Gandum Melesat, Gejolak Laut Hitam dan Timur Tengah Guncang Pasar Komoditas
Monday, July 20, 2026       08:00 WIB

Ipotnews - Harga gandum dan kedelai berjangka menguat, Senin, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan global akibat gangguan pengiriman di kawasan Laut Hitam serta lonjakan harga minyak yang dipicu eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Kontrak gandum yang paling aktif di Chicago Board of Trade ( CBOT ) naik USD2,00 atau 0,29 persen menjadi USD684,75 per bushel pada pukul 07.34 WIB, tak jauh dari level tertinggi sejak Juni 2024 yang disentuh pada sesi Jumat, demikian laporan  Reuters  dan  Bloomberg,  di Singapura, Senin (20/7).
Sementara itu, harga kedelai menguat 0,67 persen atau USD8,00 menjadi USD1.211,00 per bushel, sedangkan jagung melompat 0,91 persen atau USD4,25 ke posisi USD471,75 per bushel.
Pasar gandum mendapat dukungan dari berlanjutnya gangguan pengiriman di kawasan Laut Hitam yang merupakan salah satu jalur ekspor biji-bijian terpenting dunia. Serangan terhadap kapal-kapal yang terkait dengan Rusia dan Ukraina menghambat distribusi gandum pada periode puncak musim pemasaran ekspor dari kawasan tersebut.
Ketegangan yang meningkat antara kedua negara di Laut Hitam dan Laut Azov itu menimbulkan kekhawatiran baru terhadap kelancaran pasokan global. Kawasan tersebut selama ini memegang peranan penting dalam perdagangan gandum internasional.
Pada Jumat, Rusia dilaporkan menyerang dua kota pelabuhan Ukraina di Laut Hitam yang menyebabkan tiga orang tewas. Pejabat Ukraina menyatakan serangan itu sebagai bagian dari upaya Moskow untuk meningkatkan tekanan terhadap jalur perdagangan utama negara tersebut.
Di pasar kedelai, kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor utama yang mendorong penguatan. Minyak nabati, termasuk minyak kedelai, semakin banyak digunakan sebagai bahan baku produksi biofuel sehingga kenaikan harga energi biasanya memberikan dukungan tambahan bagi harga komoditas pertanian tersebut.
Reli harga minyak terjadi setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran semakin memanas. Harga minyak Brent melonjak 3 persen pada Senin dan menembus level USD90 per barel setelah kedua negara meningkatkan serangan di Timur Tengah yang berdampak pada pengiriman energi melalui Selat Hormuz.
Selain faktor energi, harga kedelai juga ditopang oleh permintaan global yang tetap kuat, terutama dari China sebagai importir terbesar dunia. Pekan lalu, Departemen Pertanian Amerika Serikat ( USDA ) mengonfirmasi penjualan swasta sebanyak 340.000 ton metrik kedelai AS ke China.
USDA juga melaporkan penjualan tambahan sebanyak 110.000 ton ke pembeli yang tidak disebutkan identitasnya serta 256.634 ton ke Meksiko, menandakan permintaan ekspor masih cukup solid meski harga mengalami kenaikan.
Dari Eropa, pasar juga mencermati kondisi cuaca yang kurang mendukung produksi pertanian. Badan pertanian Prancis, FranceAgriMer, melaporkan kondisi tanaman biji-bijian di negara tersebut kembali memburuk pada pekan lalu akibat cuaca yang sangat panas dan kering.
Prancis merupakan produsen biji-bijian terbesar di Uni Eropa, sehingga penurunan kualitas tanaman berpotensi memengaruhi prospek pasokan regional dan memberikan dukungan tambahan bagi harga komoditas pertanian global.
Di sisi lain, pasar keuangan Asia bergerak hati-hati karena meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk Persia mendorong kenaikan harga minyak sekaligus memunculkan kembali kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global. Investor juga menantikan gelombang laporan keuangan perusahaan teknologi besar pekan ini yang diperkirakan akan menjadi ujian berikutnya bagi optimisme pasar terhadap sektor kecerdasan buatan (AI). (Reuters/Bloomberg/AI)

Sumber : Admin