Laporan Laba Kuartal III 2025 Menunjukkan Sinyal Pemulihan setelah Menurun di Kuartal II - Ashmore
Saturday, November 08, 2025       23:02 WIB

Ipotnews - Bursa saham Indonesia menutup sesi perdagangan pertama November, Jumat (7/11) dengan mencatatkan kenaikan 0,69% menjadi 8.395, yang sekaligus mencatatkan rekor penutupan tertinggi IHSG sepanjang masa dan rekor tertinggi  intraday   all time high  di posisi 8.399. Angka tersebut lebih tinggi, lebih dari 200 poin, dibanding akhir pekan sebelumnya di 8.164. Investor asing mencatatkan arus masuk ekuitas sebesar USD152 juta dalam sepekan terakhir.
 Weekly Commentary , PT Ashmore Management Indonesia mencatat beberapa peristiwa penting yang mempengaruhi pergerakan modal di bursa saham dalam dam luar negeri, antara lain;

Apa yang terjadi selama sepekan?
Ashmore mencatat, sektor berkinerja terbaik sepanjang pekan ini adalah Infrastruktur dan Energi, masing-masing meloncat +5,98% dan +4,88%, sedangkan sektor yang tertinggal adalah Properti & Real Estat serta Barang Konsumsi Non-Siklikal, masing-masing turun -3,60% dan -2,27%.
Aset dengan performa terbaik pekan ini adalah harga batu bara (+3,16%) dan IHSG (+2,83%), sementara terjadi koreksi pada Bitcoin (-7,54%) dan indeks Nikkei (-4,07%).
Ahmore juga mencatat,   shutdown   pemerintah AS masih berlanjut dan menjadi yang terpanjang dalam sejarah negara itu. Dari sisi data PMI, sektor manufaktur AS mengalami kontraksi yang lebih besar dari perkiraan - menjadi penurunan bulan kedelapan berturut-turut - sedangkan sektor jasa justru mencatat ekspansi terbesar sejak Februari.
Di Kanada, Ivey PMI lebih rendah dari perkiraan namun masih menunjukkan ekspansi, sementara PMI manufaktur membaik meski masih menunjukkan kontraksi selama sembilan bulan berturut-turut.
Di Eropa, Bank of England mempertahankan suku bunga sesuai ekspektasi, dengan semakin banyak pejabat yang mendukung pelonggaran moneter karena inflasi tampaknya telah mencapai puncaknya dan pertumbuhan ekonomi tetap lemah. Data yang menunjukkan penurunan inflasi lebih lanjut dapat memperkuat alasan untuk pemangkasan suku bunga berikutnya.
Namun, PMI konstruksi Inggris masih mengalami kontraksi selama sepuluh bulan berturut-turut. Di Jerman, produksi industri rebound dari kontraksi bulan sebelumnya, meskipun hasilnya masih di bawah ekspektasi.
Di Asia, neraca perdagangan China relatif stabil dibanding bulan sebelumnya namun di bawah ekspektasi pasar karena ekspor secara tak terduga menurun meski impor juga melambat. PMI manufaktur juga di bawah perkiraan, meski masih menunjukkan ekspansi.
Sementara itu, pertumbuhan PDB Indonesia kuartal III tercatat lebih kuat dari perkiraan namun melambat dibanding kuartal sebelumnya, dengan pemerintah tetap mempertahankan target pertumbuhan 5,2% tahun ini. "Inflasi terus meningkat secara bertahap dan mencapai level tertinggi sejak April 2024, tetapi masih berada dalam kisaran target bank sentral," tulis Ashmore.
Kekhawatiran Fiskal AS
Pekan ini, Ashmore menyoroti   shutdown   pemerintah AS yang mencetak rekor terlama dalam sejarah dan belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Ketegangan antara Partai Republik dan Demokrat mulai berdampak pada kehidupan sehari-hari warga, termasuk rencana pengurangan jumlah penerbangan domestik untuk mengurangi beban akibat   shutdown  .
Semakin lama penutupan ini berlangsung, semakin besar pula dampak ekonominya, dengan estimasi kerugian sekitar USD15 miliar per minggu. Di pasar modal, investor saham AS tampak belum terlalu terganggu, meski indeks saham terkoreksi akibat kekhawatiran valuasi saham AI yang terlalu mahal.
Ashmore juga melihat bahwa kekhawatiran terhadap kondisi fiskal AS kembali meningkat, mendorong imbal hasil US Treasury (UST) 10 tahun naik ke sekitar 4,1%. Hal ini dipicu oleh prospek peningkatan penerbitan obligasi pemerintah AS tahun depan dan ketidakpastian hukum terkait tarif impor era Trump di Mahkamah Agung. "Risiko penurunan penerimaan negara dapat memperlebar defisit fiskal," ungkap Ashmore.
Meskipun data ekonomi belum menunjukkan pelemahan tajam, prospek penurunan suku bunga The Fed menjadi lebih hati-hati. Ashmore memperkirakan, keputusan The Fed pada Desember kemungkinan besar tetap berupa pemangkasan suku bunga, meski minimnya data resmi membuat arah kebijakan ke depan lebih tidak pasti.
Sejalan dengan tren UST, yield obligasi pemerintah Indonesia (IndoGB) 10 tahun juga terkoreksi ke sekitar 6,18% setelah reli tajam pada paruh pertama Oktober. "Hal ini sebagian disebabkan oleh keputusan tak terduga Bank Indonesia (BI) untuk menahan suku bunga, berbeda dari ekspektasi pasar yang mengharapkan penurunan berkelanjutan," sebut Ashmore.
Namun, menurut Ashmore, Indonesia tetap menunjukkan disiplin fiskal, dengan Kementerian Keuangan berkomitmen menjaga defisit di bawah 3%. Gubernur BI Perry Warjiyo juga menegaskan masih ada ruang untuk pelonggaran moneter lebih lanjut. "Inflasi meningkat secara bertahap namun tetap dalam target bank sentral, sementara pertumbuhan PDB kuartal III 2025 lebih tinggi dari perkiraan, terutama didorong oleh belanja pemerintah," imbuh Ashmore.
Dari sisi korporasi, Ashmore berpendapat, laporan laba kuartal III 2025 menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah penurunan pada kuartal sebelumnya. Meskipun banyak perusahaan melaporkan hasil di bawah ekspektasi, revisi penurunan laba tidak sedalam kuartal II, menunjukkan ketahanan yang lebih baik.
"Kami tetap optimistis terhadap sektor-sektor pilihan di pasar saham Indonesia, terutama sektor konsumer yang diuntungkan stimulus pemerintah. Untuk pasar obligasi, tren penurunan yield diperkirakan berlanjut seiring siklus pelonggaran moneter global dan domestik, dengan peluang di tenor menengah-panjang karena kurva imbal hasil terus   bull-flatten   ," papar Ashmore .
Meskipun prospek masih positif, Ashmore menilai risiko global seperti ketegangan geopolitik dan perubahan arah kebijakan The Fed perlu terus dipantau. Secara keseluruhan, investor disarankan tetap mengambil posisi strategis di saham berkualitas dan obligasi pemerintah berdurasi panjang untuk memanfaatkan tren suku bunga yang menurun. (Ashmore)


Sumber : Admin

berita terbaru
Saturday, Dec 06, 2025 - 16:20 WIB
Kepemilikan Saham 30 November 2025 MPIX
Saturday, Dec 06, 2025 - 16:09 WIB
Kepemilikan Saham 28 November 2025 BINO
Saturday, Dec 06, 2025 - 16:02 WIB
Kepemilikan Saham 30 November 2025 BANK
Saturday, Dec 06, 2025 - 13:59 WIB
Kepemilikan Saham 30 November 2025 IPCM
Saturday, Dec 06, 2025 - 13:52 WIB
Kepemilikan Saham 30 November 2025 BSML
Saturday, Dec 06, 2025 - 12:59 WIB
Kepemilikan Saham 30 November 2025 ALII
Saturday, Dec 06, 2025 - 11:12 WIB
Kepemilikan Saham 30 November 2025 MCOL
Saturday, Dec 06, 2025 - 11:05 WIB
Kepemilikan Saham 30 November 2025 ALDO