Kredit Macet Memburuk, Analis Pangkas Rating BBTN
Tuesday, April 02, 2019       15:25 WIB

Ipotnews - Laba bersih PT Bank Tabungan Negara Tbk () mencapai Rp2,8 triliun, turun -7,3 persen (YoY). Pelemahan kinerja ini karena faktor provisi ganda kreditnya di triwulan terakhir 2018.
Provisi ganda terhadap kredit tersebut jadi pemicu penurunan laba bersih secara triwulanan (QoQ) pada 4Q18 hingga 30 persen. Tanpa hal tersebut, profit sebelum provisi ( PPOP ) masih tumbuh kuat 11,6 persen di FY18. Sedangkan PPOP pada 4Q sebesar 11,5 persen (QoQ) didorong oleh kuatnya kredit serta pertumbuhan deposito.
ROAA dan ROAE menjadi sebesar 1,04 persen dan 12,5 persen di periode FY18 atau melemah dibanding periode FY17 masing-masing 1,33 persen dan 15,1 persen.
Marjin Bunga
Perolehan marjin bunga bersih (NIM) menyempit jadi 41bps (YoY) menjadi 4,11 persen di FY18. Sementara diperiode 4Q18 sebesar 4,01 persen.
Hal ini terjadi karena mayoritas kredit yang disalurkan berbunga fixed dan ketergantungannya pada simpanan berbunga mahal tinggi di tengah situasi kenaikan suku bunga di Indonesia.
Analis PT Indo Premier Sekuritas Stephan Hasjim mmeperkirakan tekanan NIM perseroan akan berkurang dan diproyeksikan akan stabil antara 3,7 persen hingga 3,8 persen dalam 3 tahun ke depan.
Penguatan ini ditopang asumsi pertumbuhan kredit yang lebih moderat sebesar 14 persen -15 persen pada 3 tahun ke depan akan memicu kenaikan pendapatan bunga 12-13% (2018: 8,0 persen). Jadi pertumbuhan laba inti masih memungkinkan secara kuat naik antara 12 persen - 13 persen pada 2019-2020.
Ketidakpastian NPL
Kualitas aset perseroan adalah kunci ketidakpastian terhadap proyeksi laba mengingat kredit macet (NPL) makin buruk pada unit usaha bank syariah. Kredit bermasalah pada anak usaha tersebut mencapai 5,28 persen pada 2018 dari sekitar 1,0 persen pada 2016-2017.
Covering terhadap NPL tergolong rendah sebesar 49 persen. Gap provisi tersebut berasal dari penerapan baru aturan PSAK 71.
NPL BTN syariah memburuk terkait kredit konstruksinya yang meningkatkan NPL naik jadi 7,05 persen dari sebelumnya 3,14 persen di tahun 2017.
Asumsi biaya kredit ditingkatkan jadi 75bps dalam 2 tahun ke depan dari sebelumnya 50bps. Asumsi ini untuk merefleksikan kenaiakan NPL yang secara keseluruhan sebesar 2,82 persen.
Valuasi
Pada 2019-2020, laba diperkirakan turun 13 persen dan 15 peresn karena faktor asumsi kenaikan provisi.
Target price (TP) juga dipangkas menjadi Rp2.600/saham dari sebelumnya Rp2.900 per saham. Rekomendasi terhadap saham diturunkan menjadi Hold dari sebelumnya Buy.
(Riset Indo Premier Sekuritas)

Year to 31 Dec

2017A

2018A

2019F

2020F

2021F

Operating income (RpBn)

10,806

12,030

13,491

15,061

16,698

PPOP (RpBn)

4,637

5,177

5,846

6,633

7,407

Net profit (RpBn)

3,027

2,808

3,230

3,638

4,163

Net profit growth (%)

15.6

(7.3)

15.0

12.6

14.4

FD EPS (Rp)

286

265

305

344

393

P/E (x)

8.5

9.2

8.0

7.1

6.2

P/B (x)

1.2

1.1

1.0

0.9

0.8

Dividend yield (%)

2.3

2.2

2.5

2.8

3.2

ROAA (%)

1.3

1.0

1.0

1.0

1.0

ROAE (%)

15.1

12.3

12.8

12.9

13.3

 Source:, Indo Premier ; share price closing as of 29 March 2018  


Sumber : admin
1,890
0.0 %
0 %

0

BidLot

0

OffLot