AI News - Menteri Perdagangan Budi Santoso dan Menteri Perdagangan Luar Negeri Uni Emirat Arab Thani bin Ahmed Al Zeyoudi bertemu di Jaipur pada 7 Agustus 2026, lalu menyepakati kunjungan delegasi bisnis UEA ke Indonesia. Kedua pihak menargetkan peningkatan hubungan dagang, sementara total nilai perdagangan semester pertama 2026 tercatat US$3,14 miliar.
Poin Penting
- Total nilai perdagangan Indonesia-UEA Januari-Juni 2026 sebesar US$3,14 miliar.
- Ekspor Indonesia ke UEA pada periode yang sama mencapai US$1,76 miliar, sedangkan impor US$1,38 miliar.
- Surplus perdagangan 2025 tercatat US$1,63 miliar dari total US$6,42 miliar.
- Produk utama ekspor meliputi perhiasan, minyak dan lemak, kendaraan serta mesin.
- Produk utama impor meliputi perhiasan, garam, belerang, aluminium, senjata dan plastik.
Bagaimana Rencana Delegasi Bisnis UEA Dapat Memperkuat Perdagangan Indonesia-UEA?
Menurut Detik, delegasi bisnis UEA yang akan datang ke Indonesia diharapkan menjadi katalis untuk memperkuat hubungan dagang bilateral. Menteri Perdagangan Luar Negeri UEA, Thani Al Zeyoudi, menyatakan bahwa pertemuan langsung antara pelaku usaha dapat mengidentifikasi peluang baru dan mempercepat investasi, sejalan dengan tujuan maksimalisasi IUAE -CEPA. Ia menekankan pentingnya dialog intensif untuk mengatasi hambatan yang masih ada, termasuk isu tarif dan regulasi teknis. Jika delegasi berhasil menumbuhkan kepercayaan, potensi peningkatan volume ekspor-impor dapat mengembalikan nilai perdagangan ke level yang lebih tinggi.
Apa Perkembangan Volume Perdagangan Indonesia-UEA pada Januari-Juni 2026?
Berdasarkan laporan Bisnis Indonesia, total perdagangan semester pertama 2026 menurun signifikan dibandingkan tahun 2025, yakni menjadi US$3,14 miliar dari US$6,42 miliar sebelumnya. Penurunan ini tercermin dari ekspor yang mencapai US$1,76 miliar dan impor US$1,38 miliar, masing-masing jauh di bawah angka 2025 yang masing-masing mencapai US$4,02 miliar dan US$2,39 miliar. Penurunan tersebut menandakan perlunya pemanfaatan yang lebih optimal terhadap ketentuan perjanjian, terutama di sektor-sektor utama seperti perhiasan, kendaraan, dan mesin. Dengan mengatasi penyebab penurunan, kedua negara dapat memperbaiki neraca dagang dan meningkatkan surplus secara berkelanjutan.
Mengapa Implementasi IUAE -CEPA Masih Memiliki Ruang Optimalisasi?
Laporan Detik kembali mencatat bahwa meskipun IUAE -CEPA telah beroperasi sejak September 2023, masih terdapat kendala teknis yang menghambat pemanfaatannya secara penuh. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyoroti isu-isu seperti skema Tariff Rate Quota (TRQ), mekanisme transshipment, serta kasus antidumping produk kopolimer asal UEA yang belum terselesaikan. Ia menegaskan komitmen Indonesia untuk menjaga transparansi dan akuntabilitas implementasi guna selaras dengan prinsip WTO, sambil membuka dialog berkelanjutan dengan pelaku usaha kedua negara. Penyelesaian isu-isu tersebut diperkirakan akan membuka peluang investasi baru, memperluas partisipasi dunia usaha, dan pada gilirannya meningkatkan volume perdagangan serta nilai tambah ekonomi bagi kedua pihak.
Sumber : AI News