Greenback Perkasa, Yen Jatuh ke Level Terlemah Sejak Juli 2024
Wednesday, January 14, 2026       04:10 WIB
  • Yen turun 0,6% ke 159,11 per dolar AS, level terendah sejak Juli 2024, memicu kewaspadaan potensi intervensi Jepang.
  • Tekanan dipicu faktor domestik Jepang, termasuk wacana pemilu dini dan kekhawatiran kebijakan fiskal-moneter longgar di era PM Takaichi.
  • Dolar AS menguat, ditopang inflasi AS yang moderat dan ekspektasi the Fed menahan suku bunga hingga setidaknya Juni.

Ipotnews - Nilai tukar yen merosot ke level terlemah terhadap dolar AS sejak Juli 2024, Selasa, di tengah kekhawatiran pasar terhadap potensi pelonggaran kebijakan fiskal dan moneter di Jepang.
Yen melemah 0,6 persen terhadap dolar AS ke posisi 159,11 per dolar. Pelemahan tajam tersebut juga membuat pelaku pasar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan intervensi pemerintah Jepang untuk menopang mata uangnya, demikian laporan  Reuters,  di New York, Selasa (13/1) atau Rabu (14/1) pagi WIB.
Tekanan terhadap yen muncul setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dikabarkan tengah mempertimbangkan pemilu parlemen lebih awal. Ketua partai mitra koalisinya, Minggu, mengatakan pemungutan suara dapat digelar lebih cepat, menyusul laporan media yang menyebutkan kemungkinan pemilu pada Februari.
Langkah tersebut berpotensi memberi Takaichi kesempatan memanfaatkan tingkat dukungan publik yang kuat sejak dia menjabat pada Oktober.
"Implikasinya terhadap yen sangat negatif karena Takaichi tergolong dovish, baik dari sisi fiskal maupun moneter. Secara fiskal, dia cukup nyaman dengan kebijakan yang lebih longgar dan defisit yang lebih besar," kata Eric Theoret, analis Scotiabank, Toronto.
Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menyatakan bahwa dirinya dan Menteri Keuangan AS Scott Bessent memiliki kekhawatiran yang sama terkait apa yang dia sebut sebagai depresiasi yen yang "satu arah". Pernyataan tersebut disampaikan seiring Tokyo meningkatkan ancaman intervensi untuk menahan kejatuhan mata uangnya.
Sementara itu, dolar AS secara umum menguat setelah sempat melemah sesaat. Data menunjukkan harga konsumen Amerika Serikat bulan lalu bergerak sejalan dengan ekspektasi ekonom, sehingga dinilai memberi ruang lebih besar bagi Federal Reserve untuk memangkas suku bunga.
Indeks Harga Konsumen (CPI) AS naik 0,3 persen pada Desember, dengan inflasi tahunan tercatat 2,7 persen. Sementara CPI inti naik 0,2 persen secara bulanan dan 2,6 persen secara tahunan.
"Data hari ini (Selasa) semakin mendukung pandangan bahwa inflasi sedang bergerak menurun," kata Kepala Ekonom Morningstar, Preston Caldwell, dalam catatannya.
Menurut Theoret, reaksi pasar menunjukkan trader sebelumnya bersiap menghadapi kenaikan inflasi yang lebih besar. Dia mencatat mata uang berisiko, termasuk dolar Australia, sempat menguat setelah data inflasi dirilis.
"Ada kekhawatiran bahwa kita mungkin sudah mencapai titik terendah inflasi dalam jangka pendek. Banyak pelaku pasar tampaknya bersiap untuk kejutan ke arah sebaliknya," ujar Theoret.
Pejabat the Fed kembali menegaskan pekan ini bahwa suku bunga perlu dipertahankan di level sekarang hingga terdapat bukti yang lebih jelas bahwa tekanan harga benar-benar mereda, seiring upaya mengembalikan inflasi ke target 2 persen.
Indeks Dolar (Indeks DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama termasuk yen dan euro, terakhir naik 0,28 persen ke posisi 99,15. Euro melemah 0,17 persen menjadi USD1,1647, sementara poundsterling turun 0,23 persen ke USD1,3428.
Dolar Australia melorot 0,45 persen jadi USD0,668, setelah sempat menguat ke USD0,6725 usai rilis data inflasi Amerika.
Penguatan dolar juga didukung data ketenagakerjaan AS yang solid pada Desember, yang semakin memperkuat ekspektasi bahwa the Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan kebijakan 27-28 Januari.
Berdasarkan pergerakan kontrak berjangka Fed funds, pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga baru berpeluang terjadi pada Juni.
Di sisi lain, pasar turut mencermati isu independensi the Fed setelah Departemen Kehakiman AS mengancam akan mendakwa Chairman Jerome Powell terkait proyek renovasi gedung. Para pejabat bank sentral global pada Selasa mengeluarkan pernyataan bersama untuk mendukung Powell.
Presiden AS Donald Trump diperkirakan mengumumkan calon pengganti Powell dalam beberapa pekan mendatang, menjelang berakhirnya masa jabatan Powell pada Mei. Trump menyatakan data inflasi Desember mendukung dorongannya agar Powell memangkas suku bunga.
Ketegangan geopolitik global juga tetap menjadi perhatian pasar, menyusul penahanan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro oleh AS, aksi protes yang mengguncang Iran, serta pernyataan Trump mengenai keinginannya agar Amerika mengakuisisi Greenland.
Selain itu, pelaku pasar juga menanti putusan Mahkamah Agung AS terkait legalitas kebijakan tarif Trump, yang diperkirakan dapat keluar secepatnya Rabu. (Reuters/AI)

Sumber : Admin