Kondisi Terburuk Dalam Perekonomian Global Mungkin Hanya Berumur Pendek
Thursday, March 14, 2019       17:50 WIB

Ipotnews - Perekonomian dunia mungkin tengah menghadapi sutuasi terburuk sejak krisis keuangan 2008 silam, namun ada alasan untuk memperkirakan perlambatan saat ini hanya akan berumur pendek.
Ekonom Bloomberg Economics, Deutsche Bank AG dan Morgan Stanley memperkirakan, tekanan penurunan akan berkurang pada kuartal ini, atau kuartal berikutnya, sebelum berakselerasi di akhir tahun ini.
"Ada jeda Federal Reserve, gencatan senjata perang dagang, dan stimulus China, dan kami sedang mencari titik terendah di kuartal pertama dan akan naik sangat moderat ke depannya," kata Tom Orlik, kepala ekonom di Bloomberg Economics.
Dipimpin oleh The Fed, banyak bank sentral yang kemudian ikut menahan pengetatan kebijakan moneternya atau memperkenalkan stimulus baru, untuk menenangkan investor yang mengkhawatirkan perlambatan. Ketua Fed Jerome Powell mengatakan, The Fed akan bersabar dengan kenaikan suku bunga lagi.
Sementara itu, Presiden Bank Sentral Eropa Mario Draghi mengesampingkan kemungkinan pengetatan pada tahun ini, dan meluncurkan paket baru pinjaman murah untuk bank. China, pada Kongres Rakyat Nasional bulan ini, mengisyaratkan untuk melonggarkan kebijakan moneter dan fiskal demi mendorong ekspansi.
Setelah melakukan pengetatan moneter pada tahun lalu, The Fed didesak untuk memikirkan kembali prospek dan kondisi keuangan secara keseluruhan. Bloomberg AS Financial Condition Index - yang mengukur keseluruhan laju tekanan finansial dalam pasar uang, obligasi dan ekuitas - telah pulih kembali, setelah menyentuh level terendah 2 1/2-tahun pada Desember lalu.
Merefleksikan pandangan investor yang lebih positif, tahun ini bursa saham mengalami  rebound . Indeks S&P 500 melonjak hampir 20 persen dari level terendah Desember, sementara Shanghai Composite naik sekitar 22 persen.
Berkurangnya kekuatan dolar AS dibanding 2018 lalu, membantu memulihkan  emerging market  dari tekanan pembuat kebijakan untuk mencegah pelarian modal. Pengucuran kredit di Cina dan Jepang pada Februari lalu naik tajam dibanding setahun lalu.
Indikator pertumbuhan global IHS Markit naik di Februari, dari level terendah 28 bulan dan, yang menggembirakan, ada peningkatan dalam tolok ukur permintaan. Ukuran layanan di seluruh dunia juga meningkat pada bulan Februari untuk pertama kalinya dalam tiga bulan.
Indeks kejutan Citigroup untuk kawasan euro - yang telah menjadi salah satu titik lemah ekonomi global - telah pulih ke posisi terbaik dalam hampir lima bulan. Di Cina, Purchasing Managers Index sektor manufaktur meningkat bulan lalu.
Ketinggian air di Sungai Rhine Jerman meningkat kembali, setelah mengalami penurunan pada tahun lalu sehingga mengganggu lalu lintas tongkang. Kondisi tersebut memukul industri dan menjadi salah satu faktor yang mendorong ekonomi mendekati resesi.
Perang dagang AS-China sempat mengantarkan 20 negara memasuki tahun ini dengan level ketidakpastian yang mencapai rekor tertingi. Namun keputusan Presiden AS Donald Trump untuk tidak memaksakan penerapan tambahan tarif pada impor produk China pada 1 Maret lalu, memberi sinyal bahwa ia dan Presiden Cina Xi Jinping kemungkinan akan segera mencapai kesepakatan perdagangan.
Model yang dirancang Institute of International Finance (IIF) untuk melacak perdagangan AS secara  real time  menunjukkan tanda-tanda stabilisasi sejak awal tahun ini. "Ketakutan perdagangan global terlalu besar, juga kekhawatiran bahwa pertumbuhan global akan melambat secara signifikan," kata Robin Brooks, kepala ekonom IIF, seperti dikutip Bloomberg, Kamis (14/3).
Meskipun laporan ketenagakerjaan AS pada Februari lalu mengecewakan, namun pasar tenaga kerja global semakin ketat, memberik alasan untuk berharap bahwa konsumen akan terus berbelanja. JPMorgan Chase & Co. memperkirakan pengangguran di negara-negara maju saat ini berada di level terendah 40 tahun, sebesar 5 persen, dan akan terus turun.
Tingkat upah diprediksi akan tumbuh 3,2 persen pada kuartal terakhir tahun ini, ekspansi tercepat selama satu dekade, dan hampir satu poin persentase lebih cepat dari periode yang sama tahun 2017.
IMFmemang masih memprediksi pertumbuhan global sebesar 3,7 persen tahun ini dan 3,5 persen pada 2019. Namun menurut ahli strategi Deutsche Bank, Alan Ruskin, ada alasan untuk lebih optimis daripada yang diberitakan. Ekonomi Cina, misalnya, saat ini sudah lima kali lebih besar dibanding tahun 2000, yang berarti tingkat pertumbuhan 6 persen sekarang setara dengan 30 persen pada waktu itu.
"Ketika membuat perbandingan jangka panjang, tingkat absolut dan perubahan menjadi lebih penting daripada perspektif terbatas yang diberikan oleh persentase perubahan," tulis Ruskin dalam catatan kepada klien. (Bloomberg)

Sumber : Admin