Fitch Pertahankan Peringkat `Investment Grade` Indonesia
Thursday, March 14, 2019       19:51 WIB

Ipotnews - Lembaga pemeringkat Fitch Ratings (Fitch) mengafirmasi peringkat utang (sovereign credit rating)Indonesia pada level BBB/outlook stabil atau layak investasi (nvestment Grade). Sebelumnya, Fitch juga mempertahankan peringkat Indonesia pada2 September 2018.
"Afirmasi rating Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil mencerminkan keyakinan lembaga rating atas perekonomian Indonesia dan resiliensi sektor eksternal Indonesia di tengah kondisi ekonomi global yang masih dipenuhi ketidakpastian," kata Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo.
"Ke depan, Bank Indonesia akan tetap konsisten menempuh bauran kebijakan untuk memperkuat stabilitas eksternal dan mendorong momentum pertumbuhan ekonomi. Untuk itu, koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait juga akan terus dipererat," imbuhnya seperti dikutip di laman BI, Kamis (14/3).
"Peringkat Indonesia menyeimbangkan prospek pertumbuhan PDB yang baik dan beban utang pemerintah yang kecil, dengan tantangan eksternal seperti ketergantungan yang kuat pada sumber pembiayaan eksternal, pendapatan pemerintah yang rendah, dan beberapa indikator struktural yang tetap di bawah negara-negara yang setara (peers)," tulis Fitch Rating dalam rilisnya, hari ini.
Menurut Fitch, seperti dikutip BI,prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia terus menunjukkan penguatan dibandingkan dengan negara peers. Permintaan domestik diperkirakan tetap tangguh di tengah kinerja ekspor yang terbatas dipengaruhi permintaan global yang melambat.
Konsumsi dan investasi tetap menjadi sumber utama pertumbuhan seiring dengan adanya bonus gaji pegawai negeri sipil, peningkatan dana bantuan sosial, dan pelaksanaan berbagai proyek infrastruktur khususnya oleh BUMN .
Dari sisi eksternal, Fitch menilai sovereign credit Indonesia diyakini tetap tangguh (resilient) dalam menghadapi kemungkinan terjadinya pergerakan nilai tukar yang cukup signifikan jika terjadi gejolak pasar. Kondisi tersebut mungkin terjadi apabila otoritas moneter Amerika Serikat kembali melakukan pengetatan kebijakan moneter pada akhir tahun.
Rendahnya beban utang pemerintah dibanding negara peers menjadi faktor peredam tekanan sementara bank-bank besar memiliki resiliensi terhadap kondisi tekanan yang bersifat signifikan. Inflasi IHK secara rata-rata diperkirakan mencapai 3.4% di 2019 dan suku bunga kebijakan diperkirakan tidak akan berubah.
"Hal ini sejalan dengan tujuan BI untuk memperkuat stabilitas eksternal dengan mengendalikan defisit neraca transaksi berjalan dan menjaga daya tarik aset keuangan Indonesia. BI juga diperkirakan menempuh pelonggaran kebijakan makroprudensial dalam waktu dekat," ungkap Fitch.
Pada sisi fiskal, pengurangan defisit fiskal menjelang pelaksanaan Pemilu 2019 menunjukkan sikap konservatif Indonesia di bidang kebijakan fiskal. Defisit fiskal tercatat 1,8% dari PDB pada tahun 2018 atau lebih rendah daripada defisit fiskal pada 2017 yang mencapai 2,3%, sebagian besar ditopang pertumbuhan penerimaan yang tinggi serta upaya untuk memperbaiki penerimaan pajak.
Risiko yang bersumber dari sektor perbankan dinilai terbatas seiring dengan permodalan bank yang kuat, dengan rasio kecukupan modal mencapai 22,9% pada Desember 2018. Secara umum, kewajiban bank dalam valas dapat di-cover dengan aset atau telah dilakukan lindung nilai. Di samping itu, sebagian kewajiban merupakan pembiayaan yang berasal dari perusahaan induk. (*)

Sumber : Admin