Minyak Melemah Akibat Konflik Dagang, Tapi Sanksi Iran Ketatkan Pasokan
Friday, August 10, 2018       14:43 WIB

Ipotnews - Harga minyak melanjutkan pelemahan, Jumat petang, karena kekhawatiran meningkatnya perselisihan dagang antara Washington dan Beijing akan menghambat pertumbuhan ekonomi serta permintaan bahan bakar, bahkan ketika sanksi Amerika terhadap Iran diperkirakan memperketat pasokan.
Minyak mentah Brent, patokan internasional, berada di posisi USD71,88 per barel pada pukul 06.46 GMT, turun 19 sen, atau 0,3 persen dari penutupan terakhir, demikian laporan Reuters, di Singapura, Jumat (10/8).
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), menyusut 22 sen, atau sekitar 0,3 persen, menjadi USD66,59 per barel.
Harga melemah karena kemungkinan perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat meningkatnya ketegangan perdagangan.
Sepanjang pekan ini, Brent berada di jalur untuk jatuh hampir dua persen jatuh, sementara WTI menuju penurunan hampir tiga persen.
"Pasar tampaknya terfokus pada kekhawatiran berkurangnya permintaan dari China, sebagian karena dampak dari perang dagang antara China dan Amerika Serikat," kata William O'Loughlin, analis investasi di Rivkin Securities Australia.
Dalam putaran tarif terbaru, China mengatakan akan memberlakukan tarif tambahan sebesar 25 persen atas impor Amerika senilai USD16 miliar.
Meski minyak mentah dihapus dari daftar tersebut, digantikan produk olahan dan LPG, banyak analis mengatakan impor China terhadap minyak mentah Amerika akan turun signifikan.
Tumbuhnya ketegangan perdagangan global juga menyebabkan kejatuhan mata uang negara-negara berkembang utama seperti India, Turki dan China.
Devaluasi tersebut membuat impor minyak, yang diperdagangkan dalam dolar AS, menjadi lebih mahal, sehingga berpotensi mengurangi permintaan.
Penjualan mobil China anjlok 4,0 persen, Juli, dari tahun sebelumnya menjadi 1,89 juta kendaraan, menurut asosiasi industri, Jumat, di tengah meningkatnya kekhawatiran atas potensi sengketa perdagangan China-AS.
Sanksi Iran
Kendati prospek permintaan semakin suram, pasokan mungkin mengetat dengan penerapan kembali sanksi Amerika terhadap Iran, yang mulai November juga akan mencakup ekspor minyak.
Meski kekuatan lain, termasuk Uni Eropa, China dan India menentang sanksi tersebut, banyak pihak yang diperkirakan tunduk pada tekanan Amerika.
"Kami tidak percaya bahwa sanksi itu telah sepenuhnya diperhitungkan (price in) dalam Brent, meninggalkan ruang untuk kenaikan harga yang signifikan menjelang akhir tahun," ungkap BMI Research.
Analis memperkirakan penurunan ekspor minyak mentah Iran berkisar antara 500.000 barel per hari (bph) hingga 1,3 juta bph, dengan pembeli di Jepang, Korea Selatan dan India sudah menghitung ulang pesanannya.
Pengurangan tersebut akan tergantung pada apakah pembeli utama minyak Iran di Asia menerima keringanan sanksi yang masih memungkinkan dilakukan impor.
Juga tidak jelas apakah China, pembeli terbesar minyak mentah Iran, akan tunduk pada tekanan Washington. (ef)

Sumber : Admin