Minyak Jatuh ke Level Terendah Tiga Bulan, AS-Iran Teken Kesepakatan Damai
Tuesday, June 16, 2026       05:15 WIB
  • Harga minyak anjlok hampir 5% ke level terendah dalam tiga bulan.
  • Brent ditutup di USD83,17 per barel dan WTI di USD80,75 per barel.
  • Penurunan dipicu kesepakatan damai AS-Iran dan rencana pembukaan Selat Hormuz.

Ipotnews - Harga minyak merosot sekitar USD4 per barel ke level terendah dalam tiga bulan, Senin, setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Amerika dan Iran telah menandatangani nota kesepahaman yang bertujuan mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup anjlok USD4,16 atau 4,76 persen menjadi USD83,17 per barel, demikian laporan  Reuters,  di Houston, Senin (15/6) atau Selasa (16/6) pagi WIB.
Sementara, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), kehilangan USD4,13 atau 4,87 persen menjadi USD80,75 per barel.
Penurunan tersebut menghapus sebagian besar premi risiko geopolitik yang telah terakumulasi selama beberapa bulan terakhir. Baik Brent maupun WTI ditutup pada level terendah sejak 4 Maret.
Seorang pejabat Amerika mengatakan nota kesepahaman tersebut telah ditandatangani Presiden Trump, Wapres JD Vance, dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf. Upacara penandatanganan resmi dijadwalkan berlangsung di Jenewa, Swiss, pada Jumat.
Kantor berita semi-resmi Iran,  Mehr,  melaporkan bahwa rancangan kesepakatan mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu 30 hari di bawah pengaturan yang ditetapkan Iran.
Senior Vice President of Trading Bok Financial, Dennis Kissler, mengatakan aksi jual di pasar minyak dapat dibenarkan mengingat kemungkinan masuknya kembali pasokan minyak dalam jumlah besar ke pasar global.
Sentimen negatif terhadap harga minyak juga diperkuat oleh langkah Iran menurunkan harga jual resmi (official selling price/OSP) minyak mentah ringan untuk pembeli di Asia. National Iranian Oil Company menetapkan premi minyak ringan Iran untuk pengiriman Juli sebesar USD7,15 per barel di atas rata-rata harga Oman/Dubai, turun signifikan dibandingkan premi USD13 per barel pada bulan sebelumnya.
Citigroup pada Senin juga memangkas proyeksi rata-rata harga minyak Brent menjadi USD75 per barel untuk kuartal III-2026 dan USD70 per barel pada kuartal IV-2026. Revisi tersebut didasarkan pada ekspektasi bahwa arus perdagangan melalui Selat Hormuz akan kembali normal.
Selama lebih dari tiga bulan terakhir, penutupan Selat Hormuz telah menghilangkan jutaan barel pasokan minyak dan gas dari pasar global. Jalur perairan tersebut merupakan titik transit bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Meski demikian, pelaku pasar masih belum dapat memperkirakan seberapa cepat pasokan tersebut dapat kembali ke pasar setelah Selat Hormuz dibuka.
Head of Research Sparta Commodities, Neil Crosby, mengatakan proses memulihkan rantai pasokan kapal dan mengaktifkan kembali operasi di kawasan Teluk Arab tidak akan mudah. Selain itu, sebagian pemilik kapal diperkirakan masih bersikap hati-hati untuk kembali beroperasi di kawasan tersebut hingga terdapat kepastian dari perusahaan asuransi.
Investor juga terus mencermati seberapa cepat negara-negara produsen di Timur Tengah dapat memulihkan produksi dan ekspor minyak pasca kerusakan akibat perang serta apakah lebih banyak kapal akan kembali memasuki kawasan tersebut.
Berdasarkan laporan terbaru Badan Energi Internasional (IEA), lebih dari 14 juta barel per hari produksi minyak masih terhenti, setara sekitar 14 persen dari total permintaan minyak dunia. Sejumlah pejabat industri memperkirakan pemulihan penuh produksi dan kapasitas pengolahan ke level sebelum perang dapat memerlukan waktu beberapa pekan, bulan, bahkan bertahun-tahun.
Analis UBS Giovanni Staunovo menilai rendahnya tingkat persediaan minyak global, lambatnya proses pemulihan produksi, serta kebutuhan pengisian kembali cadangan strategis akan menjadi faktor yang menopang harga minyak dalam jangka panjang.
Data Badan Informasi Energi (EIA) Amerika Serikat menunjukkan persediaan minyak di negara-negara ekonomi terbesar dunia menuju level terendah setidaknya sejak 2003 akibat hilangnya pasokan dari kawasan Teluk dengan laju tercepat dalam sejarah.
Cadangan Minyak Strategis (Strategic Petroleum Reserve/SPR) Amerika juga turun menjadi 340,3 juta barel, level terendah sejak 1983. Data Departemen Energi AS menunjukkan stok di fasilitas darurat pemerintah berkurang 8,9 juta barel, menjadi penurunan terbesar ketiga yang pernah tercatat. Pengurangan itu merupakan bagian dari kesepakatan AS untuk melepaskan 172 juta barel minyak dari fasilitas tersebut.
Di tengah optimisme perdamaian, sejumlah risiko geopolitik masih membayangi pasar. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan militer negaranya akan tetap berada di zona keamanan di Lebanon, Suriah, dan Gaza tanpa batas waktu guna melindungi wilayah perbatasan dan permukiman Israel.
Selain itu, nasib program nuklir Iran masih menjadi isu yang belum terselesaikan dan akan dibahas dalam perundingan lanjutan. Kelompok negara E4 yang terdiri atas Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia menyatakan siap mencabut sanksi terhadap Iran sebagai respons atas langkah-langkah yang diambil Teheran terkait program nuklirnya. (Reuters/AI)

Sumber : Admin