KPPI Selidiki Lonjakan Volume Impor Aluminium Foil
Thursday, October 11, 2018       19:29 WIB

Ipotnews - Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia ( KPPI ) memulai penyelidikan tindakan pengamanan perdagangan  (safeguards)  atas lonjakan volume impor barang aluminium foil.
Penyelidikan tersebut didasarkan atas permohonan yang disampaikan oleh Asosiasi Produsen Aluminium Extrusi serta Aluminium Plate, Sheet & Foil (APRALEX Sh & F) pada 3 Oktober 2018 lalu.
"Dari bukti awal permohonan yang diajukan, KPPI menemukan adanya lonjakan volume impor barang aluminium foil. Selain itu, terdapat indikasi awal mengenai kerugian serius atau ancaman kerugian serius yang dialami oleh industri dalam negeri akibat dari lonjakan volume impor tersebut," ujar Ketua KPPI Mardjoko.
Kerugian atau ancaman kerugian serius tersebut terlihat dari beberapa indikator kinerja industri dalam negeri pada periode tiga tahun terakhir (2015--2017). Kerugian tersebut antara lain berupa kerugian finansial secara terus menerus akibat menurunnya volume produksi dan penjualan, meningkatnya persediaan atau jumlah barang yang tidak terjual, menurunnya produktivitas dan kapasitas terpakai, berkurangnya jumlah tenaga kerja, serta menurunnya pangsa pasar di pasar domestik.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik dalam tiga tahun terakhir (2015--2017), volume impor aluminium foil terus meningkat dengan tren sebesar 23 persen. Pada tahun 2015 impor barang aluminium foil tercatat sebesar 25.189 ton, kemudian pada tahun 2016 naik 25 persen menjadi sebesar 31.404 ton, dan pada tahun 2017 naik 21 persen menjadi sebesar 37.998 ton.
Impor aluminium foil antara lain berasal dari China, Korea Selatan, dan Jepang, dengan volume impor terbesar berasal dari China. Pangsa impor alumunium foil asl China pada tahun 2015 sebesar 81,57 persen, kemudian tahun 2016 meningkat menjadi sebesar 83,43 persen, dan pada tahun 2017 meningkat menjadi sebesar 85,84 persen.
Sementara itu, tarif Bea masuk impor (MFN) barang aluminium foil sebesar 20 persen dan 10 persen. Dengan adanya perjanjian ASEAN-China Free Trade Agreement (AC-FTA), ASEAN-Korea Free Trade Agreement (AK-FTA), dan Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA), tarif bea masuk preferensial untuk komoditas ini sebesar 0 persen berlaku dan tahun 2017-2022.
"Hal ini menjadi salah satu penyebab melonjaknya jumlah impor aluminium foil yang menyebabkan kerugian serius atau ancaman kerugian serius industri dalam negeri," ujar Mardjoko. (*)

Sumber : Admin