasi mencapai US$7 miliar. Langkah ini menandai dimulainya implementasi proyek prioritas hilirisasi fase I yang dikelola secara terintegrasi lintas sektor, meliputi energi, pangan, serta mineral dan logam.
CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani menegaskan, program hilirisasi merupakan agenda strategis nasional yang menjadi prioritas Presiden Prabowo Subianto sekaligus fokus utama Danantara dalam mendorong transformasi ekonomi nasional. Ia menyebut proyek-proyek tersebut diharapkan menjadi fondasi penguatan struktur industri nasional dan pengurangan ketergantungan impor secara bertahap.
"Ke depan, proyek hilirisasi ini diharapkan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, berkelanjutan, dan berdaya saing global," ujar Rosan dalam keterangan resmi, Jumat (6/2/2026).
Salah satu proyek utama adalah peresmian fasilitas pengolahan dan pemurnian bauksit-alumina-aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat, yang digarap bersama INALUM dan PT Aneka Tambang Tbk (). Fasilitas tersebut mencakup Smelter Aluminium Baru berkapasitas 600.000 metrik ton aluminium per tahun serta Smelter Grade Alumina Refinery Fase II dengan kapasitas 1 juta metrik ton alumina per tahun.
Melalui proyek strategis nasional ini, MIND ID sebagai holding INALUM dan menargetkan peningkatan nilai tambah hingga sekitar 70 kali lipat, dari bauksit mentah menjadi alumina dan aluminium. Harga bauksit mentah yang berada di kisaran US$40 per metrik ton dapat meningkat menjadi sekitar US$400 per metrik ton setelah diolah menjadi alumina, dan melonjak hingga US$2.800-US$3.000 per metrik ton saat diproses menjadi aluminium.
Sementara itu, PT Bukit Asam Tbk () berperan dalam memastikan ketersediaan pasokan energi untuk mendukung operasional smelter aluminium. Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin menyatakan, kehadiran fasilitas ini akan menurunkan ketergantungan impor dan memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan cadangan devisa. Saat smelter aluminium baru beroperasi penuh, cadangan devisa diperkirakan meningkat 394% dari Rp11 triliun menjadi Rp52 triliun per tahun, sekaligus memberikan kepastian pasokan bahan baku bagi industri manufaktur dalam negeri.(AI)

Sumber : Admin