- Kinerja korporasi Indonesia tetap kuat pada Q2-26, dengan pendapatan dan margin meningkat terutama ditopang sektor berorientasi ekspor seperti CPO, logam, dan energi.
- Tren capex mulai menurun untuk pertama kalinya sejak pandemi, mencerminkan meningkatnya kehati-hatian perusahaan di tengah pelemahan aset dan ketidakpastian global.
- BCA menilai pemulihan ekspansi sektor swasta membutuhkan perbaikan optimisme dunia usaha, kondisi global yang lebih kondusif, serta reformasi dan kebijakan pemerintah yang mendukung iklim usaha.
Ipotnews - Kinerja korporasi Indonesia tetap solid pada kuartal II-2026, ditopang pertumbuhan pendapatan dan margin, terutama dari sektor berorientasi ekspor.
Namun, PT Bank Central Asia Tbk () melihat perusahaan mulai menunjukkan sikap lebih hati-hati, tercermin dari tren belanja modal (capital expenditure/capex) yang memasuki zona penurunan.
Dalam riset The Focal Point bertajuk Robust yet cautious edisi 1 September 2026 yang dipantau Ipotnews melalui website resmi Perseroan, Rabu (2/9), BCA menyebut penurunan capex tersebut menjadi yang pertama terjadi sejak pandemi. Perlambatan juga terlihat pada pertumbuhan tenaga kerja, sementara belanja modal yang masih tumbuh terutama terkonsentrasi di sektor padat modal seperti teknologi informasi serta logam dan pertambangan.
Di tengah kondisi tersebut, pendapatan perusahaan publik masih meningkat dan margin keuntungan relatif terjaga. Pertumbuhan terutama berasal dari sektor CPO, logam, dan energi, yang antara lain mendapat dorongan dari depresiasi rupiah serta kenaikan sejumlah harga komoditas.
Namun, prospek pertumbuhan pendapatan menghadapi risiko dari perlambatan ekonomi Amerika Serikat dan China serta potensi El Nino yang dapat mengganggu produksi komoditas pertanian. Sektor domestik juga menghadapi tekanan akibat perbedaan inflasi harga grosir yang mencapai 5,66% pada Juli 2026, dibandingkan inflasi konsumen sebesar 2,88%.
BCA menilai penurunan capex di tengah pertumbuhan pendapatan menunjukkan adanya chilling effect atau kecenderungan perusahaan menahan ekspansi. Kondisi tersebut turut dipengaruhi penurunan harga aset Indonesia pada Q2-26, ketika rupiah terdepresiasi 4,8% secara kuartalan dan pasar saham terkoreksi 19,9%.
Selain menahan investasi, perusahaan meningkatkan persediaan, kas, dan surat berharga yang dapat dipasarkan. Peningkatan persediaan serta kebutuhan menjaga arus kas turut mendorong pertumbuhan kredit modal kerja menjadi 8,94% secara tahunan pada Juni 2026, dari 4,38% pada Maret 2026.
Menurut BCA, kecenderungan perusahaan mengurangi ekspansi dan mengalihkan dana ke aset yang lebih aman menunjukkan ruang pertumbuhan sektor swasta masih terbatas. Pemulihan selanjutnya akan bergantung pada membaiknya optimisme pelaku usaha, kondisi global yang lebih mendukung, serta efektivitas kebijakan pemerintah.
Di sisi fiskal, ruang pemerintah untuk mengandalkan program dukungan juga dinilai terbatas seiring rencana pertumbuhan belanja yang lebih rendah pada tahun depan. Karena itu, reformasi kelembagaan dan penciptaan iklim usaha yang lebih ramah menjadi penting untuk mendorong kembali ekspansi sektor swasta.
Secara keseluruhan, BCA melihat ekonomi dan kinerja korporasi Indonesia masih kuat, tetapi perusahaan belum sepenuhnya siap kembali melakukan ekspansi agresif. Pertumbuhan pendapatan yang tetap solid di tengah penurunan capex menjadi sinyal meningkatnya kehati-hatian dunia usaha menghadapi ketidakpastian global dan domestik.(Adhitya/AI)
Sumber : admin