Emas Bersinar Kembali di Tengah Kekhawatiran Perang Dagang Global
Thursday, July 12, 2018       15:09 WIB

Ipotnews - Harga emas naik tipis, Kamis petang, mengakhiri dua sesi penurunan di tengah kekhawatiran atas perang perdagangan yang semakin intensif antara Amerika Serikat dan China.
Harga emas di pasar spot menguat 0,2 persen menjadi USD1.244 per ounce pada pukul 06.50 GMT, demikian laporan Reuters, di Bengaluru, Kamis (12/7).
Di sesi sebelumnya, emas spot tergelincir satu persen untuk mencapai titik terendah dalam lebih dari sepekan, yakni USD1.240,89 per ounce. Sementara, emas berjangka Amerika untuk kontrak pengiriman Agustus sedikit berubah pada posisi USD1.244 per ounce.
"Hari ini adalah satu dari beberapa hari di mana kekhawatiran perang dagang membawa (beberapa) interest untuk emas," kata Naeem Aslam, Kepala Analis Pasar ThinkMarkets.com.
"Kami tahu pasti bahwa Presiden Donald Trump sangat serius sehubungan dengan tarif perdagangan terhadap China. Sekali lagi, reaksi balasan dari China sudah diperkirakan dan reaksi itu akan memiliki kecenderungan untuk meningkatkan ketegangan lebih lanjut. Jadi emas mungkin tetap bullish untuk waktu sedikit lebih lama."
Saham dan komoditas sedikit pulih, Kamis, karena pasar berkonsolidasi dari penurunan tajam di sesi sebelumnya, ketika kekhawatiran meningkatnya perang dagang Amerika-China mengguncang sentimen investor.
Beijing menuding Amerika Serikat melakukan intimidasi dan memperingatkan akan melakukan aksi balasan setelah pemerintahan Trump meningkatkan tekanan dalam sengketa perdagangan mereka, mengancam tarif 10 persen senilai USD200 miliar terhadap barang-barang China dalam sebuah langkah yang mengguncang pasar global.
"Logam mulia (emas) cenderung menguat hari ini karena dimulainya aksi beli setelah harga melayang di atas level support utama untuk saat ini," papar Benjamin Lu, analis Phillip Futures, Singapura.
Investor kerap beralih ke emas sebagai apa yang disebut aset safe haven saat terjadi ketidakpastian ekonomi atau politik.
Sementara itu, dolar melesat ke level tertinggi enam bulan terhadap yen dan stabil terhadap mata uang utama lainnya, Kamis, setelah data inflasi Amerika menegaskan kembali ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga dua kali lagi tahun ini.
"Eskalasi lebih lanjut dari perang dagang adalah saling merusak mengingat harga konsumen Amerika tercatat lebih tinggi sebagai akibat dari tarif impor, yang pada gilirannya bisa memicu risiko kenaikan suku bunga The Fed yang lebih cepat dari perkiraan," tutur OCBC .
Dolar yang lebih kuat dan suku bunga yang lebih tinggi mengurangi permintaan untuk emas yang tidak memberikan imbal hasil karena logam kuning itu menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Di antara logam mulia lainnya, perak 0,7 persen lebih tinggi menjadi USD15,86 per ounce. Sebelumnya, perak jatuh ke titik terendah sejak pertengahan Desember, yakni USD15,72 per ounce.
Platinum naik 0,3 persen menjadi USD827,30 per ounce, setelah merosot ke level terendah satu pekan di posisi USD821,25 sebelumnya, sedangkan palladium menguat 0,1 persen menjadi USD938,80 per ounce. (ef)

Sumber : Admin

berita terbaru
Thursday, Jul 19, 2018 - 11:46 WIB
Indosat Realisasikan Obligasi Rp 2,71 Triliun
Thursday, Jul 19, 2018 - 11:45 WIB
Jasa Marga Raup Laba Bersih Rp 1,04 Triliun
Thursday, Jul 19, 2018 - 11:45 WIB
BTPN Bukukan Laba Bersih Rp 1,09 Triliun
Thursday, Jul 19, 2018 - 11:45 WIB
Penjualan Kabelindo Murni Turun 29,45%
Thursday, Jul 19, 2018 - 11:44 WIB
Penjualan HEXA Capai 22,95% Dari Target
Thursday, Jul 19, 2018 - 11:27 WIB
INCO mengintip potensi mobil listrik