Kilas Emiten: WTON, INDY, BEST, dan CMNP
Thursday, July 05, 2018       08:57 WIB

Ipotnews - Berikut kilas emiten yang layak diperhatikan sebelum transaksi hari ini, Kamis (5/7):
1. PT Wijaya Karya Beton Tbk () mengantongi nilai kontrak baru Rp3,06 triliun sampai dengan semester I/2018 yang didominasi pekerjaan dari swasta dan induk usaha. Perseroan mencatat pencapaian tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Perseroan mengantongi nilai kontrak baru Rp2,99 triliun pada semester I/2017. Sektor swasta berkontribusi 36% atau Rp1,10 triliun untuk total nilai kontrak baru perseroan sampai Juni 2018. Di sisi lain, manajemen mengungkapkan telah merealisasikan belanja modal hingga Rp234 miliar sampai dengan Juni 2018. Alokasi terbesar disalurkan untuk penambahan kapasitas produksi. Seperti diketahui, menargetkan NKB Rp7,56 triliun pada 2018. Komposisi pekerjaan baru perseroan tahun ini diperkirakan 70% dari pemerintah dan 30% dari swasta. Tahun lalu, realisasi NKB perseroan mencapai Rp7,1 triliun atau melebihi target yang dipasang Rp6,3 triliun.
2. PT Indika Energy Tbk () berharap bisa mencatatkan kenaikan pendapatan yang memuaskan di sepanjang tahun 2018. Tahun ini, perusahaan sudah bisa membukukan pendapatan yang berasal dari Kideco. Perseroan mengharapkan bahwa laba perusahaan di kuartal I-2018 yang lalu bisa mencerminkan laba perusahaan hingga akhir tahun 2018 yang akan datang. Sebagai informasi saja, per akhir Maret, mencatatkan total laba US$ 58,37 juta atau naik sebesar 164% dibandingkan dengan laba di periode yang sama tahun sebelumnya.
Perseroan menambahkan, selain pendapatan yang berasal dari Kideco, juga berharap bisa memperoleh pendapatan dari produksi batubara perusahaan. perusahaan tengah berfokus untuk menaikkan kinerja. Hal ini dilakukan karena meski harga batubara naik cukup signifikan di tahun 2018 ini, namun kemungkinan terburuk seperti turunnya harga masih bisa terjadi.
3. PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk () mulai menjajaki potensi pengembangan kawasan industri baru di luar kawasan industri utama perseroan selama ini, yakni MM100 di Bekasi, Jawa Barat, dengan target 300-500 hektare. Manajemen mengatakan perseroan per kuartal pertama tahun ini masih memiliki total cadangan lahan dengan luas gross 1.055 hektare (ha) dan luas bersih 725 ha. Meskipun cadangan lahan ini masih cukup luas, tetapi perseroan merasa perlu untuk sedini mungkin menyiapkan strategi ekspansi jangka panjang.
Perseroan menargetkan tambahan cadangan lahan antara 300 ha hingga 500 ha dari ekspansi ini. Untuk tahap awal, perseroan akan lebih banyak menyasar akuisisi lahan di Jawa Tengah dan Jawa Barat, tetapi dirinya enggan mengunkapkan lokasi pastinya. Manajemen menilai banyak lokasi prospektif di dua provinsi ini yang akan sangat menjanjikan bagi pengembangan kawasan industri di masa mendatang. Setidaknya, ada dua infrastruktur penting yang akan hadir di sana, yakni Bandara Kertajati dan Pelabuhan Patimban.
4. PT Airasia Indonesia Tbk () menderita rugi bersih Rp 218,66 miliar pada akhir kuartal I-2018. Rugi ini hampir dua kali lipat dibandingkan dengan rugi periode yang sama tahun lalu Rp 111,96 miliar. Kerugian tersebut dikontribusi oleh pendapatan usaha perseroan yang turun 4,55% menjadi Rp 843,83 miliar, dan beban usaha bersih yang naik 11,02% menjadi Rp 1,12 triliun. Akibatnya, rugi usaha perseroan membengkak 123,8% menjadi Rp 273,14 miliar. Perseroan mengakui bahwa kinerja perusahaanya pada kuartal I tahun ini kurang bagus karena disebabkan oleh kenaikan bahan bakar dan pelemahan rupiah. Penyebab lain lesunya bisnis AirAsia Indonesia adalah erupsi Gunung Agung pada tahun lalu yang menyebabkan berkurangnya kunjungan wisatawan lokal maupun turis asing ke Bali. Tapi perseroan optimis bahwa kinerja AirAsia Indonesia akan membaik hingga akhir tahun ini.

Sumber : admin
260
-3.0 %
-8 %

319

BidLot

73

OffLot