Harga Nikel Shanghai Melambung, Didorong Permintaan dari Mobil Listrik
Friday, July 12, 2019       15:02 WIB

Ipotnews - Harga nikel Shanghai mencatat kenaikan mingguan terkuat sejak Juni 2018, karena investor bertaruh pada potensi permintaan untuk logam tersebut di sektor baterai kendaraan listrik.
Kontrak nikel paling yang aktif di Bursa Berjangka Shanghai (ShFE) melonjak 5,5 persen minggu ini, level terkuat sejak pekan yang berakhir pada 1 Juni 2018, demikian laporan  Reuters , di Singapura, Jumat (12/7). Kontrak tersebut meningkat 1,1 persen menjadi 103.450 yuan (USD15.051,21) per ton, level tertinggi sembilan bulan.
Sementara itu, harga nikel di London Metal Exchange menguat sekitar 0,8 persen pada pukul 14.18 WIB menjadi USD13.235 per ton, tingkat tertinggi tiga bulan.
"Kami percaya pendorong utama kenaikan harga nikel adalah tingkat pembelian spekulatif yang berkelanjutan...karena daya tarik logam itu sebagai penerima manfaat utama di antara logam yang digunakan dalam pasar baterai mobil listrik yang terus berkembang," kata Fitch dalam sebuah laporan.
Sebagian besar logam industri lainnya diperdagangkan dalam kisaran ketat, karena investor lebih berhati-hati menjelang serangkaian data perdagangan dari pemain terbesar logam itu, China, yang akan dirilis Jumat, termasuk angka impor dan ekspor logam dasar utama.
Harga tembaga untuk kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange naik tipis 0,1 persen menjadi USD5.958 per ton, sedangkan aluminium turun 0,3 persen dan seng anjlok 1,2 persen.
Kontrak tembaga yang paling aktif diperdagangkan di Shanghai Futures Exchange menguat 0,3 persen menjadi 46.670 yuan per ton, sedangkan aluminium turun 0,7 persen, seng berkurang 0,4 persen, dan timbal menguat 0,2 persen.
Presiden Donald Trump mengatakan China tidak memenuhi janjinya untuk membeli produk pertanian dari petani Amerika, ketika dua negara ekonomi terbesar dunia itu berupaya untuk menyelesaikan sengketa perdagangan mereka.
Pasar timah berada di bawah tekanan yang lebih besar dari perlambatan ekonomi dan penurunan permintaan ketimbang masalah pasokan, di mana produksi yang lebih rendah dari sejumlah negara seperti Myanmar kemungkinan akan diimbangi oleh proyek baru di Afrika Tengah. (ef)

Sumber : Admin