- Dolar AS reli didorong data ketenagakerjaan yang kuat, memperkuat pandangan ekonomi AS tetap solid.
- Data tersebut menurunkan peluang pemangkasan suku bunga the Fed dalam waktu dekat.
- Euro dan pound melemah, sementara yen dan dolar Australia justru menguat terhadap greenback.
Ipotnews - Dolar AS reli terhadap sejumlah mata uang utama, Rabu, didorong data ketenagakerjaan yang lebih kuat dari perkiraan dan memperkokoh pandangan bahwa kondisi ekonomi Amerika Serikat masih solid. Data tersebut juga memperkecil peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat oleh Federal Reserve.
Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan penambahan 130.000 lapangan kerja sepanjang Januari, jauh di atas estimasi ekonom yang memperkirakan sekitar 70.000 pekerjaan. Tingkat pengangguran juga turun menjadi 4,3% dari 4,4% pada Desember, mencerminkan ketahanan pasar tenaga kerja, demikian laporan Reuters, di New York, Rabu (11/2) atau Kamis (12/2) pagi WIB.
Seiring rilis data tersebut, dolar menguat 0,32% terhadap franc Swiss menjadi 0,7704. Euro melemah 0,1% ke posisi USD1,188 terhadap dolar. Sementara, Indeks Dolar (Indeks DXY), ukuran greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, bergerak relatif datar setelah sebelumnya mencatat penurunan selama tiga sesi berturut-turut.
"Penguatan dolar didorong kombinasi laporan ketenagakerjaan yang kuat dan kinerja perusahaan yang solid," kata Joel Kruger, analis Group di London. "Sementara aset berisiko juga bergerak lebih tinggi karena data tersebut memangkas tetapi tidak menggagalkan ekspektasi penurunan suku bunga the Fed pada Juni, menciptakan hasil yang hampir terbaik bagi dolar dan pasar secara keseluruhan."
Sebelum rilis data tenaga kerja, pasar sempat memperkirakan angka ketenagakerjaan akan lemah, terutama setelah data penjualan ritel Desember menunjukkan perlambatan serta pernyataan penasihat ekonomi Gedung Putih, Kevin Hasset, Senin, yang mengindikasikan potensi perlambatan pertumbuhan pekerjaan dalam beberapa bulan ke depan.
Berdasarkan FedWatch Tool CME Group, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sebesar 94% bahwa the Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya, meningkat dari sekitar 80% sehari sebelumnya.
"Masih ada beberapa skeptisisme terhadap dolar tetapi menyadari bahwa pasar salah arah menjelang data lapangan kerja," kata Marc Chandler, Chief Market Strategist Bannockburn Global Forex di New York.
"Pasar masih memperkirakan pemotongan suku bunga sebesar 50 basis poin tahun ini. Jika Kevin Warsh dikonfirmasi tepat waktu sebagai kepala the Fed, pertemuan pertamanya akan berlangsung pada Juni, di mana pasar telah beralih dari memperkirakan peluang pemotongan suku bunga sebesar 97% menjadi sekitar 70%."
Di pasar mata uang lainnya, poundsterling melemah tipis 0,02% menjadi USD1,3636 terhadap dolar.
Sementara itu, yen Jepang terus melesat setelah kemenangan telak Perdana Menteri Sanae Takaichi dalam pemilu, meski sebagian penguatannya terhadap dolar sempat terpangkas. Yen tercatat melonjak 1,04% menjadi 152,76 per dolar dan juga menguat lebih dari 1% versus euro.
Dolar Australia melesat ke level tertinggi dalam tiga tahun setelah Wakil Gubernur Reserve Bank of Australia, Andrew Hauser, menegaskan inflasi masih terlalu tinggi dan bank sentral siap mengambil langkah yang diperlukan untuk menekannya. Mata uang Australia terakhir menguat 0,82% menjadi USD0,7132.
Sebaliknya, krona Swedia melemah 0,05% terhadap dolar menjadi 8,8828, sementara greenback sedikit turun 0,07% versus yuan offshore China ke posisi 6,906. (Reuters/AI)
Sumber : Admin