Laju "Greenback" Terbebani Data Inflasi Amerika, Euro Melambung
Friday, September 14, 2018       16:06 WIB

Ipotnews - Euro melesat ke level tertinggi dua pekan, Jumat, setelah data inflasi Amerika yang lebih lemah dari perkiraan terus membebani dolar dan pemulihan yang lebih luas dalam sentimen investasi mendukung mata uang tunggal itu.
Keputusan Bank Sentral Turki, Kamis, untuk menaikkan suku bunga memicu pemulihan di seluruh aset emerging market, sementara harapan putaran perundingan perdagangan untuk mengurangi ketegangan antara Amerika Serikat dan China mendorong sentimen pasar lebih lanjut, demikian laporan Reuters, di London, Jumat (14/9).
"Penggerak terbesar adalah dolar AS. Ini merupakan kelanjutan dari kemarin setelah data inflasi Amerika yang lebih lemah dari perkiraan," kata Esther Reichelt, analis Commerzbank di Frankfurt.
"Pasar terfokus pada apakah peningkatan sentimen tersebut dan pemulihan di emerging market akan terus berlanjut."
Euro naik 0,2 persen menjadi USD1,1714, tertinggi sejak 30 Agustus, sementara indeks dolar tertekan.
Bank Sentral Eropa mempertahankan kebijakan tidak berubah sesuai ekspektasi, Kamis, tetap di jalur untuk mengakhiri program pembelian obligasi pada tahun ini dan menaikkan suku bunga pada musim gugur mendatang. Dampak kebijakan tersebut terhadap euro tak terlalu signifikan.
Data inflasi Amerika yang lebih lemah terus membebani dolar. Indeks harga konsumen (IHK), pengukur inflasi terluas pemerintah, naik hanya 0,2 persen pada Agustus dan kurang dari 0,3 persen yang diproyeksikan sejumlah analis dalam jajak pendapat Reuters.
Mata uang negara berkembang, seperti rand Afrika Selatan dan peso Meksiko, mempertahankan apresiasi setelah penguatan tajam, karena investor menyambut langkah Bank Sentral Turki untuk menaikkan suku bunga menjadi 24 persen guna mengembalikan kepercayaan pada lira.
Lira Turki turun tipis menjadi 6,040 per dolar, setelah mengakhiri sesi sebelumnya dengan kenaikan lebih dari empat persen.
Lira melonjak setelah Bank Sentral Turki menaikkan suku bunga sebesar 625 basis poin menjadi 24 persen, Kamis, dalam upaya untuk menstabilkan mata uang, yang jatuh ke rekor terendah terhadap dolar sebulan lalu.
Yuan China di pasar offshore merosot 0,1 persen menjadi 6,8475 per dolar AS.
Data yang dirilis Jumat menunjukkan pertumbuhan investasi China untuk Agustus jatuh ke rekor terendah yang baru, sementara output industri dan penjualan ritel menguat lebih besar dari ekspektasi.
Dolar Australia, dilihat sebagai proxy untuk perdagangan terkait China serta barometer sentimen risiko, menguat 0,2 persen menjadi USD0,7207.
Aussie berada di jalur untuk kenaikan lebih dari satu persen pada pekan ini, setelah bangkit dari level terendah dua setengah tahun di posisi USD0,7085 pada sesi Selasa. Sementara, yen naik 0,1 persen menjadi 111,83 terhadap dolar. (ef)

Sumber : Admin