El Nino Kuat Mulai Terbentuk, Cuaca Panas dan Kering Ancam Produksi Pertanian Asia
Thursday, June 04, 2026       14:50 WIB
  • Cuaca panas dan kering mulai merusak tanaman pangan di Asia, sementara El Nino kuat diperkirakan berkembang pada paruh kedua 2026.
  • Kekeringan menekan produksi padi, gandum, dan kelapa sawit dari India hingga Indonesia, serta berpotensi menunda musim tanam.
  • Kekhawatiran pasokan mendorong harga gandum naik 20% sejak awal tahun dan harga beras Asia Tenggara melonjak sekitar 15% dalam sebulan terakhir.

Ipotnews - Cuaca panas dan kering mulai mengganggu penanaman tanaman pangan di berbagai negara Asia. Kondisi ini diperkirakan akan semakin memburuk seiring terbentuknya fenomena El Nino yang kuat.
Mengutip informasi dari petani, analis, dan pedagang, laman Reuters, Kamis (4/6) melaporkan, dari wilayah penghasil gandum di barat laut India hingga sentra gandum Australia bagian timur, serta dari persawahan Thailand hingga perkebunan kelapa sawit Indonesia, suhu tinggi dan curah hujan di bawah normal mulai merusak tanaman serta memaksa petani mengurangi luas tanam.
Kekeringan akibat El Nino menjadi pukulan ganda bagi petani yang sebelumnya telah menghadapi kelangkaan pupuk dan solar akibat perang Iran.
Harga gandum telah naik sekitar 20% sejak awal 2026, terutama karena kekhawatiran terhadap kekeringan di wilayah utama penghasil gandum Amerika Serikat. Sementara itu, harga beras di pusat ekspor utama Asia Tenggara melonjak sekitar 15% dalam sebulan terakhir akibat meningkatnya biaya produksi dan kekhawatiran terhadap pasokan yang lebih ketat.
Salah satu El Nino terkuat yang pernah tercatat diperkirakan akan berkembang pada paruh kedua 2026. Fenomena ini diprediksi membawa cuaca panas dan kering ke Asia serta hujan berlebihan ke kawasan Amerika, dengan perubahan iklim global memperparah dampaknya.
"Dampak El Nino secara global dimulai dari Asia Tenggara, India, dan Australia sebelum meluas ke Amerika Utara dan Amerika Selatan," kata Chris Hyde, meteorolog yang berbasis di AS dari perusahaan data satelit SkyFi kepada Reuters.
Menurut Hyde, tanda-tanda awal kekeringan sudah terlihat pada citra satelit resolusi tinggi perusahaan tersebut di sejumlah wilayah Asia.
Di India, badan meteorologi pekan lalu kembali menurunkan proyeksi musim hujan monsun selama empat bulan yang menyumbang sekitar 70% curah hujan tahunan negara itu.
"Dengan suhu di sebagian besar wilayah negara masih jauh di atas normal, kondisi saat ini tidak mendukung penanaman tanaman musim panas tepat waktu," kata seorang pedagang di New Delhi yang bekerja untuk perusahaan perdagangan global.
Ia menambahkan bahwa musim tanam kemungkinan tertunda akibat lambatnya kedatangan monsun. Namun, kekhawatiran yang lebih besar adalah potensi curah hujan di bawah normal dan periode kering berkepanjangan setelah monsun tiba.
India menanam padi, kedelai, kacang-kacangan, tebu, dan jagung pada musim panas.
Di Asia Tenggara, kondisi kering mulai menekan produktivitas padi dan kelapa sawit di beberapa wilayah.
"Semua orang khawatir soal kekeringan, ini berisiko," ujar Nerawat Oramah, petani berusia 47 tahun di Provinsi Chainat, Thailand tengah.
Thailand dan Filipina biasanya menanam padi utama pada Juni-Juli, sementara Vietnam dan Indonesia saat ini memasuki musim tanam kedua.
Menurut badan meteorologi Indonesia, Pulau Jawa yang merupakan wilayah terpadat penduduk serta sejumlah daerah di Sumatra Utara, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi tidak mengalami hujan selama lebih dari 10 hari. Curah hujan pada Juni diperkirakan berada pada kategori rendah hingga sedang.
Harga beras terus meningkat meskipun India, yang menyumbang sekitar 40% ekspor beras dunia, masih memiliki stok melimpah setelah beberapa tahun panen mendekati rekor.
"Ada indikasi jelas terjadinya krisis karena harga beras naik signifikan tanpa adanya kekurangan pasokan besar," kata seorang pedagang dari perusahaan perdagangan internasional di Singapura.
Ia menambahkan harga beras Thailand telah naik sekitar 15% dalam satu bulan terakhir.
Meski demikian, KKP Research, unit riset dari Kiatnakin Phatra Bank Thailand, menilai dampak kekeringan dapat sedikit diredam oleh tingginya cadangan air di waduk.
"Yang lebih kami khawatirkan adalah pasokan pupuk," tulis bank tersebut dalam catatan kepada Reuters.
"Kami memperkirakan kekurangan pupuk, jika terjadi, dapat menurunkan produksi beras hingga 15%-20% dalam skenario terburuk."
Di Australia, hujan yang baru-baru ini turun di lahan pertanian yang sebelumnya kering memungkinkan penanaman gandum terlambat. Namun para petani tetap mewaspadai El Nino yang dapat memangkas hasil panen dalam beberapa bulan mendatang.
Biro Meteorologi Australia memperkirakan banyak wilayah pertanian di New South Wales dan Queensland akan menerima curah hujan 20 hingga 40 milimeter lebih rendah dari normal selama tiga bulan ke depan.
Sementara itu, El Nino diperkirakan berdampak netral terhadap China dan kawasan Laut Hitam, tetapi berpotensi meningkatkan curah hujan di wilayah Amerika. (Reuters)

Sumber : admin