Dolar Tertekan Kejatuhan Imbal Hasil US Treasury, "Risk Aversion" Katrol Yen
Friday, December 07, 2018       06:15 WIB

Ipotnews - Dolar melemah terhadap mata uang utama lainnya, Kamis, karena penurunan imbal hasil US Treasury, dan trader mengurangi ekspektasi tentang jumlah kenaikan suku bunga yang akan diimplementasikan The Fed di tengah melemahnya data ekonomi dan meningkatnya volatilitas pasar.
Imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun menembus level terendah tiga bulan di posisi 2,826 persen. Terakhir, surat utang tersebut turun lebih dari lima basis poin menjadi 2,867 persen, demikian laporan Reuters dan Xinhua, di New York, Kamis (6/12) atau Jumat (7/12) pagi WIB.
Euro menguat 0,26 persen menjadi USD1,1373.
"Masalah bagi dolar benar-benar penurunan imbal hasil US Treasury dan memudarnya ekspektasi Federal Reserve," kata Shaun Osborne, Kepala Strategi FX Scotiabank di Toronto.
Penyusun kebijakan The Fed secara luas masih diperkirakan untuk menaikkan suku bunga lagi pada pertemuan 18-19 Desember, tetapi fokus pasar lebih pada berapa banyak kenaikan suku bunga di 2019.
Suku bunga berjangka menunjukkan bahwa para pedagang tidak melihat lebih dari satu kenaikan tarif dari Fed pada 2019, dibandingkan dengan ekspektasi sebulan sebelumnya untuk kemungkinan dua kenaikan suku bunga, menurut program FedWatch CME Group.
Investor memperkirakan tak ada kenaikan suku bunga lebih dari satu kali pada 2019, dibandingkan ekspektasi sebulan sebelumnya untuk kemungkinan dua kali kenaikan suku bunga The Fed, menurut alat FedWatch CME Group.
Dolar berada di bawah tekanan pekan ini, ketika terjadi inversi pada kurva imbal hasil US Treasury yang menaikkan kekhawatiran untuk potensi resesi.
"Ada kekhawatiran yang berkembang mengenai lintasan ekonomi Amerika secara keseluruhan," ucap Eric Viloria, analis Credit Agricole di New York.
Beberapa kekhawatiran tersebut berasal dari perlambatan pertumbuhan global, katanya.
Jika ada perlambatan pertumbuhan global, Amerika Serikat tidak akan kebal, tutur Robert Kaplan, Presiden Federal Reserve Bank Dallas, dalam wawancara dengan CNBC .
Prospek memudarnya stimulus fiskal di Amerika Serikat juga menekan kepercayaan investor dalam prospek pertumbuhan ekonomi AS, ungkap Viloria.
Data yang dirilis Kamis menunjukkan defisit perdagangan Amerika melonjak ke level tertinggi 10 tahun pada Oktober karena ekspor kedelai menyusut dan impor barang-barang konsumsi naik ke rekor tertinggi, menunjukkan langkah-langkah terkait tarif yang diusung pemerintahan Trump untuk mengecilkan kesenjangan perdagangan mungkin tidak efektif.
Kamis, greenback melemah terhadap yen Jepang dan franc Swiss, yang diburu investor selama periode penghindaran risiko (risk aversion), karena sentimen risiko global terpukul setelah berita penangkapan petinggi raksasa teknologi China, Huawei, di Kanada, mendorong ketakutan akan ketegangan perdagangan AS-China.
Dengan tergerusnya risk appetite, mata uang yang sensitif terhadap komoditas, seperti dolar Australia dan Selandia Baru, tergelincir terhadap greenback.
Pada akhir perdagangan di New York, poundsterling menguat jadi USD1,2776 dari USD1,2736 pada sesi sebelumnya. Dolar Australia turun menjadi USD0,7222 dari USD0,7264 dolar.
Dolar AS dibeli 112,64 yen, lebih rendah dari 113,19 yen pada sesi sebelumnya. Kurs greenback turun menjadi 0,9931 franc Swiss dari 0,9978 franc Swiss, dan menguat jadi 1,3392 dolar Kanada dari 1,3384 dolar Kanada. (ef)

Sumber : Admin