Defisit Transaksi Berjalan Kuartal III Membengkak, Secara Kumulatif Masih Aman
Friday, November 09, 2018       18:14 WIB

Ipotnews - Defisit neraca transaksi berjalan triwulan III 2018 membengkak menjadi 3,37 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Bank Indonesia mengumumkan, defisit transaksi berjalan pada triwulan III 2018 tercatat sebesar USD8,8 miliar (3,37% PDB), lebih tinggi dibandingkan dengan defisit triwulan sebelumnya sebesar USD8,0 miliar (3,02% PDB).
Peningkatan defisit, menurut BI, sejalan dengan menguatnya permintaan domestik. Namun secara kumulatif defisit neraca transaksi berjalan hingga triwulan III 2018 tercatat sebesar 2,86% PDB, sehingga masih berada dalam batas aman
"Peningkatan defisit neraca transaksi berjalan dipengaruhi oleh penurunan kinerja neraca perdagangan barang dan meningkatnya defisit neraca jasa" ungkap BI dalam laman resminya, Jumat (9/11).
Dijelaskan, penurunan kinerja neraca perdagangan barang terutama dipengaruhi oleh meningkatnya defisit neraca perdagangan migas, yang disebabkan oleh meningkatnya impor minyak di tengah naiknya harga minyak dunia.
Sementara itu, peningkatan surplus neraca perdagangan barang nonmigas relatif terbatas, akibat tingginya impor karena kuatnya permintaan domestik.
"Defisit neraca transaksi berjalan yang meningkat juga bersumber dari naiknya defisit neraca jasa, khususnya jasa transportasi, sejalan dengan peningkatan impor barang dan pelaksanaan kegiatan ibadah haji," lanjut BI.
Meski demikian, menurut BI, defisit neraca transaksi berjalan yang lebih besar tertahan oleh meningkatnya pertumbuhan ekspor produk manufaktur dan kenaikan surplus jasa perjalanan. Kenaikan tersebut seiring dengan naiknya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara, antara lain terkait penyelenggaraan Asian Games di Jakarta dan Palembang.
Peningkatan defisit juga tertahan oleh surplus transaksi modal dan finansial sebesar USD4,2 milar pada triwulan III 2018, didukung oleh meningkatnya aliran masuk investasi langsung. Selain itu, aliran dana asing pada instrumen Surat Berharga Negara dan pinjaman luar negeri korporasi juga meningkat.
Hal ini, "mencerminkan masih tingginya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian domestik," tulis BI.
Meskipun demikian, surplus transaksi modal dan finansial tersebut belum cukup untuk membiayai defisit transaksi berjalan, sehingga Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan III 2018 mengalami defisit sebesar 4,4 miliar dolar AS.
Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa pada akhir September 2018 menjadi sebesar USD114,8 miliar, setara dengan pembiayaan 6,3 bulan impor dan utang luar negeri pemerintah. Jumlah tersebut melebihi standar kecukupan internasional sebesar 3 bulan impor.
BI memperkirakan, kinerja NPI ke depan akan membaik dan dapat terus menopang ketahanan sektor eksternal. "Koordinasi yang kuat dan langkah-langkah konkret yang telah ditempuh Pemerintah bersama dengan Bank Indonesia untuk mendorong ekspor dan menurunkan impor diyakini akan berdampak positif dalam mengendalikan defisit transaksi berjalan tetap berada di bawah 3 persen."
BI akan terus mencermati perkembangan global yang dapat memengaruhi prospek NPI, seperti masih tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global, volume perdagangan dunia yang cenderung menurun, dan kenaikan harga minyak dunia.
"Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan guna menjaga stabilitas perekonomian, serta memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah dalam mendorong kelanjutan reformasi struktural." (*)

Sumber : Admin