- Dolar AS melemah setelah penguatan awal akibat konflik Teluk.
- Pasar menanti arah suku bunga the Fed.
- Yen tertekan di tengah risiko intervensi Jepang.
Ipotnews - Dolar AS melemah, Senin, setelah kehilangan penguatan yang sempat diraih pada awal sesi. Investor kembali mencermati meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk, sementara yen tertekan setelah laporan menyebut Tokyo belum memiliki rencana segera untuk mengubah alokasi aset dana pensiun negara.
Dolar AS sebelumnya menguat seiring kenaikan harga minyak dunia, namun kemudian berbalik melemah. Euro tercatat naik 0,15 persen terhadap dolar AS menjadi USD1,1433. Poundsterling bergerak stabil di level USD1,339, sedangkan dolar Australia melemah tipis 0,1 persen menjadi USD0,694, demikian laporan Reuters, di London, Senin (13/7).
Tekanan terhadap pasar valuta asing terjadi setelah pasukan Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat aksi saling serang menggunakan rudal dan drone pada akhir pekan. Iran dilaporkan menargetkan fasilitas Amerika Serikat di sejumlah negara kawasan Teluk, Minggu, serta menyatakan kembali menutup jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Kondisi tersebut mendorong harga minyak melesat. Kontrak berjangka minyak mentah Brent melompat sekitar 3 persen menjadi USD78,50 per barel.
Indeks Dolar AS (Indeks DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, sempat naik 0,3 persen, sebelum akhirnya berbalik turun 0,2 persen ke posisi 100,83.
Kepala Pasar Asia Pasifik Capital Economics di Wellington, Thomas Mathews, mengatakan dolar AS sebelumnya menjadi salah satu aset yang paling diuntungkan ketika konflik geopolitik serupa terjadi. Namun, menurutnya, situasi saat ini berbeda karena dolar sudah mengalami penguatan signifikan dan pasar telah memperhitungkan perubahan prospek kebijakan Federal Reserve.
"Tidak jelas bagi saya apakah dolar akan kembali menguat sebesar sebelumnya jika situasi terus memburuk," ujar Mathews, seraya menilai kondisi tersebut kemungkinan sudah tercermin dalam perdagangan saat ini.
Pelaku pasar juga meningkatkan perhatian terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve. Berdasarkan FedWatch Tool CME Group, kontrak berjangka suku bunga the Fed menunjukkan peluang tersirat sebesar 50 persen bahwa bank sentral AS akan menaikkan suku bunga dua kali atau lebih sebelum pertemuan Desember. Angka tersebut sedikit meningkat dibandingkan posisi pada Jumat lalu.
Analis Westpac dalam laporan risetnya menyebut risiko inflasi masih menjadi fokus utama pasar, terutama menjelang rilis data indeks harga konsumen (CPI) Amerika Serikat, Selasa, indeks harga produsen (PPI) pada hari berikutnya, serta kesaksian Chairman Fed Kevin Warsh di hadapan Kongres AS.
Waspadai Intervensi Tokyo
Di sisi lain, yen kembali mengalami tekanan terhadap dolar AS setelah laporan Reuters menyebut pemerintah Jepang tidak memiliki rencana dalam waktu dekat untuk mengubah komposisi aset dana pensiun negara.
Dolar AS terakhir tercatat menguat 0,2 persen terhadap yen jadi 162,05 yen. Pergerakan tersebut kembali membuat pelaku pasar waspada terhadap kemungkinan intervensi pemerintah Jepang, mengingat mata uang Negeri Sakura itu masih berada di sekitar level terlemah dalam 40 tahun terakhir.
Sebelumnya, yen dan obligasi pemerintah Jepang sempat menguat pada Jumat setelah Menteri Keuangan Satsuki Katayama mengatakan pemerintah akan mencari cara untuk mendorong dana pensiun, termasuk Government Pension Investment Fund ( GPIF ), meningkatkan investasi pada aset-aset keuangan domestik Jepang.
Namun, dua sumber pemerintah mengatakan kepada Reuters bahwa meskipun pemerintah sedang mengeksplorasi langkah untuk meningkatkan investasi tersebut dalam batasan portofolio acuan yang berlaku, kebijakan itu tidak akan langsung mengubah target jangka menengah GPIF .
Kepala Global Markets ING, Chris Turner, mengatakan kemungkinan intervensi pemerintah Jepang tetap terbuka pada pekan ini. Namun, dia menilai langkah intervensi saja tidak cukup untuk membalikkan tren penguatan dolar terhadap yen.
"Untuk mengubah tren tersebut, harga energi harus turun dan Federal Reserve harus menyimpulkan bahwa kenaikan suku bunga tidak lagi diperlukan," kata Turner. (Reuters/AI)
Sumber : Admin