Kejatuhan Wall Street Bebani Sentimen, "Greenback" Loyo
Friday, October 12, 2018       14:10 WIB

Ipotnews - Dolar AS diperdagangkan pada level terendah bulan ini terhadap mata uang utama lainnya, Jumat siang, karena penurunan imbal hasil US Treasury dan pelemahan Wall Street lebih lanjut menekan sentimen.
Indeks dolar, ukuran greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, diperdagangkan pada posisi 95, turun dari level tertinggi bulanan di level 96,15 yang dicapai pada perdagangan Selasa, demikian laporan Reuters, di Tokyo, Jumat (12/10).
Dow Jones Industrial Average berakhir di posisi 25.052, Kamis, anjlok 2,13 persen, level terendah dua bulan, sedangkan S&P 500 merosot 2,05 persen. Dow kehilangan sekitar tujuh persen dari level tertinggi sepanjang masa 26.951 yang dicetak pada 3 Oktober.
Indeks harga konsumen (CPI) Amerika Serikat yang lebih rendah dari proyeksi menekan laju dolar karena para trader mengurangi taruhan mereka bahwa Federal Reserve akan meningkatkan laju kenaikan suku bunganya.
Bulan lalu, pejabat The Fed memperkirakan tiga kali kenaikan suku bunga pada 2019, dan beberapa di antaranya mengatakan mereka tetap terbuka untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan Desember, yang akan menjadi keempat sepanjang tahun ini. Imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun turun menjadi 3,1705 persen pada sesi Jumat setelah menembus tingkat tertinggi tujuh tahun, yakni 3,261 persen, pada perdagangan Selasa.
Euro mendapatkan manfaat terbesar dari depresiasi dolar, Jumat, mencapai level tertinggi mingguan yang baru, yakni USD1,611, di belakang aksi jual greenback dan nada positif dalam risalah pertemuan terakhir Bank Sentral Eropa (ECB).
Risalah itu menunjukkan ECB berada di jalur untuk menormalkan kebijakan moneter ultra-longgar-nya tahun ini, meski ada kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan di Eropa.
"Kita telah mendengar cukup banyak pernyataan dari penyusun kebijakan zona euro baru-baru ini tentang meningkatnya inflasi, termasuk dari Presiden (ECB) Draghi dan pesannya konsisten, yaitu tekanan harga sedang tumbuh," kata Kathy Lien, Direktur BK Asset Management.
Bank sentral Singapura memperketat kebijakan moneter untuk kedua kalinya tahun ini, Jumat. Dolar Singapura berpindah tangan pada posisi USD1,3739.
Dolar Australia menguat jadi USD0,7122, pulih dari level terendah dua tahun USD0,7039 yang dicapai pada awal pekan. Reli tersebut dibantu oleh berita menjanjikan dari China, mitra dagang terbesarnya.
"Harga komoditas menunjukkan dolar Australia bisa bergerak lebih tinggi dan ada desakan di media China untuk stimulus fiskal guna mendukung pertumbuhan karena eksportir China berjuang dengan tarif Amerika," ujar Sean Callow, analis Westpac. (ef)

Sumber : Admin