- Harga minyak turun, Brent ke USD79 dan WTI ke USD75,06.
- Pelemahan dipicu harapan damai Iran-AS dan potensi normalisasi Selat Hormuz.
- Pasar menanti data persediaan minyak AS untuk arah harga selanjutnya.
Ipotnews - Harga minyak kembali melemah, Rabu, setelah investor mencermati perkembangan upaya diplomatik untuk mengakhiri perang Iran-Amerika serta kemungkinan pemulihan lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz yang sebelumnya mengalami gangguan.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, turun 36 sen atau 0,45 persen menjadi USD79,00 per barel pada pukul 13.55 WIB, demikian laporan Reuters dan Bloomberg, di Singapura, Rabu (5/8).
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), melemah 71 sen atau 0,94 persen ke posisi USD75,06 per barel.
Kedua harga acuan minyak tersebut ditutup merosot lebih dari 5 persen pada Selasa. Harga Brent bahkan untuk pertama kalinya sejak 13 Juli kembali berada di bawah level USD80 per barel.
Tekanan terhadap harga minyak muncul setelah Qatar menyatakan pada Selasa bahwa mediator mencatat kemajuan dalam upaya mengakhiri konflik Iran. Pernyataan tersebut mendorong investor mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya menopang harga energi.
Namun, pemerintah Iran membantah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut pembicaraan antara kedua pihak telah berlangsung.
Kepala Riset Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, mengatakan meski premi risiko geopolitik jangka pendek berkurang, kondisi pasokan minyak global masih membutuhkan kewaspadaan.
"Jika upaya diplomatik gagal dan pasokan fisik akhirnya terdampak, penurunan harga saat ini bisa berlangsung singkat. Persediaan yang lebih ketat dapat memperbesar dampak dari gangguan pasokan berikutnya," ujarnya.
Salah satu faktor utama yang masih menjadi perhatian pasar adalah kondisi Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan kawasan Teluk Persia dengan pasar energi global.
Sebelum konflik berlangsung, sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melewati jalur tersebut. Gangguan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan itu berpotensi memberikan tekanan besar terhadap pasokan energi global. Pada Maret, harga minyak sempat meroket hingga 50 persen akibat meningkatnya kekhawatiran pasar.
Analis IG dalam catatan risetnya menyebut persoalan utama dalam negosiasi saat ini adalah apakah Iran akan tetap mempertahankan tuntutan untuk memiliki tingkat kendali tertentu atas jalur perairan tersebut, serta apakah Amerika Serikat akan menolak tuntutan itu.
Kantor Emir Qatar menyatakan Presiden AS Donald Trump dan Emir Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani membahas upaya mempersempit perbedaan antara Washington dan Teheran dalam percakapan telepon, Selasa. Pembicaraan tersebut bertujuan meningkatkan peluang tercapainya penyelesaian konflik yang berkelanjutan.
Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar juga menantikan data persediaan minyak Amerika Serikat yang dapat memberikan gambaran mengenai keseimbangan pasokan dan permintaan.
Sumber pasar pada Selasa mengatakan stok minyak mentah dan bensin AS meningkat pekan lalu, sementara persediaan produk sulingan seperti diesel justru mengalami penurunan. Data tersebut mengacu pada laporan American Petroleum Institute (API).
Menurut sumber yang meminta identitasnya tidak disebutkan, stok minyak mentah AS bertambah sekitar 2,7 juta barel dalam pekan yang berakhir 31 Juli.
Data resmi dari Badan Informasi Energi AS (Energy Information Administration/EIA) dijadwalkan dirilis pada Rabu pukul 14.30 GMT. (Reuters/Bloomberg/AI)
Sumber : Admin