- Sawit melonjak 9%, terdorong reli minyak mentah dan permintaan biodiesel.
- Kenaikan minyak nabati global membuat sawit lebih menarik sebagai bahan baku.
- Depresiasi ringgit dorong harga sawit lebih murah bagi pembeli asing; harga diprediksi terus naik.
Ipotnews - Harga minyak sawit (CPO) berjangka Malaysia melejit lebih dari 9%, Senin, cetak kenaikan terbesar dalam tiga tahun terakhir. Lonjakan ini didorong ekspektasi bahwa reli harga minyak mentah akan meningkatkan permintaan bahan baku biodiesel.
Kontrak minyak sawit acuan untuk pengiriman Mei di Bursa Malaysia Derivatives Exchange melambung 296 ringgit atau 6,78%, menjadi 4.663 ringgit (USD1.175,74) per ton metrik pada jeda tengah hari, setelah sempat menyentuh 4.803 ringgit, level tertinggi dalam lebih dari satu tahun, demikian laporan Reuters, di Jakarta, Senin (9/3).
"Kontrak Mei melonjak hingga batas maksimal hari ini setelah reli harga energi dan minyak nabati pesaing yang luar biasa," ujar Anilkumar Bagani, Kepala Riset Sunvin Group, broker minyak nabati yang berbasis di Mumbai.
Harga minyak mentah meroket lebih dari 25%, Senin, mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2022. Lonjakan ini terjadi setelah beberapa produsen besar memangkas pasokan dan kekhawatiran terhadap gangguan pengiriman yang berkepanjangan muncul akibat meluasnya konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran.
Kenaikan harga minyak mentah membuat sawit menjadi opsi yang lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Di China, kontrak minyak kedelai yang paling aktif Dalian melesat 5,83%, sementara kontrak minyak sawitnya melompat 7%. Di Chicago Board of Trade, harga minyak kedelai juga mencatat kenaikan 4,54%.
Harga sawit cenderung mengikuti pergerakan minyak pesaing lainnya karena berkompetisi memperebutkan pangsa pasar minyak nabati (vegetable oil) global.
Selain itu, melemahnya ringgit Malaysia sebesar 0,61% terhadap dolar AS membuat harga minyak sawit lebih murah bagi pemegang mata uang asing.
Menurut analis teknikal Reuters, Wang Tao, harga minyak sawit kemungkinan akan menembus level resistance 4.444 ringgit per ton dan bergerak ke kisaran 4.517-4.615 ringgit. (Reuters/AI)
Sumber : Admin