Harga minyak tinggi, respons pasar tak agresif
Friday, January 12, 2018       19:02 WIB

JAKARTA. Meski harga minyak menguat, namun pelaku pasar dinilai tidak merespons dengan agresif. Ini terlihat dari laju harga saham emiten minyak dan gas yang tidak signifikan.
Mengutip Bloomberg, Jumat (12/1) pukul 12.00 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate bertengger di harga US$ 63,62 per barel. Hari sebelumnya, minyak WTI bahkan menyentuh US$ 63,80 per barel, tertinggi sejak 7 Januari 2015.
Kepala Riset Koneksi Kapital Sekuritas Alfred Nainggolan menilai posisi harga minyak saat ini terbilang di atas ekspektasi. Pasalnya, pada tahun lalu, harga minyak hanya bergerak di level US$ 55-US$ 60 per barel. "Pasar cukup happy karena relatif lebih tinggi dibanding tahun kemarin," ujarnya, Jumat (12/1).
Meski demikian, Alfred melihat, rekor harga minyak kemarin, tidak linier dengan respons pelaku pasar. Dengan kata lain, investor tidak agresif merespon kenaikan harga minyak. "Sepekan ini kenaikannya sudah cukup banyak untuk harga minyak. Di atas ekspektasi, terlalu cepat di awal tahun," tuturnya.
Oleh karena itu, menurutnya, untuk jangka pendek pelaku pasar justru memasang langkah antisipasi. Ini tercermin pada pergerakan saham emiten migas, seperti PT Medco Energi International Tbk (). Pada Rabu (10/1), saham sempat naik 9,09%. Namun, hari ini, saham hanya naik 1,86% ke level Rp 1.095 per saham.
Salah satu pendorong kenaikan harga minyak adalah tingginya permintaan. Pasar menyimpan optimisme bahwa permintaan minyak akan terus tumbuh di 2018. Salah satu pemicunya adalah proyeksi pertumbuhan ekonomi yang diprediksikan naik secara global.
Selain itu, di awal pekan ini, Alfred mencatat adanya sentimen stok minyak global yang mengerek harga minyak. "Ada report bahwa stok minyak di Amerika Serikat turun. Jadi selain ada pemicu peningkatan permintaan, ternyata suplainya ikut mempegaruhi," imbuhnya.
Sepanjang tahun 2018, Alfred memprediksikan harga minyak akan bergerak di rentang US$ 50-US$ 80 per barel. Adapun harga rata-rata diprediksi di level US$ 60-US$ 65 per barel.

Sumber : KONTAN.CO.ID

berita terbaru
Wednesday, Apr 25, 2018 - 20:10 WIB
PT Chandra Asri Siap Bagi Dividen 30% Laba 2017
Wednesday, Apr 25, 2018 - 19:24 WIB
IHSG Anjlok 149,785 Poin
Wednesday, Apr 25, 2018 - 19:10 WIB
Pelemahan Ringgit Malaysia Bebani Harga CPO
Wednesday, Apr 25, 2018 - 18:43 WIB
Stabilitas Industri Jasa Keuangan Tetap Terjaga: OJK
Wednesday, Apr 25, 2018 - 18:33 WIB
ASII Bantah Akan Lepas Saham Pada Bank Permata
1,215
-4.7 %
-60 %

10,556

BidLot

39

OffLot