- Harga emas naik untuk sesi ketiga berturut-turut.
- Emas spot melonjak 2,6% ke USD4.327,82 per ons.
- Pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed.
Ipotnews - Harga emas melompat untuk sesi ketiga berturut-turut, Senin, dan mencapai level tertinggi dalam lebih dari sepekan setelah Iran dan Amerika menyatakan telah menyepakati kerangka perjanjian untuk mengakhiri perang. Perkembangan tersebut mendorong pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve.
Emas spot melambung 2,6 persen menjadi USD4.327,82 per ons pada pukul 24.30 WIB, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak 5 Juni, demikian laporan Reuters, di Bengaluru, Senin (15/6) atau Selasa (16/6) dini hari WIB.
Sementara itu, harga emas berjangka Amerika Serikat untuk kontrak pengiriman Agustus ditutup melonjak 2,7 persen menjadi USD4.351,6 per ons.
Penguatan harga emas turut didukung pelemahan Indeks Dolar AS (Indeks DXY) sebesar 0,2 persen. Pelemahan greenback membuat emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
Seorang pejabat Amerika mengatakan nota kesepahaman untuk mengakhiri perang telah ditandatangani oleh Presiden Donald Trump, Wakil Presiden JD Vance, dan Ketua Parlemen Iran. Sebelumnya, kedua belah pihak menyatakan perjanjian tersebut akan ditandatangani secara resmi dalam sebuah seremoni di Jenewa, Jumat.
Kepala Strategi Pasar Blue Line Futures, Phillip Streible, mengatakan pasar emas mulai mengesampingkan faktor konflik dan mengeluarkan premi risiko perang dari pergerakan harga.
Menurut dia, kabar mengenai kesepakatan damai telah menekan imbal hasil US Treasury, nilai tukar dolar, dan harga minyak, yang selama ini menjadi sumber utama risiko inflasi dan gejolak di berbagai kelas aset.
Harga emas sempat berada di bawah tekanan sejak konflik Iran pecah karena tingginya harga energi dan meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga. Kondisi tersebut umumnya menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.
Setelah tercapainya kesepakatan kerangka perdamaian, pelaku pasar memangkas peluang kenaikan suku bunga the Fed pada Desember menjadi 58 persen, turun dari hampir 70 persen pada pekan lalu, berdasarkan FedWatch Tool CME Group.
Perhatian investor kini tertuju pada pertemuan kebijakan moneter the Fed, 16-17 Juni, yang menjadi rapat pertama di bawah kepemimpinan Chairman Kevin Warsh. Pasar akan mencermati arah kebijakan dan petunjuk mengenai prospek suku bunga ke depan.
Streible menilai pergerakan harga emas selanjutnya akan sangat bergantung pada sikap dan pernyataan Warsh mengenai jalur suku bunga yang akan ditempuh bank sentral AS.
Di luar pasar emas, Singapura mengumumkan rencana membentuk sistem kliring emas over-the-counter (OTC) dan menyediakan layanan penyimpanan emas bagi bank sentral, sebuah langkah yang berpotensi memperkuat posisinya sebagai pusat perdagangan logam kuning di kawasan.
Penguatan juga terjadi pada logam mulia lainnya. Harga perak spot melejit 3,1 persen menjadi USD70,09 per ons, platinum melesat 3,2 persen jadi USD1.772,85 per ons, dan paladium melonjak 4,9 persen ke USD1.345,98 per ons. (Reuters/AI)
Sumber : Admin