Emerging Market Berpeluang Reli, Setelah Terpuruk pada Tahun lalu
Monday, February 11, 2019       14:58 WIB

Ipotnews - Sikap Federal Reserve AS yang melunak, bahkan menjanjikan untuk bertindak lebih "sabar" dalam menaikan suku bunga di masa depan, membuka peluang bagi emerging market untuk berkinerja lebih baik pada tahun ini. Mata uang emerging market (EM), berpotensi reli.
Tahun lalu, masalah ekonomi di Argentina dan Turki, serta pengetatan kebijakan moneter The Fed, telah menyebabkan aksi jual beberapa mata uang EM. Beberapa indeks saham pasar negara berkembang juga turun tajam. Meningkatnya suku bunga membuat negara-negara berkembang lebih sulit untuk melunasi utang AS-dolar mereka.
Mary Nicola, ahli strategi valuta asing G-10 dan pendapatan tetap Asia di Eastspring Investments meyakini, pasar-pasar tersebut tahun ini akan berbalik menguat."Setelah The Fed menyatakan akan bersabar, kami pikir, EM memiliki ruang untuk melanjutkan kenaikan. Jika kita memperhatikan apa yang terjadipadaemerging markettahun lalu, pelemahan EM banyak terkait dengan faktorkenaikan suku bungaThe Fed," katanya seperti dikutip CNBC ,Senin (11/2).
"Sekarang karena kenaikan suku The Fed agak tertahan, dan Fed mampu bersabar, kondisi pendanaan EM tidak akan seketat sebelumnya," imbuhnya. Dengan perkembangan tersebut, maka menurutnya, investor perlu mempertimbangkan untuk masuk kembali ke emerging market pada tahun ini.
"Di belakang itu, kami berpikir bahwa ada ruang bagi EM untuk mengamalami reli. Kami pikir mereka benar-benar murah pada saat ini ... dan kami bisa melihat ada semacam potensi ... selama suku bunga The Fed tetap ditahan," kata Nicola.
Dua pekan lalu, The Fed memutuskan untuk tidak menaikkan suku bunga selama pertemuan kebijakannya. The Fed juga menjanjikan bahwa langkahnya mendatang kan akan dilakukan dengan sabar dan dengan memperhatikan perkembangan kondisi ekonomi.
Berbeda dengan kebijakan beberapa tahun terakhir, The Fed kini membahasakan bahwa kenaikan suku bunga kemungkinan besar akan dibenarkan, dengan mengadopsi pendekatan yang lebih hati-hati
Dengan memperhatikan hal tersebut, Nicola merekomendasikan mata uang negara-negara EM dengan fundamental yang kuat, seperti rupiah Indonesia, lira Turki, dan rubel Rusia. Namun demikian, meskipun ada ruang untuk apresiasi dalam lira, Nicola memberi catatan bahwa Turki perlu lebih banyak melakukan reformasi.
Tentang Rubel, Nicla mengatakan, meskipun ketegangan geopolitik berlanjut, ekonomi Rusia berjalan "cukup baik."
Sedangkan mengenai rupiah, ia mengatakan, September tahun lalu rupiah jatuh ke level terlemahnya terhadap dolar dalam lebih dari 20 tahun. Oleh karena masih banyak ruang bagi rupiah untuk kembali ke nilai fundamentalnya. (Bloomberg/kk)

Sumber : Admin