Market Eropa Tumbang Setelah Investor Hengkang Dari Saham Over Valuasi
Saturday, February 27, 2021       06:24 WIB

Ipotnews - Pasar saham Eropa jatuh pada ujung perdagangan akhir pekan ini setelah market saham global diguncang lonjakan yield obligasi secara tiba-tiba. Hal ini membuat para investor hengkang dari sektor saham yang secara valuasi sudah mahal.
Indeks acuan regional Eropa, STOXX 600 tergelincir 1,7 persen. Sektor basic industri tumbang 4,3 persen, menjadi lokomotif pelemahan. Seluruh sektor saham dan bursa utama di Eropa finis di teritori negatif. Indeks STOXX 600 turun 2,5 persen secara mingguan di pekan ini tetapi naik 2,2 persen di sepanjang bulan Februari.
Di pasar saham Jerman, Indeks DAX turun 0,67 persen ke 13.786. Indeks FTSE (nggris) turun 2,53 persen ke level 6.483 dan Indeks CAC (Perancis) melorot 1,40 persen pada posisi 5.703.
Bursa saham Wall Street bergerak secara liar. Saham-saham teknologi papan atas bergerak volatil. Para trader berjuang untuk menghilangkan kekhawatiran akan kenaikan suku bunga secara cepat.
Yield obligasi pemerintah USA tenor 10 tahun sempat melampaui level 1,6 persen pada hari Kamis pekan ini. Posisi ini adalah tertinggi dalam lebih dari 1 tahun terakhir. Lonjakan yield tersebut didorong ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan inflasi berkat sentimen program vaksinasi virus covid. Selain itu juga karena prospek stimulus fiskal USA dalam jumlah besar serta demand konsumen yang terpendam.
Pada perdagangan akhir pekan ini, yield obligasi pemerintah USA tenor 10 tahun terpantau sedikit melambat. Meski demikian, posisi yield tersebut masih tetap berada di atas level 1,5 persen.
"Kami melihat pergerakan baru-baru ini di pasar aset berisiko sebagai gangguan daripada perubahan arah baru yang berarti untuk pasar," kata Karen Ward, kepala strategi pasar di JPMorgan Asset Management.
Menurut dia, pasar saham dan obligasi menjadi tidak selaras pada minggu-minggu awal tahun ini yang dibarengi harga saham terkerek oleh pemulihan fiskal namun obligasi pemerintah tidak terlalu diperhatikan. "Mungkin investor obligasi terlalu percaya pada kesediaan bank sentral untuk campur tangan dan menjaga yield agar tetap rendah. Sekarang pasar obligasi mengejar apa yang pada dasarnya adalah prospek ekonomi yang lebih baik," tambahnya.
Yield surat utang Inggris juga menguat pada akhir pekan ini. Hal ini terjadi setelah Kepala Ekonomi Bank of England (Bank sentral Inggris), Andy Haldane mengatakan bahwa inflasi mungkin menjadi sulit untuk dijinakkan sehingga mendorong kebijakan yang lebih tegas.
Pasar saham Eropa mulai dibanjiri rilis kinerja laba emiten di antaranya oleh IAG, LafargeHolcim, BASF , Deutsche Telekom, Suez dan Engie. IAG membukukan penurunan rugi operasi sebesar USD9 miliar, terburuk sepanjang sejarah perusahaan tersebut. Karena pandemi corona melarang penerbangan di seluruh dunia pada sebagian besar tahun 2020. Namun harga saham IAG naik 3,1 persen.
"Orang bisa berargumen bahwa masa-masa terburuk bisa segera berakhir, terutama karena orang-orang mulai berpikir untuk memesan liburan lagi," kata Russ Mold, direktur investasi di platform pialang saham AJ Bell.
"IAG secara alami enggan mengeluarkan target pendapatan apa pun untuk tahun finansial baru, tetapi orang tidak dapat menahan perasaan bahwa ada alasan untuk optimis tentang akan lebih banyak pesawat di langit dalam waktu enam hingga sembilan bulan."
Dalam hal pergerakan harga saham individu, grup telekomunikasi Belgia, Proximus, merosot 11,4 persen. Koreksi tajam ini mengantarkan saham tersebut ke dasar Stoxx 600 setelah memproyeksikan laba inti yang lebih rendah pada tahun 2021. Di puncak indeks blue chip Eropa, Teleperformance (Prancis) naik 6,9% setelah JPMorgan menaikkan target harga emiten tersebut menyusul laporan pendapatan yang kuat pada Kamis.
(cnbc)

Sumber : admin