- CPO naik 0,62% mengikuti penguatan soyoil dan minyak mentah.
- Harga minyak tinggi mendukung permintaan CPO untuk biodiesel.
- Program B50 Indonesia menjadi katalis positif sawit.
Ipotnews - Minyak sawit (CPO) berjangka Malaysia menguat, Senin, mengikuti pergerakan positif soyoil di pasar Chicago serta mendapat dukungan dari kenaikan harga minyak mentah dunia.
Kontrak acuan minyak sawit untuk pengiriman September di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 28 ringgit atau 0,62 persen menjadi 4.541 ringgit (USD1.113,54) per ton pada jeda perdagangan tengah hari, demikian laporan Reuters, di Kuala Lumpur, Senin (13/7).
Trader yang berbasis di Kuala Lumpur mengatakan penguatan harga minyak mentah dan minyak kedelai (soyoil) Chicago diperkirakan menopang sentimen pasar minyak sawit.
Pergerakan sawit turut dipengaruhi pasar minyak nabati global. Di bursa Dalian, kontrak minyak kedelai yang paling aktif bergerak datar, sementara kontrak minyak sawitnya 0,36 persen. Sementara itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade melonjak 1,1 persen.
Harga sawit kerap mengikuti pergerakan minyak pesaingnya karena komoditas ini berkompetisi untuk mendapatkan pangsa pasar dalam industri minyak nabati (vegetable oil) dunia.
Pada saat yang sama, harga minyak mentah melambung lebih dari 4 persen setelah ancaman terhadap pengiriman energi melalui Selat Hormuz kembali meningkat akibat eskalasi serangan militer antara Amerika Serikat dan Iran.
Kenaikan harga minyak mentah juga membuat sawit semakin menarik sebagai bahan baku biodiesel. Sebagai salah satu bahan baku energi terbarukan, CPO dapat menjadi alternatif ketika harga bahan bakar fosil mengalami kenaikan.
Selain faktor eksternal, pelemahan mata uang ringgit Malaysia turut memberikan dukungan terhadap harga sawit. Ringgit melemah 0,27 persen terhadap dolar AS sehingga membuat komoditas tersebut relatif lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.
Data Malaysian Palm Oil Board ( MPOB ) menunjukkan stok minyak sawit melompat ke level tertinggi dalam empat bulan pada Juni. Kenaikan tersebut terjadi karena pemulihan produksi lebih cepat dibandingkan pertumbuhan permintaan.
Sementara itu, sejumlah lembaga survei kargo memperkirakan ekspor produk minyak sawit Malaysia sepanjang periode 1 hingga 10 Juli meningkat antara 1,6 persen hingga 5,1 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Dari sisi permintaan regional, Indonesia membutuhkan sekitar 16,7 juta hingga 18 juta kiloliter fatty acid methyl ester ( FAME ) untuk program biodiesel B50 yang baru diluncurkan, menurut seorang pejabat Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
Analis teknikal Reuters Wang Tao memperkirakan harga minyak sawit berpotensi menguji level support 4.477 ringgit per ton. Apabila menembus level tersebut, tekanan jual dapat membawa harga turun lebih lanjut menuju 4.441 ringgit per ton. (Reuters/AI)
Sumber : Admin