Dolar "Melempem", Yen Melejit Pasca Kejatuhan Wall Street
Thursday, October 11, 2018       14:14 WIB

Ipotnews - Dolar AS, biasanya dilihat sebagai tempat berlindung yang aman saat terjadi gejolak, mengejutkan sejumlah analis, Kamis petang, karena melemah setelah investor yang ketakutan mendorong Wall Street mencetak penurunan terburuk dalam hampir delapan bulan.
Indeks dolar, ukuran greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, turun 0,25 persen menjadi 95,27, setelah menembus setingginya 95,79 pada sesi sebelumnya, demikian laporan Reuters, di Singapura, Kamis (11/10).
"Dalam lingkungan di mana pelaku pasar ketar-ketir mengenai meningkatnya volatilitas, dolar cenderung menguat - terutama dibandingkan mata uang berisiko tinggi seperti dolar Australia dan Kanada," kata Stuart Ritson, analis Aviva Investors, yang berbasis di Singapura.
"Tampaknya ada disconnect dan tidak ada penjelasan yang jelas mengapa dolar tidak bergerak lebih baik saat terjadi risk-off," tutur Ray Attrill, analis NAB di Sydney.
"Yen terus menunjukkan warnanya sebagai risk haven proxy favorit pasar," ucap Attrill.
Mata uang safe haven yen menguat jadi 112,19 terhadap dolar, level tertinggi bulan ini, mendapatkan dorongan dari penghindaran risiko (risk aversion) di tengah peringatan Dana Moneter Internasional (IMF) atas pertumbuhan dan stabilitas keuangan global.
"Ada tawaran untuk negara-negara yang mencatatkan neraca transaksi berjalan (current account) surplus dengan yen dan euro mendapatkan dukungan kuat," kata ANZ.
Tekad Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga selama 12 bulan ke depan mendorong imbal hasil US Treasury, yang didukung lebih lanjut oleh data ekonomi Amerika yang kuat.
"Kami memperkirakan kenaikan inflasi akan menjaga The Fed menaikkan suku bunga pada kecepatan sekali per kuartal hingga pertengahan 2019," tutur Capital Economics.
Ekspektasi kenaikan suku bunga yang hawkish mulai terlihat, Rabu, ketika aksi jual mendorong Nasdaq untuk ditutup pada posisi 7.044,49, level terendah sejak awal Juli.
S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average tidak terlalu jauh di belakang, keduanya jatuh lebih dari tiga persen.
Baca Juga: Wall Street Jeblok, Dow Catat Kejatuhan Terburuk Sejak Februari
Imbal hasil US Treasury 10-tahun menjauh dari posisi tertinggi tujuh tahun 3,261 persen pada sesi Selasa menjadi 3,1611 persen
Euro naik 0,27 persen menjadi USD1,1550 pada perdagangan Kamis setelah mencapai level terendah USD1,1477 di sesi sebelumnya.
Tetapi kenaikan euro kemungkinan akan terbatas dengan pasar mengkhawatirkan keberlanjutan APBN Italia, meski Menteri Ekonomi Italia Giovanni Tria menegaskan pemerintah akan melakukan segala daya untuk mendapatkan kembali kepercayaan pasar keuangan.
Dolar Kanada berpindah tangan pada posisi USD1,3041, tidak jauh dari tingkat terendah Oktober, yakni USD1,3069 yang dicapai Rabu.
Dolar Australia, sering dipandang sebagai ukuran selera risiko (risk appetite) global, diperdagangkan USD0,7072, menguat 0,25 persen pada sesi Kamis.
Dolar Selandia Baru diperdagangkan pada posisi USD0,6472, di atas level terendah multitahun USD0,6422 yang terlihat awal pekan ini. (ef)

Sumber : Admin