Konflik Dagang Amerika-China Mereda, Minyak Melonjak Hampir 5%
Wednesday, August 14, 2019       04:37 WIB

Ipotnews - Harga minyak melonjak, Selasa, setelah Amerika menunda pemberlakuan tarif 10% untuk beberapa produk China, meredakan kekhawatiran atas perang perdagangan global yang memukul pasar dalam beberapa bulan terakhir.
Beberapa produk China itu termasuk laptop dan ponsel. Tarif tersebut dijadwalkan berlaku mulai bulan depan.
"Perang perdagangan AS-China menyebabkan pertumbuhan permintaan energi mengalami tekanan hebat. Secercah harapan menghidupkan kembali lansekap prospek permintaan yang lebih positif," kata John Kilduff, mitra di Again Capital Management di New York.
Harga minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, melesat USD2,73, atau 4,7%, menjadi USD61,30 per barel, demikian laporan  Reuters , di New York, Selasa (13/8) atau Rabu (14/8) pagi WIB.
Sementara, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), melambung USD2,17, atau 4,0%, menjadi USD57,10 per barel.
Itu adalah persentase kenaikan harian terbesar untuk Brent sejak Desember ketika kontraknya melejit 7,9%.
Harga minyak memangkas kenaikannya dalam perdagangan pasca- settlement  setelah data dari kelompok industri American Petroleum Institute (API) menunjukkan stok minyak mentah AS secara tak terduga meningkat, minggu lalu.
Persediaan minyak mentah naik 3,7 juta barel menjadi 443 juta, dibandingkan ekspektasi analis untuk penurunan 2,8 juta barel, kata API.
Data pemerintah AS tentang stok minyak mentah akan dirilis Rabu waktu setempat.
Sejak jatuh ke level terendah sejak Januari pada 7 Agustus, Brent melonjak 9% dan WTI 12%. Penguatan WTI yang lebih besar selama empat hari terakhir secara singkat memotong premi Brent atas WTI ke level terendah sejak Maret 2018.
Kementerian Perdagangan China mengatakan dalam sebuah pernyataan, Selasa, bahwa pejabat perdagangan AS dan China berbicara di telepon dan setuju untuk berbicara lagi dalam waktu dua minggu.
"Kemungkinan bahwa Amerika Serikat dan China bisa membawa perundingan perdagangan ke jalurnya...meningkatkan harapan mereka mungkin benar-benar bakal mencapai kata sepakat," kata Phil Flynn, analis Price Futures Group di Chicago. "Itulah mengapa kita melihat kenaikan harga yang besar ini."
Sebelum pengumuman AS tentang penundaan tarif tersebut, Brent masih diperdagangkan sekitar 20% di bawah level tertinggi 2019 yang dicapai April lalu.
Selain pendinginan perang perdagangan AS-China, para analis mengatakan harga didukung oleh ekspektasi persediaan minyak mentah Amerika menurun pada pekan lalu, dan keyakinan Arab Saudi akan tetap melakukan pengurangan produksi.
Di Amerika Serikat, analis memperkirakan stok minyak mentah turun 2,8 juta barel pekan lalu, menurut jajak pendapat  Reuters .
"Jika kita mendapatkan penarikan dalam stok (AS) yang dicari sebagian besar orang, itu akan membuat pasar lebih ketat," kata Flynn.
Arab Saudi, pemimpin  de facto  Organisasi Negara Eksportir Minyak ( OPEC ), pekan lalu mengatakan berencana untuk mempertahankan ekspor minyak mentahnya di bawah 7 juta barel per hari (bph) pada Agustus dan September, guna membantu mengeringkan persediaan minyak global. OPEC dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC +, sepakat untuk memotong 1,2 juta barel per hari produksi sejak 1 Januari.
Rencana Kerajaan itu untuk melepas BUMN minyak nasional, Saudi Aramco, dalam apa yang bisa menjadi penawaran umum perdana (IPO) terbesar di dunia, memberikan dorongan lebih lanjut untuk mendongkrak harga.
"Arab Saudi dan sekutu Teluknya berpegang teguh pada komitmen mereka terhadap perjanjian pengurangan produksi OPEC + telah mendukung harga," kata Abhishek Kumar, Kepala Riset Interfax Energy di London. (ef)

Sumber : Admin