Laba Bersih Melemah, Rekomendasi Saham BBRI Ditargetkan Sentuh Rp5.100
Thursday, August 15, 2019       10:05 WIB

Ipotnews - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk () yang baru saja mengumumkan kinerja keuangan per 30 Juni 2019 diwarnai oleh melemahnya laba bersih.
Adapun pada kuartal II/2019, membukukan laba bersih Rp8 triliun, naik 6,9% secara tahunan. Namun, capaian itu melemah 2% dibandingkan dengan kuartal I/2019.
Menurut Lee Youngjun, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, pihaknya mengharapkan akan membukukan pertumbuhan pendapatan dua digit rendah pada 2019.
"Proyeksi itu didukung oleh peningkatan  net interest margin  (NIM) dibandingkan dengan semester I/2019 dan biaya kredit yang stabil," tulisnya dalam riset seperti dikutip Bisnis, Kamis (15/8).
Pada kuartal II/2019, NIM tercatat 7,02%, lebih rendah dibandingkan dengan 7,64% pada kuartal II/2018. Namun, NIM membaik secara kuartalan dengan naik 23 basis poin dari kuartal I/2019.
Menurut Lee, hal itu disebabkan biaya pendanaan dan  earnings asset yield  dikelola dengan baik. NIM diperkirakan akan membaik pada semester II/2019.
Proyeksi itu didasarkan pada dua hal. Pertama, manajemen kemungkinan akan menurunkan biaya pendanaan pada semester II/2019. Kedua, portofolio aset dan liabilitas berada pada posisi yang tepat pada penurunan suku bunga kebijakan yang telah terjadi pada Juli dan akan berlanjut pada semester II/2019.
Sementara itu, pinjaman tumbuh sebesar 11,3% secara tahunan pada kuartal II/2019. Hal itu didorong oleh mikro dan komersial kecil.
"Kami perkirakan pertumbuhan  double digit  sebesar 11%-13% secara tahunan pada 2019, didorong oleh segmen mikro," papar Lee.
Lebih lanjut,  special mention loans  (SML) dan  non performing loan  (NPL) tercatat meningkat masing-masing 84 basis poin dan 2 basis poin secara kuartalan pada kuartal II/2019.
"Faktor utama peningkatan SML dan NPL adalah Krakatau Steel (Not Rated ) dan Duniatex," tambahnya.
Kendati demikian, Mirae Asset Sekuritas memperkirakan biaya kredit dan rasio NPL akan stabil pada semester II/2019. Proyeksi itu seharusnya membantu menjaga pertumbuhan pendapatan pada paruh kedua tahun ini.
"Kami menjaga rekomendasi  Trading Buy  kami dan mempertahankan target harga kami untuk di level Rp5.100. Harga target kami menyiratkan rasio harga per nilai buku ( price to book value /PBV) sebesar 2,9 kali," ujar Lee.
Berdasarkan data  Bloomberg , pada awal perdagangan hari ini hingga pukul 09:16 WIB, terkoreksi 70 poin ke level Rp4.260 per saham. Sepanjang tahun berjalan 2019, menguat 16,67%. (winardi)

Sumber : Admin
274
0.0 %
0 %

2,302

BidLot

957

OffLot