Ipotnews - Bursa saham Indonesia mengakhiri sdsi perdagangan pekan pertama Februari, Jumat (6/2) dengan mencatatkan kejatuhan IHSG 2,08% ke level 7.935, dan menjauh dari sesip penutupan pekan sebelumnya di posisi 8.330. Investor asing mencatat arus keluar ekuitas sebesar USD124 juta dalam sepekan terakhir.
Weekly Commentary , PT Ashmore Asset Management Indonesia mencatat beberepa poin yang mempengaruhi pergerakan pasar modal di dalam dan luar negeri antara lain;

Apa yang terjadi dalam sepekan terakhir?
Ashmore mencatat, sektor yang membukukan penurunan terburu sepanjang pekan terakhir adalah sektor Consumer Cyclicals dan Infrastruktur yang masing-masing rontok 14,53% dan 11,27%.
Kinerja terbaik pekan ini dicatat oleh Indeks Nikkei (+1,75%) dan US Treasuries (+0,37%). Sebaliknya, terjadi koreksi pada Bitcoin (-22,02%) dan harga gas alam (-5,06%).
Ashmore juga menyoroti rilis data lowongan kerja di AS pekan ini yang berada di bawah ekspektasi dan turun ke level terendah sejak September 2020. Penurunan terbesar berasal dari sektor jasa profesional dan bisnis. "Hal ini mengindikasikan melemahnya pasar tenaga kerja AS, seiring tren penurunan lowongan kerja sejak September," tulis Ashmore.
Sementara itu PMI jasa tercatat sedikit lebih kuat dari perkiraan, dan menjadi yang terkuat sejak Desember 2024. Di lain pihak, PMI manufaktur justru berekspansi di luar dugaan, meski kemungkinan dipengaruhi oleh pemesanan ulang pasca libur.
Di Eropa, Bank Sentral Eropa (ECB) mempertahankan suku bunga sesuai ekspektasi dengan fokus pada stabilitas. Inflasi tahunan utama berada di bawah target 2% dan mencapai level terendah sejak September 2024.
Sementara itu, Jerman mencatat surplus perdagangan yang melebar secara tak terduga karena pertumbuhan ekspor melampaui impor. Pertumbuhan penjualan ritel juga berlanjut dan meningkat sejak September.
Di sisi lain, Bank of England juga mempertahankan suku bunga dengan selisih suara yang tipis, di tengah pertimbangan antara tekanan inflasi dan risiko perlambatan ekonomi.
Sementara itu di Asia, rilis PMI manufaktur China sejalan dengan ekspektasi dengan ekspansi ringan dan menunjukkan tren kenaikan stabil sejak November. Namun, PMI jasa meningkat lebih tinggi dari perkiraan, didorong pertumbuhan bisnis baru.
"Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal IV tahun lalu yang lebih kuat dari perkiraan, ditopang konsumsi rumah tangga dan dukungan pemerintah, serta penurunan biaya pinjaman yang berlangsung bertahap," lanjut Ashmore.
Lebih Berhati-hati dalam Jangka Pendek
Ashmore melihat, pekan ini investor global terus membahas implikasi kemungkinan Kevin Warsh menjadi Ketua The Fed berikutnya, yang dipandang memiliki sikap lebih hawkish . Namun, peluang pemangkasan suku bunga masih terbuka seiring berlanjutnya tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja AS dan indikator lainnya.
Bitcoin juga mengalami koreksi signifikan pekan ini, yang dipercepat oleh aksi jual saham teknologi AS dan berdampak pada aset berisiko ber-beta tinggi seperti Bitcoin. Selain itu, likuidasi paksa dari posisi long dengan leverage semakin menekan harga, dengan level saat ini sekitar 47% di bawah puncaknya tahun lalu.
Pekan ini juga terlihat perkembangan dari otoritas Indonesia dengan doronga untuk melakukan reformasi menyeluruh di pasar modal. Poin-poin utama yang dibahas tetap konsisten, yakni meningkatkan kredibilitas dan daya tarik investasi pasar saham. "Meski sejumlah pimpinan baru telah ditunjuk, institusi-institusi terkait tetap berkomitmen pada pilar utama untuk memulihkan dan memperkuat kepercayaan investor global," sebut Ashmore.
Ashmore menggarisbawahi bahwa sejumlah inisiatif yang diusulkan antara lain menaikkan ketentuan minimum free float untuk IPO baru menjadi 15% dan peningkatan bertahap free float bagi emiten yang sudah tercatat. Selain itu, ada upaya untuk meningkatkan transparansi bagi pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1%, serta memperluas klasifikasi investor menjadi 27 jenis dari sebelumnya 9.
"Perkembangan di area ini terus dinamis dan mencerminkan sikap otoritas yang semakin serius dan proaktif. Pasar saham juga menunjukkan divergensi antara saham dengan fundamental kuat dan saham yang lebih spekulatif, yang mengalami koreksi lebih dalam," ungkap Ashmore.
Faktor kejutan pekan ini, menurut Ashmore, datang dari pengumuman Moody's terkait prospek peringkat kredit kedaulatan Indonesia. Intinya, meski peringkat tetap tidak berubah dan masih berada dalam kategori investment grade , Moody's menurunkan prospek dari stabil menjadi negatif.
Alasan utama perubahan prospek ini terkait berkurangnya prediktabilitas kebijakan serta risiko terhadap kesehatan fiskal. Kementerian Keuangan segera merespons dengan menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas inflasi, nilai tukar, dan pasar keuangan.
Sementara itu, S&P Global Ratings menyatakan bahwa memburuknya kondisi fiskal dapat menambah risiko terhadap peringkat kedaulatan, namun respons pemerintah untuk menjaga kepercayaan investor dapat meredam risiko tersebut.
"Pengumuman Moody's berdampak negatif secara langsung pada pasar saham dan obligasi Indonesia, dengan indeks saham utama turun 2% dan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik 11 basis poin menjadi 6,44%. Selain itu, rupiah melemah ke level 16.866 per dolar AS pada penutupan pasar," papar Ashmore.
Ashmore berpendapat, dalam kondisi saat ini, pasar saham diperkirakan tetap sensitif terhadap pemberitaan terkait reformasi pasar modal dan perkembangan makroekonomi. Investor terus mencermati bagaimana otoritas merespons isu-isu utama yang menjadi perhatian investor global.
Ashmore menilai, meski volatilitas diperkirakan bertahan dalam jangka pendek dan investor cenderung bersikap hati-hati, arah reformasi kini semakin terlihat dan berpotensi menjadi perubahan struktural yang positif dalam jangka panjang.
Ashmore merekomendasikan, untuk bersikap lebih defensif dalam jangka pendek, dengan fokus pada instrumen berkualitas tinggi berdurasi rendah seperti obligasi pemerintah dalam denominasi ADOUN, sambil menunggu titik masuk yang lebih jelas untuk meningkatkan risiko.
"Kami tetap selektif pada saham dan lebih menyukai perusahaan yang bersifat defensif di tengah pelemahan nilai tukar, dengan tetap menuntut fundamental yang solid dan prospek pertumbuhan yang kuat." (Ashmore)

Sumber : Admin