Laba Bersih Anjlok 68,8%, Saham INTP Direkomendasi "Sell"
Tuesday, July 31, 2018       19:14 WIB

Ipotnews - Laba bersih PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk () pada semester I 2018 anjlok 68,8% (yoy), karenanya Indo Premier Sekuritas memangkas perkiraan laba untuk 2018 dan 2019 masing-masing sebesar 56,9% dan 59,3%. Saham perseroan pun masih disarankan "sell" (jual) seiring potensi penurunan 13,4 persen dari harga saat ini.
Dipaparkan, perseroan hanya mencatat laba Rp355 miliar pada semester I 2018, hanya setara 22% perkiraan Indo Premier dan 20,3% perkiraan konsensus untuk laba total 2018. Pendapatan turun tipis 0,9% (yoy) menjadi Rp6,5triliun. Sementara COGS tumbuh signifikan sebesar 11,2% (yoy) yang membawa marjin menyempit pada semester I, masing-masing marjin kotor sebesar 26,2% atau turun 800 basis poin (bps) dan marjin operasi sebesar 3,6% atau turun 10%. Secara kuartalan, perseroan juga mencatat kinerja yang lemah, dengan pendapatan anjlok 11,5% (qoq), dengan laba bersih merosot 65,6% (qoq), "Yang kami perkirakan dikarenakan musim libur panjang (Lebaran) pada kuartal II 2018," tandas Tim Analis Indo Premier, Selasa (31/7).
Untuk kinerja operasional, perseroan mencatat volume penjualan positif dengan kenaikan 5,2% (yoy) menjadi 8,3 juta ton. Pasar di Pulau Jawa tumbuh 5,8% (yoy) , sedangkan luar Jawa naik 6,4% (yoy). Adapun harga penjualan rata-rata (ASP) tercatat menurun 5,8% (yoy) seiring ketatnya persaiangan dari sejumlah pendatang baru dan saingan lama. Secara keseluruhan, pangsa pasar semen perseroan naik 60 bps menjadi 26,1% pada semester I 2018.
Kondisi kelebihan pasokan semen diperkirakan akan lebih intens menyusul adanya sejumlah pabrik baru pada kuartal II 2018 yang dimiliki Conch Cement dengan kapasitas 2 juta ton/tahun. Itu berarti, kapasitas nasional terpasang di 109 juta ton/tahun sementara permintaan hanya 73 juta ton/tahun. "Sehingga, kami memangkas perkiraan ASP sebesar 0,9% dan 0,3 persen untuk 2018 dan 2019 dan perang harga akan makin kencang," tandas Tim Analis Indo Premier.
Dengan hitung-hitungan tersebut, papar Tim Analis, Indo Premier memangkas perkiraan laba untuk 2018 dan 2019. "Dengan revisi laba bersih itu menyebabkan target harga berdasar DCF kami menurun menjadi Rp12.900 dari sebelumnya Rp15.000. Saham diperdagangkan pada P/E 2018 78,8 kali dan P/E 2019 76 kali. Dengan potensi penurunan harga 13,4% dari harga saat ini, saham tetap kami rekomendasi "Sell"," papar Tim Analis.

Year To 31 Dec

2016A

2017A

2018F

2019F

2020F

Revenue (RpBn)

15,362

14,431

14,738

15,506

17,006

EBITDA (RpBn)

4,743

3,095

1,681

1,706

1,984

EBITDA Growth (%)

(20.2)

(34.7)

(45.7)

1.5

16.3

Net Profit (RpBn)

3,870

1,860

697

722

782

EPS (Rp)

1,051

505

189

196

212

EPS Growth (%)

(11.2)

(51.9)

(62.5)

3.6

8.3

Net Gearing (%)

(36.4)

(33.0)

(31.8)

(35.9)

(36.5)

PER (x)

14.2

29.5

78.8

76.0

70.3

PBV (x)

3.2

3.4

3.3

3.3

3.2

Dividend Yield (%)

2.3

1.1

0.4

0.4

0.5

EV/EBITDA (x)

4.6

8.1

11.0

13.1

11.3

Source: , IndoPremier

Share Price Closing as of : 30-July-2018


Sumber : admin
20,000
1.8 %
350 %

4

BidLot

2,890

OffLot