Deutsche Bank: Pengurangan Neraca The Fed Berpotensi Tekan Dolar AS
Monday, July 20, 2026       05:59 WIB
  • Dolar AS berisiko melemah jika The Fed mengandalkan pengurangan neraca, bukan kenaikan suku bunga.
  • Pengalaman Jepang menunjukkan penarikan likuiditas saja tidak cukup menopang mata uang.
  • Deutsche Bank menilai langkah itu negatif bagi prospek dolar AS.

Ipotnews - Deutsche Bank menilai dolar AS berpotensi menghadapi tekanan jika Federal Reserve memilih memperketat kebijakan moneter melalui pengurangan neraca atau balance sheet dibandingkan menaikkan suku bunga acuan.
Pandangan tersebut muncul setelah bank sentral Amerika Serikat mengadopsi sikap yang lebih agresif (hawkish) pada bulan lalu di bawah kepemimpinan Chairman yang baru, Kevin Warsh. Dalam proyeksi suku bunga terbaru (dot plot), sedikitnya separuh dari 18 anggota Federal Open Market Committee ( FOMC ) memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga pada tahun ini, demikian laporan  Investing,  Minggu (19/7) atau Senin (20/7) pagi WIB.
Selain itu, Warsh dalam sejumlah penampilan publik berulang kali menegaskan komitmen the Fed untuk menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi. Dia juga meluncurkan kajian menyeluruh terhadap operasi kebijakan moneter bank sentral.
Selain menaikkan suku bunga, the Fed memiliki instrumen lain untuk memperketat kebijakan moneter, yakni mengurangi jumlah uang beredar melalui penyusutan neraca. Saat ini, ukuran neraca the Fed berada di kisaran USD6,7 triliun, turun dari puncaknya sekitar USD9 triliun pada 2022.
Kepala Riset Valuta Asing Global Deutsche Bank, George Saravelos, mengatakan pengalaman Bank of Japan (BoJ) dapat menjadi acuan dalam menilai dampak kebijakan pengurangan neraca terhadap mata uang suatu negara.
Menurut dia, meski BoJ kerap dianggap lambat dalam menaikkan suku bunga, bank sentral Jepang justru telah menarik likuiditas dari sistem keuangan dengan kecepatan yang sangat tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Langkah itu dilakukan dengan membiarkan obligasi pemerintah Jepang (Japanese Government Bonds/JGBs) yang jatuh tempo keluar dari neracanya tanpa digantikan oleh pembelian baru.
Saravelos menilai pengalaman Jepang menunjukkan bahwa pengetatan melalui pengurangan neraca tidak otomatis mendukung penguatan mata uang apabila tidak disertai kenaikan imbal hasil obligasi jangka pendek.
Dia menunjuk pelemahan yen yang sempat menyentuh level terendah dalam empat dekade terhadap greenback sebagai bukti bahwa penarikan likuiditas saja tidak cukup untuk memperkuat mata uang. Menurutnya, temuan tersebut juga sejalan dengan bukti empiris yang menunjukkan bahwa kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang AS tanpa didukung kenaikan suku bunga jangka pendek cenderung tidak memberikan dorongan signifikan bagi dolar.
Yen sendiri hingga kini masih bertahan di atas level yang sebelumnya memicu intervensi pemerintah Jepang pada awal 2026.
Selain dampaknya terhadap nilai tukar, Saravelos juga memperingatkan bahwa strategi pengurangan neraca berpotensi memicu ketegangan antara the Fed dan pemerintahan AS. Hal itu karena pemerintah AS selama ini memiliki kepentingan untuk menjaga agar imbal hasil obligasi tenor panjang tetap rendah guna menekan biaya pembiayaan utang.
Dia mencontohkan Jepang, di mana independensi BoJ kerap menjadi sorotan, sementara Menteri Keuangan secara terbuka membahas pemanfaatan tabungan domestik untuk mendukung pasar obligasi pemerintah.
Lebih lanjut, Deutsche Bank menilai kepemilikan surat utang pemerintah AS oleh the Fed saat ini sebenarnya tidak tergolong berlebihan jika dibandingkan ukuran ekonomi maupun praktik bank sentral utama lainnya.
Karena itu, bank investasi asal Jerman tersebut belum yakin bahwa ukuran neraca the Fed saat ini terlalu besar ataupun bahwa pengurangannya akan menjadi alat yang efektif untuk melawan inflasi.
Meski demikian, jika the Fed pada akhirnya memutuskan mengalihkan fokus pengetatan kebijakan dari kenaikan suku bunga ke pengurangan neraca, Deutsche Bank menilai langkah tersebut akan menjadi perkembangan yang jelas negatif bagi prospek dolar AS. (Investing/AI)

Sumber : Admin